Mabur.co – Sagon adalah salah satu kue tradisional khas Kabupaten Gunungkidul yang berbahan dasar ketan, kelapa, dan gula.
Meskipun tampilannya sederhana, sagon menyimpan makna mendalam dalam budaya masyarakat. Kue ini kerap disajikan dalam berbagai acara besar seperti pernikahan, lamaran, syukuran, hingga pengajian.
Tidak hanya sekadar makanan, sagon dipercaya sebagai simbol penghormatan dan penghargaan kepada para tamu.
Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (9/10/2026), dalam kepercayaan lokal, makanan dari ketan termasuk sagon dianggap mewah dan bernilai sakral.
Simbol Kebersamaan
Ketan sendiri melambangkan kebersamaan dan keterikatan, sehingga sering hadir dalam momen-momen penting yang melibatkan keluarga besar.
Di daerah seperti Gunungkidul, sagon dipercaya membawa keberkahan dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Perayaan Rasulan
Oleh karena itu, ketika perayaan Rasulan tiba, kue ini termasuk kudapan yang wajib dikonsumsi. Rasulan adalah salah satu perayaan sakral tahunan yang dilakukan oleh setiap padukuhan di Desa Sumberejo, Kabupaten Gunungkidul.
Pada saat itu, masyarakat akan berkumpul di satu titik tertentu, misalnya balai dukuh, dan saling memakan sajian bersama yang salah satunya adalah kue sagon.
Namun, di balik nilai simbolisnya, sagon termasuk makanan yang tidak tahan lama karena tergolong kue basah.
Umumnya hanya tahan selama empat hari, setelah itu, rasa dan teksturnya akan berubah. Selain itu, bahan bakunya terbilang mahal dan proses pembuatannya cukup rumit, sehingga hanya sedikit orang yang benar-benar bisa membuat.
Proses Pembuatan Sagon
Pembuatan sagon dimulai dengan merendam beras ketan, lalu ditiriskan dan dihaluskan menjadi tepung. Kemudian, kelapa yang digunakan adalah kelapa tua atau setengah tua, diparut dan dicampur dengan tepung ketan.
Adonan ini lalu dicetak menggunakan cetakan dari besi baja. Proses uniknya adalah gula tidak langsung dicampurkan, adonan pertama tanpa gula dimasukkan ke cetakan, baru setelah itu lapisan yang dicampur gula ditambahkan.
Sagon bukan sekadar kudapan manis, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan nilai kekeluargaan dan penghormatan.
Oleh karena itu, harapannya generasi muda dapat melestarikan keberadaan kue sagon karena makanan ini bernilai budaya tinggi dan sarat akan makna.
