Sendang Sinongko dan Batu Sajadah, Cikal Bakal Dusun Tangkil di Bantul

5 Min Read
Green wall with a doorway, a brick structure, and colorful triangular fabric flags strung along a line outside.
Sendang Sinongko di Dusun Tangkil, Desa Muntuk, Bantul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Wilayah Dlingo, Bantul, tak hanya kaya akan wisata alam. Di wilayah paling timur di Kabupaten Bantul ini juga kaya akan tempat bersejarah dan cerita rakyat.

Salah satunya di Dusun Tangkil, Desa Muntuk, Dlingo, Bantul. Di tempat ini ada sebuah sendang yang dipercaya sebagai cikal bakal Dusun Tangkil.

Kisah Sendang Sinongko

Ceritanya pun tak terlepas dengan kisah seorang sesepuh Kesultanan Mataram di era Amangkurat I. Selain sendang ada juga batu sajadah yang merupakan sebuah batu bersejarah. Erat kaitannya dengan cerita rakyat dan asal-usul terbentuknya permukiman di wilayah tersebut.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/merti-dusun-kenduri-ageng-warga-padukuhan-tangkil-tumbuhkan-kesadaran-pelestarian-tradisi/

Sesepuh Padukuhan Tangkil, Tukimin, menuturkan, Sendang Sinongko, begitu warga sekitar menyebutnya, berada sekitar 50 meter di sebelah timur Masjid Baitul Muttaqin, Tangkil.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/filosofi-sarang-anyaman-daun-kelapa-untuk-merti-dusun-kenduri-ageng/

Di tempat ini ada sebuah sendang yang airnya tidak pernah kering. Tepat di dekat sendang berdiri, menjulang tinggi pohon beringin yang tingginya sekitar 10 meter lebih. Sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai pemandian umum juga berada di situ.

“Berdasarkan cerita turun temurun, di dekat sendang ini adalah tempat tinggal Ki Onggowongso yang merupakan punggawa kenamaan di era Kesultanan Mataram. Dia adalah pejabat yang tegas, berani, dan amanah. Lantaran ketegasan, keberanian dan kejujurannya ini, dia menjadi pejabat yang disegani dan banyak pengikut.

Sayangnya pada saat itu suasana kerajaan sedang tidak kondusif. Amangkurat I dianggap memimpin dengan otoriter. Banyak pejabat dan sesepuh kesultanan yang dianggap melakukan kesalahan langsung dipidana,” ucapnya, Selasa (29/9/2026).

Massive tree roots spread across the ground among several large rocks in an outdoor area.
Batu Sajadah di Dusun Tangkil, Desa Muntuk, Bantul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Tukimin, sanksi juga diberikan kepada Putra Dalem, Tejaningrat. Penyebabnya lantaran Tejaningrat suka dengan Roro Hoyi yang tak lain adalah sengkerane (pingitan) ayahnya atau Amangkurat I.

Melihat suasana kerajaan yang tidak kondusif, Ki Onggowongso secara diam-diam memutuskan meninggalkan keraton yang berada di Pleret, Bantul. 

Kepergian Ki Onggowongso ini diikuti oleh keluarganya dan pengikutnya. Mereka menuju ke arah timur dan sampai di sebuah daerah yang banyak pohon bambu. Di tempat ini mereka kemudian mendirikan permukiman.

Ki Onggowongso membuat rumah di dekat sebuah sendang yang kemudian dikenal dengan Sendang Sinongko.

Sebagai pemeluk agama Islam yang taat Ki Onggowongso juga membuat tempat untuk salat, yakni sebuah batu berbentuk empat persegi panjang. 

“Batu ini hanya muat untuk dua orang. Warga di sini menyebutnya Batu Sajadah. Letaknya di dekat sendang. Mungkin sengaja agar dekat mengambil air wudu,” terangnya.

Tukimin menjelaskan, kondisi Dusun Tangkil yang gersang dan hanya ditumbuhi banyak pohon bambu membuat Ki Onggowongso berpikir keras supaya bambu-bambu itu bisa menghasilkan.

Akhirnya Ki Onggowongso membuat berbagai anyaman bambu. Anyaman bambu ini kemudian dibawa ke kota, pusat kerajaan di Pleret.

“Dengan menyamar sebagai rakyat jelata, sesepuh keraton ini menukarkan anyaman bambu hasil kreasinya dengan berbagai kebutuhan untuk memenuhi hidup,” katanya.

Sentra Kerajinan Bambu

Keahlian Ki Onggowongso ini, menurut Tukimin, kemudian ditularkan kepada warga sekitar.

“Inilah yang menjadi cikal bakal Dusun Tangkil. Menjadi sentra kerajinan bambu. Hampir seluruh warga di sini mata pencahariannya sebagai perajin bambu,” terangnya.

Menurut Tukimin pula, kalau Ki Onggowongso ahli dalam membuat kerajinan bambu, maka istrinya Nyi Onggowongso juga seorang ahli memasak.

Asal Muasal Sayur Rebung

Saat itu melihat di sekeliling hanya ada pohon bambu, dia pun memutar otak. Bagaimana pohon bambu tersebut bisa menjadi makanan lezat.

“Pohon bambu muda diolah menjadi masakan lezat. Ini asal muasal sayur rebung yang sampai saat ini masih menjadi menu favorit warga di sini,” ujar mantan Kepala Desa Muntuk ini. 

Tukimin menuturkan, selain warga setempat, banyak warga luar daerah yang khusus datang ke Sendang Sinongko. Mereka datang pada malam-malam tertentu.

“Di sini mereka mengheningkan cipta ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Banyak di antara mereka yang punya hajat tertentu. Seperti ingin dagangannya laris dan lain sebagainya,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar