Mabur.co – Jumat 2 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, pendopo Ndalem Prabukusuman tidak seperti biasanya.
Di rumah G.B.P.H. H. Prabukusumo, S.Psi yang akrab pula dipanggil Gusti Prabu, di dalam tembok keraton itu, puluhan orang duduk melingkar. Lampu gantung kristal tua menyala, cermin-cermin besar Jawa di dinding memantulkan wajah-wajah yang datang.
Baca Juga: https://mabur.co/budaya/doa-dan-haul-hb-ix-di-ndalem-prabukusuman-bukan-sekadar-ratapan/
Undangan yang disebar Komunitas Sabtu Paing dengan cap Jogja Menyapa menulis: Haul HB IX Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Tanggal itu bukan kebetulan. Dalam banyak catatan dan arsip mencatat Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat di Washington DC, Amerika Serikat, pada 2 Oktober 1988 di usia 76 tahun.
Gusti Prabu Kenakan Batik Parang
Haul ke-38 ini dimulai dengan sambutan tuan rumah Gusti Prabu berdiri di tengah, mengenakan batik parang, diapit ibu-ibu berkebaya di sebelah kiri, bapak-bapak berblangkon dan peci di kanan, depan dan belakang.
Di sebelah kanannya ada lukisan besar HB IX bersalaman dengan Soekarno. Hadirin duduk di kursi mendengarkan sambutan.
Suasana berlangsung khusyuk penuh hikmat, ditingkahi cuitan burung-burung milik Gusti Prabu di ndalem, dalam kurungan-kurungan yang digantung hampir di seluruh sudut ruangan, perkutut, puter, kenari sahut-menyahut seperti ikut mendoakan Haul HB IX.
Setelah Gusti Prabu menyampaikan sambutan atas nama keluarga, Heru Wahyu Kismoyo sebagai seorang akademisi, budayawan, sejarawan keraton dan mantan anggota DPRD DIY (masa bakti 2004–2008), tampil ke depan memaparkan biografi dan pemikiran HB IX serta kiprahnya di kancah politik dan kemasyarakatan.
Pemikiran HB IX Melampaui Batas Ruang dan Waktu
Heru mengungkapkan, pemikiran HB IX melampau batas ruang dan waktu hingga 100 tahun ke depan.
Sejauh ini, Heru memang dikenal sebagai sejarawan keraton dan juga sebagai pemerhati sejarah serta adat istiadat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Heru juga dikenal karena dedikasinya dalam menjaga serta menyuarakan kelestarian adat. Ia sering dijuluki oleh publik dan media sebagai “penjaga gawang keistimewaan DIY”.
Selebihnya, secara singkat pula, Heru menceritakan peran HB IX bukan hanya sebagai raja. Ia mematahkan politik pecah belah Jepang dengan menghapus Pepatih Dalem dan berkantor sendiri di Kepatihan, langkah yang tepat menghadapi Proklamasi.
“Lalu beliau menjadi Wakil Presiden RI kedua 1973-1978, Bapak Pramuka Indonesia, Ketua Kwarnas 1961-1974, dan Gubernur DIY yang mendorong status istimewa,” pungkas Heru.
Burung Bukan Semata Hiasan
Acara ditutup dengan doa bersama penuh khusyuk, ditingkahi suara cuitan burung-burung dalam sangkar di Ndalem Prabukusuman. Sebab di Jawa, burung bukan semata hiasan.
Orang Jawa percaya burung adalah penjaga sukma rumah, cuitannya menolak bala, mengantar doa naik ke langit. Pagi itu di Ndalem Prabukusuman, doa dan cuitan itu bertemu. ***
