Mabur.co – Di tengah gempuran video Artificial Intelligence (AI) dan anime yang menyesaki layar kaca, seorang lelaki asal Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, justru punya cara tak biasa untuk mengenalkan kisah para Nabi dan sejarah Islam di seantero Nusantara.
Memanfaatkan media wayang yang ia namai Wayang Kekayon Khalifah, ia rutin berkeliling ke berbagai kampung, desa, sekolah hingga kampus untuk menggelar pertunjukan sekaligus berdakwah.
Baca Juga: Wayang Kekayon Khalifah, Saat Kisah Para Nabi Tersampaikan melalui Kelebat Kelir
Meski berbentuk pagelaran wayang kulit, tokoh yang ia mainkan dalam pertunjukan bukanlah sosok yang selama ini banyak dikisahkan seperti Arjuna, Gatotkaca, atau Rahwana. Melainkan Ja’far bin Abi Thalib, Bilal bin Rabah, hingga Umar bin Khattab.
Dialah Lutfianto atau biasa disapa Ki Lutfi Caritagama. Dalang sekaligus guru SMA ini sengaja menampilkan tokoh-tokoh sejarah Islam tersebut sebagai pemeran utama dalam pertunjukan Wayang Kekayon Khalifah kreasinya.
Tokoh-tokoh tersebut tidak ditampilkan dalam bentuk manusia seperti biasanya. Guru mapel bahasa Jawa di SMAN 1 Pajangan, Bantul, itu justru menggambarkan melalui bentuk kekayon atau gunungan dengan hiasan kaligrafi.
Baru-baru ini Lutfianto kembali menggelar pertunjukan wayang yang sangat unik tersebut di hadapan ratusan warga masyarakat di Desa Kebonharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo, Sabtu (3/10/2026) malam.
Dalam kegiatan Wayang Ngaji tersebut, Ki Lutfi Caritagama membawakan lakon “Ja’far bin Abi Thalib Duta”, kisah tentang Ja’far yang mendapat amanah dari Nabi Muhammad SAW menjadi utusan ke Habasyah.
Bagi Lutfianto, wayang bukan sekadar seni pertunjukan. Medium tersebut menjadi cara untuk mengenalkan sejarah dan keteladanan para sahabat Nabi melalui budaya yang sudah akrab dengan masyarakat Jawa.

Berawal dari Kongres Wayang
Gagasan Wayang Kekayon Khalifah yang diciptakan Lutfianto tidak muncul begitu saja. Ia pertama kali mendapatkan ide tersebut setelah mengikuti kongres wayang yang digelar di PKKH UGM dan Hotel Garuda Yogyakarta pada November 2013 silam.
Setelah mengikuti kegiatan tersebut, ia kemudian melakukan riset dan studi literatur mengenai wayang, sejarah Islam, serta kemungkinan mempertemukan keduanya.
Dari proses itulah kemudian lahir gagasan untuk membuat wayang dengan sumber cerita dari khazanah Islam. Cerita yang digunakan antara lain bersumber dari Sirah Nabawiyah, Tarikh Khulafa, kitab-kitab Islam serta babad di Nusantara.
Tokoh pertama yang ia visualisasikan adalah empat Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Namun, ia tidak menggambarkan mereka dalam bentuk fisik manusia karena hal itu dinilai bertentangan dengan prinsip Islam. Setiap tokoh justru digambarkan melalui wayang kekayon dengan kaligrafi dan simbol yang menggambarkan karakter atau perjalanan hidup setiap tokohnya.
“Prinsipnya Wayang Kekayon Khalifah itu ada tiga. Yakni tidak melanggar fikih Islam, indah atau estetis, serta mengandung ajakan kebaikan atau dakwah,” kata Lutfianto dalam wawancara yang dimuat Mojok.co.
Karena itu, bentuk wayangnya menjadi sangat berbeda dari wayang purwa.
Jika wayang kulit umumnya menampilkan figur manusia atau makhluk tertentu, Wayang Kekayon Khalifah menggunakan bentuk gunungan. Kaligrafi, ornamen, dan simbol menjadi bahasa visual untuk mengenalkan tokoh yang diceritakan.
Kembangkan Puluhan Tokoh Sejarah Islam
Kini setelah lebih dari satu dekade mengembangkan gagasannya, Lutfianto telah membuat sekitar 80 wayang. Namun, jumlah tokoh yang telah disiapkan untuk pementasan sekitar 60-an karena sebagian wayang belum selesai melalui proses penyunggingan dan penggapitan.
Proses membuatnya pun tidak sederhana. Ia melibatkan berbagai pihak mulai dari desainer, kaligrafer, penatah, penyungging hingga penggapit wayang.
Bahan yang digunakan untuk membuat wayang ini tak berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, yakni dari kulit sapi. Rata-rata biaya pembuatan satu wayang dapat mencapai sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, tergantung tingkat kerumitannya.
Lutfianto juga tidak berhenti pada pembuatan tokoh. Ia menyusun sendiri lakon atau cerita yang dimainkan dalam pertunjukan.
Beberapa di antaranya adalah Mulabukanipun Dakwah Rasul, Ja’far bin Abi Thalib Duta, Jumenenging Kanjeng Nabi ing Madinah, Brubuhan Badar Kubro, Ranjaban Habib bin Zaid dan Bedhahipun Konstantinopel.
Ada pula kisah sejumlah sahabat Nabi yang dikemas dalam bentuk geguritan, seperti Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Bilal bin Rabah, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, dan Mu’adz bin Jabal.

Dari Guru Bahasa Jawa menjadi Dalang
Ketertarikan Lutfianto terhadap pertemuan antara Islam dan budaya Jawa tidak lepas dari latar belakang pendidikannya.
Ia merupakan lulusan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada. Pendidikan kemudian dilanjutkan pada program Interdisciplinary Islamic Studies konsentrasi Islam Nusantara di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lutfianto juga menempuh pendidikan doktoral di UIN Sunan Kalijaga dengan konsentrasi Kependidikan Islam. Selain itu ia juga merupakan seorang guru bahasa Jawa di SMAN 1 Pajangan, Bantul, Yogyakarta.
Latar belakang pendidikan dan profesinya itulah yang kemudian memengaruhi cara Lutfianto mengembangkan Wayang Kekayon Khalifah. Ia tidak hanya melihat wayang sebagai kesenian, tetapi juga sebagai media pendidikan sekaligus dakwah.
Menurutnya, budaya Jawa yang sangat kuat di Yogyakarta dapat dimanfaatkan untuk membantu menyampaikan materi pendidikan Islam, terutama kisah-kisah inspiratif.
Pertunjukan Wayang Kontemporer Bernapas Islam
Dalam pementasannya, Lutfianto tetap menggunakan sejumlah unsur wayang tradisional seperti kelir, blencong, dan gedebog pisang.
Namun, pertunjukannya dibuat lebih sederhana. Tidak ada sinden atau pengrawit gamelan seperti pertunjukan wayang biasanya.
Iringan musik lebih mengandalkan keprakan dan dhodhogan, sementara cerita disampaikan melalui geguritan dan tembang macapat.
Format tersebut membuat pementasan Wayang Kekayon Khalifah tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga sarana untuk mengenalkan sejarah Islam.
Konsep itu telah dibawa Lutfianto ke berbagai tempat, mulai dari sekolah, kampus, masjid, komunitas, pameran hingga forum akademik.
Sebagai jenis wayang kontemporer baru, karyanya kerap menjadi objek penelitian sejumlah peneliti di sejumlah perguruan tinggi dan telah dikoleksi Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Meski begitu bagi Lutfianto, perjalanan mengembangkan wayang tersebut belum selesai. Hingga saat ini ia masih ingin menambah tokoh dan lakon, termasuk menghadirkan lebih banyak tokoh sahabat Nabi laki-laki maupun perempuan.
Melalui Wayang Kekayon Khalifah, Lutfianto berusaha menunjukkan bahwa budaya Jawa dan nilai-nilai Islam tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berseberangan.
Di tangannya, kisah para sahabat Nabi justru mendapatkan ruang baru untuk dikenalkan melalui salah satu warisan budaya yang paling lekat dengan masyarakat Jawa, yakni wayang.
Meski dianggap kuno dan tradisional, wayang dinilai lebih mampu menghidupkan imajinasi sebuah cerita dibanding beragam media lain yang lebih modern seperti kartun atau anime, hingga video AI.
