Mabur.co – Dalam sebuah wadah anyaman daun kelapa yang lazim disebut sarang, warga Padukuhan Tangkil, Kapanewon Dlingo, Bantul, menempatkan nasi kenduri sembari diiringi doa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak kurang dari 3.900 sarang disiapkan dalam momen merti dusun yang digelar pada Selasa (29/9/2026) di Lapangan Duta Arena.
Jumlah tersebut menjadi gambaran besarnya partisipasi masyarakat dalam merawat tradisi sekaligus menjaga kebersamaan.
Disiapkan Swadaya
Seluruh sarang disiapkan secara swadaya, menjadikan kenduri akbar tersebut bukan hanya sebagai bagian dari ritual budaya, tetapi juga wujud semangat golong gilig masyarakat Tangkil.
Sesepuh Padukuhan Tangkil, Tukimin menjelaskan, tradisi merti dusun ini sudah ada sejak zaman dulu, abad ke-16. Dipilihnya sarang karena terbuat dari bahan alami yang diambil dari kebun warga karena bahan-bahan ini sangat mudah dicari.
“Sarang memiliki filosofi, terutama orang Jawa, bahwa pohon kelapa semuanya bisa dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari pelepah atau pun pohonnya, semuanya bisa dimanfaatkan.
“Kelapa ini merupakan warisan tanaman nenek moyang dulu, yang di era sekarang bisa diambil buahnya,” ucapnya, Selasa (29/9/2026).

Filosofi Kelapa
Menurut Tukimin, kelapa mempunyai cerita. Dulu ada yang bernama Qabil, membantah pada orang tuanya terkait perkawinan silang yang dia tidak inginkan. Karena Kanjeng Nabi Adam anaknya kembar semua, tentu saja satu kembaran tidak boleh menjadi istri atau pun menjadi suami.
Qabil pun tidak mau karena kembarannya cantik, yang lain buruk. Dia pun berusaha membunuh adiknya.
“Usai meninggal dia tidak bisa caranya menimbun mayat. Akhirnya dia tahu cara menimbun yakni direndam di tanah terus dia ikut terpendam. Usai terpendam tumbuhlah kelapa,” katanya.
Tukimin mengisahkan dengan kesalahan Qabil, Kanjeng Nabi Adam berbicara.
“Besok buahmu akan diseset-seset, akan dikepruk-kepruk, terus isinya akan diparut-parut, terus akan diambil minyaknya untuk dimakan seluruh makhluk, maka masyarakat sini kalau mempunyai acara harus mengambil salah satu kelapa. Entah itu kelapanya atau pelepahnya,” ucapnya.
Merti Dusun Ajang Mawas Diri
Menurut Tukimin, terkait dengan merti dusun, merupakan tradisi warga. Setelah panen atau pun berusaha satu tahun. Setelah berhasil bersyukur dengan introspeksi, mawas diri, secara pribadi maupun mawas diri secara umum.
Mencari kelemahan-kelemahan yang akan dibenahi untuk tahun yang akan datang. Dibenahi kekurangannya, solusi untuk hal-hal yang kemarin menjadi kendala.
Lalu bersama-sama para perajin, membicarakan solusi, misalnya tentang kekurangan bahan baku, bisa teratasi di dalam acara merti dusun.
Kenduri memang merupakan tradisi bersyukur secara lahir terhadap Allah. Oleh sebab itu isi kenduri adalah hasil tanam-tanaman di bumi.
“Tanaman dari bumi ini adalah atas kekuasaan Allah yang diberikan pada kita. Sebagai orang Jawa wajib bersyukur dengan memberikan kepada saudara-saudara yang ada di mana-mana.
Istilahnya bagi-bagi rezeki kepada tetangga, kepada saudara yang tua, itu sebagai lantaran untuk syukur kepada Allah. Tapi karena kita itu hidup berdampingan, hubungan manusia dengan manusia, kita bisa nyambung dengan memberikan makanan seperti ini, dengan kenduri ini bisa makan kembul bersama seluruh warga seperti ini.
Kalau tidak ada kenduri seperti ini, jarang akan makan bersama, terus minum-minum bersama, makan nasi bersama jarang, bisa menjadi kendala komunikasi. Acara seperti ini merupakan cara berkomunikasi yang baik secara batin maupun lahir yang oleh masyarakat dinilai sangat masuk di dalam hati,” katanya. ***
