Doa dan Haul HB IX di Ndalem Prabukusuman Bukan Sekadar Ratapan

4 Min Read
Poster Undangan Haul HB IX. (Foto: Komunitas Sabtu Paing)

Undangan berbentuk poster itu masuk mengetuk notifikasi pada sejumlah wa tokoh, teman dan sahabat serta grup wa Abdi Dalem: wajah muda Gusti Raden Mas Dorojatun berbeskap, kuluk tinggi, latar belakang Bangsal Kencono.

Tulisannya tegas: UNDANGAN HAUL HB IX Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Jumat 2 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB, di Ndalem Prabukusuman, rumah G.B.P.H. H. Prabukusumo, S.Psi. Logo di pojok: Komunitas Sabtu Paing dan Jogja Menyapa.

Bukan kebetulan tempatnya di sana. Ndalem Prabukusuman adalah kediaman GBPH Prabukusumo, putra HB IX dan adik kandung Sultan HB X.

Seperti dicatat Gudeg.net, keluarga ini tinggal di Ndalem Prabukusuman, yang terletak di sebelah barat Sasono Hinggil Dwi Abad, pojok barat laut Alun-alun Selatan Yogyakarta.

Sultan HB IX Lahir Sabtu Paing

Jika ditelusuri lebih jauh, kenapa Komunitas Sabtu Paing yang menjadi penyelenggara haul? Secara kebetulan dan sesuai bahwa HB IX sendiri kelahiran Sabtu Paing.

Jurnal Sejarah RINONTJE yang diterbitkan IPW mencatat: Sultan Hamengku Buwono IX atau Dorojatun lahir pada hari Sabtu Pahing tanggal 12 April 1912 atau menurut hitungan Jawa jatuh pada tanggal 25 Rabingulakir tahun Jimakir 1842 di Sompilan Ngasem.

Dokumen biografi dari UIN Sunan Ampel juga menulis hal sama, bahwa HB IX lahir di nDalem Pakuningratan kampung Sompilan, Ngasem, pada hari Sabtu Paing.

Dalam primbon Jawa, Sabtu Pahing adalah weton dengan neptu tertinggi: 18. Sabtu 9 + Pahing 9.

Portal Serat Jagad dan berbagai kajian primbon yang dikutip media TikTok mencatat pemiliknya dipercaya memiliki wibawa alami, mental kuat, dan aura kepemimpinan yang membuat orang segan. Ada yang menyebut di bawah naungan Lakuning Geni, laku api.

Mitos itu cocok dengan jalan hidupnya. HB IX bukan hanya raja. Ia Wakil Presiden RI 1973-1978, Menteri Pertahanan di awal kemerdekaan, dan seperti ditulis SMAN 1 Karangan.sch.id, ia ditetapkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia lewat SK Kwarnas Nomor 046 Tahun 2018, diperingati setiap 12 April sebagai HB IX Day.

Haul dalam Tradisi Jawa-Islam

Haul sendiri adalah tradisi Jawa-Islam: mengenang wafatnya tokoh pada 2 Oktober 1988 di Washington DC, misalnya.

Di keraton, haul bukan ratapan, tapi kirim doa dan ngalap berkah. Biasanya ada tahlil, pembacaan manaqib, dan sugengan berupa berkat.

Pengamat budaya UGM, Dr. Bayu Dardias yang dikutip Beritajogja.id dan BDArdias Staff UGM, pernah menjelaskan, trah HB IX adalah trah yang paling berpeluang secara genetis dan spiritual melanjutkan takhta karena memiliki wahyu kedhaton.

Jumat pagi nanti, di Ndalem Prabukusuman, doa itu akan dipanjatkan lagi. Bukan di keraton yang megah, tapi di ndalem putranya, rumah yang selama ini jadi tempat curhat warga, tempat wayang atau cerita tentang pramuka. Seperti pesan HB IX sendiri: takhta untuk rakyat.

Kontak panitia Adi Marz dan Tommy tercantum di poster. Mereka dari Komunitas Sabtu Paing. Komunitas ini juga kemungkinan orang-orang yang lahir di hari yang sama dengan sang Sultan, dan percaya bahwa dengan mengingat haul, api Sabtu Pahing itu tidak pernah padam. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar