Dua Dekade Kulon Progo Melawan, dari Pasir Besi hingga Pasir Progo

3 Min Read
Two handwritten protest banners beside a road, criticizing local officials' integrity and permit handling, in a dry rural area.
Spanduk Penolakan Tambang Warga Tuksono, Kulon Progo. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Sabtu pagi, 26 September 2026, puluhan warga Padukuhan Karang, Tuksono, Kulon Progo, berjalan kaki 1,5 kilometer dari balai kalurahan menuju bantaran Sungai Progo.

Bukan mau mancing. Mereka mau mengusir bego. Gelombang penolakan terhadap aktivitas pertambangan pasir di bantaran Sungai Progo yang terus berlanjut.

Warga Tuksono menggelar aksi demonstrasi menuntut penghentian total operasional tambang.

“Izin tambang sudah keluar, tetapi sosialisasi kepada warga terdampak di radius terdekat sama sekali belum pernah dilakukan,” tegas Juru Bicara Aksi, Yuninanto, seperti dilansir dari Realita.com.

Ini bukan cerita baru. Kulon Progo sudah 20 tahun hidup dengan kata “tolak”. Sejak 2006, petani pesisir menolak PT Jogja Magasa Iron (JMI) yang akan mengeruk pasir besi seluas 2.977 hektare di 4 kecamatan dan 10 desa. Izinnya bahkan sampai 2048 dengan legalitas Sultan Ground dan Paku Alam Ground.

Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP) memperingati dua dekade perjuangan mempertahankan ruang hidup dari perampasan PT Jogja Magasa Iron pada April 2026.

Arak Gunungan Panen, Bukan Spanduk Tambang

“Kami sudah berupaya sekuat tenaga, tapi hasilnya nihil. Ketika kami ada masalah dengan hukum, hukum pun tidak bisa mengatasi. Karena yang punya rencana penambangan ini kan orang-orang besar,” ungkap Tukijo, perwakilan PPLP-KP.

Memang yang dilawan bukan cuma alat berat. Mereka melawan lupa. Begitu yang pernah diungkapkan juga ke KlikDinamika.com.

Tanah pesisir itu dulu tandus, gumuk pasir. Petani mengubahnya jadi ladang cabai, semangka, bawang yang hidup dari embun.

Mitos Hilang, Kali Progo adalah Urat Nadi

“Kalau dikeruk 14,5 meter,” kata perwakilan dari mereka. Bukan cuma tanaman hilang, tapi mitos pun hilang. Orang Kulon Progo percaya Kali Progo adalah urat nadi.

Di selatan, ada mitos Nyi Roro Kidul dan Kanjeng Ratu Kidul yang menjaga pasir besi. Di utara, Sungai Progo dijaga Eyang Progo. Kalau dikeruk serampangan, yang terjadi bukan cuma abrasi dan air keruh penuh TSS, tapi juga bendungan sosial yang jebol.

Peneliti UPN Veteran mencatat, warga menolak karena persepsi perusahaan mengambil dengan alat berat tanpa memperhatikan keberlanjutan tanah.

Sabtu kemarin di Tuksono, saat warga tiba, tambang sudah sepi. Tapi warga tetap orasi. Di Desa Sambeng, tetangga mereka, 355 bendera setengah tiang dikibarkan dengan tajuk “Sambeng Berduka”.

Bendera dibuat tiap KK, bukan dari partai. Kulon Progo tidak anti-pembangunan. Bandara YIA berdiri di atas lahan yang dulu mereka tolak juga, akhirnya mereka terima setelah terjadi dialog yang baik, saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Tapi untuk tambang, mereka konsisten: tanah ini harus dibela, sebagai hak hidup mereka, sebab tanah ini lahir dari keringat para petani. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar