Mabur.co – Di balik nama besarnya sebagai raja dan tokoh penting dalam sejarah Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX ternyata punya sisi lain yang tak banyak diketahui publik.
Sosok yang juga dikenal sebagai Wakil Presiden Indonesian ke-2 itu ternyata memiliki kecintaan terhadap dunia fotografi.
Sebelum menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta, Sultan HB IX yang memiliki nama muda GRM Dorodjatun bahkan aktif memotret berbagai hal yang ada di sekitarnya.
Sejumlah hasil jepretannya bahkan kemudian menjadi arsip visual yang merekam berbagai peristiwa penting dan kondisi lingkungan di Yogyakarta.
Keluarga Keraton Mulai Pakai Alat Fotografi
Dilansir dari situs resmi Keraton Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026), kecintaan HB IX pada dunia fotografi tak lepas dari perkembangan teknologi kamera foto yang mulai berkembang pada awal abad ke-20.
Saat itu, lingkungan keluarga keraton telah mulai memakai peralatan fotografi sebagai alat dokumentasi visual penting menggantikan lukisan dan sketsa.
Selain memanfaatkan fotografer profesional yang disewa, Keraton Yogyakarta juga mulai mendokumentasikan berbagai acara penting atau pun foto keluarga dengan fotografer sendiri yang berasal dari lingkungan keraton.
Dikutip dari Kumparan, Cucu Sri Sultan HB IX, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, pernah mengungkapkan bahwa awal kecintaan Sultan HB IX pada fotografi bermula saat ia diasuh oleh Keluarga Mulder.
Saat berusia 4 tahun, Dorodjatun dititipkan kepada keluarga Mulder yang merupakan kepala sekolah dasar Indonesia-Belanda, Neutrale Hollands Javaanse Jongens School di Gondokusuman.

Di sana ia dipanggil Henkie atau Henk Kecil yang kemudian digunakan sebagai nama panggilannya hingga saat berkuliah di Belanda.
Di sanalah pula ia pertama kali mengenal kamera yang kemudian melahirkan ketertarikan terhadap dunia fotografi.
Bagi HB IX, fotografi tak hanya sekadar alat untuk mengabadikan momen atau peristiwa tertentu, namun juga sarana untuk melihat dan merekam berbagai perubahan penting yang terjadi di sekitarnya.
Sultan HB IX disebut kerap memotret berbagai hal mulai dari pemandangan alam, peristiwa penting, hingga dokumentasi pribadinya saat melakukan lawatan kenegaraan.
Salah satu jejak kegemaran fotografi HB IX tersimpan dalam album pembangunan Masjid Syuhada di Yogyakarta.
Karya fotografi HB IX itu dibuat dalam bentuk album yang merekam proses pembangunan masjid pada 1951.
Selain itu dalam album fotografi yang dibuat pada 1969, HB IX juga tercatat merekam kondisi Gunung Merapi pasca-mengalami erupsi.
Pameran Loka Padha: Fotografi Arsip Hamengku Buwono IX
Sejumlah karya Sultan itu bahkan juga sempat ditampilkan dalam pameran “Loka Padha: Karya Fotografi dari Arsip Hamengku Buwono IX” pada 2023.
Kecintaan HB IX terhadap fotografi juga terlihat dari keberadaan kamera yang pernah menjadi bagian dari koleksinya.
Kamera kuno itu juga yang disimpan di Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX kompleks Keraton Yogyakarta.
Situs resmi Keraton Yogyakarta, bahkan menyebut kecintaan HB IX terhadap dunia fotografi juga menurun ke anak-anaknya, termasuk BRM Herjuno Derpito yang kelak menjadi Sri Sultan HB X.
Penerus HB IX ini bahkan disebut pernah menjadi tukang foto keliling saat masih berusia muda.
Kini kegemaran Sri Sultan HB IX terhadap dunia fotografi tidak hanya meninggalkan foto-foto dokumentasi pribadi keluarga besar Keraton Yogyakarta. Hasil jepretannya secara tidak langsung juga turut menyimpan potongan sejarah Kota Yogyakarta. ***
