Di Sulawesi Barat, batik tidak lahir dari canting. Ia lahir dari alat tenun. Kalau Jawa punya malam, Mandar punya sutra. Itulah yang bikin wastra Sulbar beda.
Media Pelakita.id yang mampir ke Menara Batik di Mamuju mencatat pemiliknya, Ratna, Mutu Manikam bilang, “Kami jual dari pakaian, batik umum hingga batik bermotif Sulbar. Iya Kak, selain menjual batik motif biasa, kami juga berkreasi untuk membuat motif khas Mandar, seperti motif perahu Sandeq atau ikan terbang”.
Itu jenis pertama: Batik Mandar Kreasi. Lahir di toko-toko seperti di Jalan Sultan Hasanuddin No. 108 Mamuju, menggabungkan teknik batik cap/tulis dengan ikon bahari.
Perahu Sandeq yang berarti runcing dan disebut salah satu perahu layar tercepat di dunia, 20-30 knot, jadi motif utamanya. Dulu perahu itu dipakai berdagang sampai Malaka dan Papua.
Jenis kedua yang lebih tua adalah Lipa Saqbe Mandar atau Sarung Sutra Mandar. Ini bukan batik sebenarnya, tapi di katalog Kemenparekraf sering disebut Batik Mandar karena sudah dicap sebagai wastra ikonik.
Media Sandeq.co.id pernah meliput ketika Ketua KPU RI pakai baju batik khas Mandar di acara KPU Sulbar. Pekerja budaya, M. Ridwan Alimuddin, menjelaskan, yang dipakai itu motif Sure Salaka.
Penggunaan Batik Mandar Bantu UMKM
Akademisi Unsulbar, Dr. Wahyu Maulid Adha, mengapresiasi, “Penggunaan batik Mandar tentunya dapat membantu pengembangan pelaku usaha UMKM, menambah tingkat pendapatan para penenun lokal”.
Lipa Saqbe punya dua pakem: Sureq dan Bunga. Sureq Maraqdia itu corak raja, Sureq Pangulu corak penghulu, Sureq Batu Dadzima corak biji delima.
Dulu hanya bangsawan boleh pakai 4 kawari (perisai pinggang), orang biasa cuma 2. Sekarang semua boleh, asal mampu beli.
Batik Mistis Seperti Mantra yang Jadi Oleh-oleh
Jenis ketiga: Tenun Ikat Sekomandi dari Kalumpang, Mamuju. Ini yang paling mistis.
TribunJualBeli.com merangkum tiga tenunan Sulbar: Sekomandi, Sambu Mamasa, dan Sutra Mandar. Sekomandi diklaim punya pola tertua di dunia dengan teori Sah Hyun Kalanay, bahannya dari kulit kayu yang ditumbuk lalu dipintal.
Warnanya bukan sekadar warna, tapi mantra. Ada kepercayaan kalau motif Sekomandi dibawa merantau, roh leluhur ikut menjaga.
Pemerintah dan pariwisata kini mendorong ini jadi oleh-oleh. Di pusat oleh-oleh Sulbar di Jalan Tengku Cik Ditiro Mamuju, Batik Mandar dijajar dengan Jepa dan ikan kering.
Festival Sandeq pun jadi panggung, bukan cuma lomba perahu tapi juga fashion show batik. Sulbar tidak punya batik pakem keraton. Ia punya laut yang ditenun. ***
