Batik Kreasi Agung Suhartanto Pertahankan Teknik Tutup Celup Khas Batik Klasik, Jaga Kualitas Kelas Dunia

2 Min Read
Menyambut Hari Batik Nasional, seniman asal Yogyakarta, Agung Suhartanto, menampilkan seratus karya yang merupakan manifestasi perkembangan batik sebagai medium seni rupa dalam pameran tunggal bertajuk “MENEROKA: Perjalanan Elemen Nusantara”. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Tak lama lagi pada 2 Oktober 2026 akan tiba Hari Batik Nasional. Menyambut Hari Batik Nasional, seniman asal Yogyakarta, Agung Suhartanto, menampilkan seratus karya yang memanifestasi perkembangan batik sebagai medium seni rupa dalam pameran tunggal bertajuk “MENEROKA: Perjalanan Elemen Nusantara”.

MENEROKA merupakan perjalanan eksplorasi estetika selama 10 tahun yang memuat ragam elemen Nusantara mulai dari budaya, tradisi, sejarah, lingkungan, flora, fauna hingga kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Pameran tersebut berlangsung 27 September hingga 2 Oktober 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Kota Yogyakarta.

Menghadirkan Ornamen dan Memori Budaya

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Agung menjelaskan, melalui karya-karyanya, ia menghadirkan kembali ornamen, isen-isen, memori budaya, serta berbagai pesan yang menurutnya penting dikenalkan kepada generasi muda.

Goresan indah dalam kanvas yang menggambarkan perjalanan batik ini tidak hanya cantik tetapi juga menarik sejumlah pengunjung, seperti Wulan dan Anis.

“Batik tidak hanya sekadar goresan dalam kain, tetapi merupakan sebuah proses untuk menampilkan suatu keindahan,” ucap Wulan, Rabu (30/9/2026).

Pertahankan Teknik Tutup Celup Khas Batik Klasik

Di sisi lain, menurut Agung, karya-karya tersebut menggunakan teknik tutup celup khas batik klasik, bukan sekadar coletan biasa, untuk menjaga kualitas kelas dunia.

Hal itu untuk mengadaptasi bentuk dan karakter yang dekat dengan anak muda (seperti Doraemon atau Spider-Man) serta dipadukan dengan warna-warna baru agar batik tidak dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

“Saya menyisipkan motif-motif batik klasik serta motif khas daerah lain (seperti Kalimantan dan Papua) untuk membangun memori kolektif. Mempertahankan identitas kebudayaan dengan memasukkan isen-isen dan ornamen tradisional ke dalam memori bawah sadar generasi muda agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas budayanya,” ucapnya.

Pameran Batik Terbesar

Sedangkan salah satu pengunjung, Devi, mengatakan, acara ini sangat positif dan menilai bahwa pameran ini merupakan pameran batik terbesar yang pernah dilihat.

Produk yang dipamerkan adalah batik tulis murni asli (bukan batik cap, printing, atau tiruan) yang dibuat menggunakan canting dengan proses pembuatan yang lebih panjang.

“Saya menyukai detail lukisan dan pewarnaannya, khususnya teknik gambar di dalam gambar pada motif batiknya,” tandasnya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar