Ya, di Mandar Sulawesi Barat, batik tidak lahir dari canting, “batik” lahir dari alat tenun. Tapi beberapa tahun terakhir, canting Jawa mampir juga ke Mandar. Di Jalan Sultan Hasanuddin No. 108 Mamuju, Menara Batik milik Ratna, Mutu Manikam, jadi etalase pertama perubahan itu.
“Di sini kami jual batik umum hingga batik bermotif Sulbar. Jadi, selain menjual batik motif biasa, kami juga berkreasi untuk membuat motif khas Mandar, seperti motif perahu Sandeq atau ikan terbang. Dari sinilah kami memulai Batik Tulis Mandar, kreasi baru, bukan wastra pakem,” paparnya pada media Pelakita.id, dikutip mabur.co, Sabtu (3/10/2026).
“Tekniknya Jawa: malam, canting, dan cap,” papar Ratna. Lebih jauh menurut Ratna, motifnya Mandar: Sandeq dan torani.
Pengaruh Jawa memang sudah lama masuk. Jurnal JPBD Busana & Desain Universitas Negeri Surabaya 2023 meneliti “Pembuatan Desain Batik Kombinasi Motif Khas Jawa dengan Ragam Hias Sulawesi Barat di Kekae Wastra Galery Nganjuk”.
Hasilnya motif kawung Jawa dipadukan burung maleo dan rumah panggung Mamuju, memberi kesan luxurious dan jadi inovasi baru tanpa kehilangan estetika.
Pengaruh Batik Pekalongan
Jalur migrasi pekerja batik Pekalongan ke Kalimantan dan Sulawesi pada 1970-an membawa teknik itu ke Mamuju.
Motif Sandeq yang dipilih bukan kebetulan. Triwikrama: Jurnal Multidisiplin Ilmu Sosial menyebut, Sandeq berarti runcing, perahu cadik tercepat di dunia 15-20 knot, mampu mengarungi 300 mil Mamuju-Makassar dalam Sandeq Race Agustus.
Budaya Indonesia juga mencatat, perahu itu dulu dipakai berdagang sampai Malaka dan Papua. Ikan terbang, atau torani, adalah sahabat Sandeq. Ikan yang terbang rendah di atas ombak, dipercaya nelayan sebagai penunjuk arah.

Meski akhirnya terjadi kekeliruan katalog pariwisata Indonesia yang sering disebut “Batik Mandar” di katalog Kemenparekraf sebenarnya bukan batik.
Pertama, Lipaq Saqbe. Tradisinuswantoro.my.id menjelaskan, lipaq berarti sarung, saqbe berarti sutra. Kain tenun sutra dengan benang emas-perak, dibuat 2-3 minggu hingga berbulan-bulan tanpa malam sama sekali.
IAIN Parepare mencatat ia bukan sekadar estetika tapi simbol strata: Sureq Maraqdia untuk raja, Sureq Pangulu untuk penghulu adat, Sureq Batu Dadzima bermotif biji delima.
Tenun Sekomandi Khas Kalumpang Diduga Berusia 500 Tahun
Kedua, Tenun Sekomandi dari Kalumpang. Validnews.id menulis usianya diperkirakan lebih dari 500 tahun, salah satu tenun tertua di dunia, sudah ditetapkan Warisan Budaya Takbenda 2015.
Kadis Poraparekraf Sulbar, Bau Akram Dai, menjelaskan Sekomandi sarat nilai sejarah dan identitas Kalumpang.
Bahannya bukan katun, tapi kulit kayu yang ditumbuk halus lalu dipintal, diwarnai dengan jahe, lengkuas, cabai, dan akar mengkudu. Polanya geometris perisai, orang-orangan, kepiting, disebut teori Sah Hyun Kalanay.
Ada mitos: Sulbarpedia.com mencatat, motif pertama Sekomandi bernama Ulu Karua atau Ba’ba Deata, terinspirasi anjing pemburu yang menggigit daun bermotif di gua. Jika dibawa merantau, roh leluhur ikut menjaga, seperti mantra.
Dr. Wahyu Maulid Adha dari Unsulbar, seperti dikutip media lokal, bilang: “Penggunaan batik Mandar tentunya dapat membantu pengembangan pelaku usaha UMKM, menambah pendapatan penenun lokal.”
Tapi penenun Renggeang di Polewali Mandar, seperti diliput Industrialnews.id, tetap menenun dengan gedogan manual.
Di Mamuju, batik tulis Mandar, Lipaq Saqbe, dan Sekomandi kini dijajar di pusat oleh-oleh Jalan Tengku Cik Ditiro.
Semua disebut batik, padahal dua di antaranya tidak pernah kenal canting. ***
