Mabur.co – Yogyakarta tak hanya memikat lewat pesona wisata. Kota ini juga menyandang predikat sebagai Kota Batik Dunia, bukti pengakuan internasional atas kekayaan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Sejarah panjang tentang wilayah tersebut tentunya tak akan terpisah dari salah satu ciri khasnya, yakni batik.
Di tahun 2014, Dewan Kerajinan Dunia (World Crafts Council) menetapkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.
Penetapan tersebut bukanlah tanpa sebab dan pertimbangan. World Crafts Council menilai Yogyakarta memenuhi seluruh kriteria untuk dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia.
Kriteria itu mulai dari nilai sejarah, nilai keaslian, nilai pelestarian, nilai ekonomi, nilai ramah lingkungan, nilai global, hingga nilai keberlanjutan.
Yogya Kota Batik Dunia
Ketua Tim Pengelola Griya Batik, Tazbir Abdullah, menyampaikan, Yogya sudah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia sejak 2014 oleh World Crafts Council (WCC) setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat.
Sejumlah daerah seperti Solo, Pekalongan, dan Cirebon juga mengikuti penilaian, tetapi Yogya yang akhirnya ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia.
Menurutnya, Yogya dipilih karena memiliki tradisi batik yang masih terjaga. Selain sejarah dan filosofi yang kuat, batik di Yogya juga terus berkembang sebagai bagian dari aktivitas ekonomi dan telah memiliki pengakuan di tingkat internasional.
“Setelah Yogya ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia kita berusaha menjaga bahwa status Yogya Kota Batik Dunia itu tetap bisa dipertanggungjawabkan secara nasional maupun internasional,” ujarnya, saat diwawancarai via telepon, Selasa (29/9/2026).

Menurut Tazbir, batik memiliki posisi penting dalam budaya Yogyakarta karena menjadi warisan leluhur yang terus dilestarikan.
“Tradisi batik di Yogyakarta tidak terlepas dari sejarah keraton, yang mengenal sejumlah motif khusus dan pada masa tertentu hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan dan lainnya,” ucapnya.
Tugas Griya Batik Melestarikan Batik
Tazbir menyampaikan, salah satu tugas Griya Batik adalah melestarikan batik. Dalam upaya melestarikan batik, diperlukan ruang yang bisa menjadi tempat masyarakat melihat, mengenal, sekaligus mempelajari batik.
“Melalui Griya Batik ini kita bisa mengedukasi batik kepada masyarakat, juga bisa menjadi tempat wisatawan berkunjung. [Griya Batik] tidak berorientasi pada bisnis penjualan, tapi mempromosikan batik,” jelasnya.
Tazbir mengatakan, tantangan Griya Batik saat ini adalah tidak mendapat pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh karena itu, pengelola harus mencari dukungan melalui berbagai kerja sama.
Kunjungan ke Griya Batik sangat bergantung pada upaya promosi dan pengenalan kepada masyarakat. Pengelola akan memanfaatkan media sosial untuk memperluas informasi mengenai keberadaan Griya Batik, termasuk menggandeng anak muda dan influencer yang memiliki perhatian terhadap batik.
“Mereka diharapkan dapat ikut mempromosikan Griya Batik melalui media sosial. Selain itu, pengelola juga terbuka terhadap dukungan sponsor untuk kegiatan promosi,” ucapnya.
Menurut Tazbir pula, awalnya batik ada dari Puro Pakualaman dan batik keraton.
“Kemudian kita minta dari kabupaten/kota. Jadi dikurasi oleh Dekranasda masing-masing kabupaten/kota. Griya Batik ini harus menjadi milik bersama. Griya Batik juga ditujukan untuk wisatawan sebagai sarana edukasi agar mereka dapat mengenal batik keraton, mulai dari motif hingga filosofi.
Hal ini dinilai penting karena akses wisatawan untuk melihat batik keraton secara langsung di dalam keraton kini semakin terbatas. Dengan demikian, wisatawan yang berkunjung ke Yogya tidak hanya melihat batik, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan pemahaman mengenai sejarah serta makna di balik setiap motif batik. Tahun ini kami sudah mulai garap. Dari keraton, Tamansari, Griya Batik itu kan dekat sekali, jadi harus ada komunikasi dengan pelaku di industri pariwisata,” ucapnya.
Pentingnya Kurasi Batik yang Berkualitas
Menurut Tazbir lagi, nilai kurasi batik sangat penting, karena dalam rangka mempromosikan, eksibisi atau pun promo fashion agar publik mendapatkan informasi tentang produk batik yang berstandar dan berkualitas.
“Proses kurasi ini kami lakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, proses batik, dan quality control barang jadi. Kami harap kualitas batik dapat dinikmati hingga generasi mendatang,” ucapnya. ***
