Mabur.co – Cita rasa itu soal ketekunan. Menjaga rasa agar tetap bertahan dan akrab di lidah pembeli, jelas memerlukan kecerdasan. Bagaimana kadar bumbu dan racikan, tak boleh berubah-ubah agar kenikmatan tetap sama dirasakan.
Berjualan soto lebih dari 30 tahun, nyaris tak banyak mengalami perubahan soal cita rasa adalah salah satu kecerdasan Bu Suprih. Jika orang menyebut pakar kuliner atau gastronomi, dia harus menjadi referensi. Pengelolaannya boleh jadi masih memakai manajemen tradisional, tetapi justru dengan itu, usahanya tetap berjalan dan diminati pembeli dan pencinta kuliner.
Terletak di tepi jalan sebelah timur Pasar Gamping Sleman, pojok selatan Jalan Wates, warung Bu Suprih semula hanya “adhang-adhang”, mengharap orang yang berbelanja ke pasar mau mampir. Tetapi tak ada yang sia-sia dari sebuah ketekunan. Etos kerja yang positif dijaga sejak 1993 itu membuka beragam kemungkinan, termasuk kehadiran para pelanggan. Dalam Ilmu Pariwisata, keberhasilan pelaku usaha menghadirkan kembali (repeat) adalah prestasi tersendiri. Pasti ada faktor yang menjadi pendorongnya, entah cita rasa, harga atau sekedar kenangan.

Dulu, kawasan depan Pasar Gamping di tepi Jalan Wates sering digunakan untuk mangkal bus-bus yang menuju arah Kulon Progo atau Purworejo. Mereka menanti penumpang yang datang atau naik bus pedesaan. Kesempatan itulah yang sering digunakan para penumpang di bus untuk menikmati soto Bu Suprih sambil menanti keberangkatan bus. Mereka tidak takut ketinggalan karena kernet sudah hapal ada penumpang yang sedang jajan soto. Jika bus akan berangkat, dia akan mencari dan memberi tahu penumpang. Kini? Entahlah, mungkin sudah ditinggal.
Beragam soto siap dihidangkan tiga pelayan perempuan yang setia menemani Bu Suprih. Tapi yang istimewa, bagi kami, adalah soto ayam. Kaldu yang kental, porsi yang cukup untuk orang dewasa setengah kuli, daging yang banyak, dan aroma rempah yang dahsyat. Kalau mau mencoba soto daging sapi, tidak akan mengecewakan. Soto babat? Weh, ini tak kalah memikat. Tetapi yang keren dari warung soto Bu Suprih adalah beragam jenis lauk. Mulai sate brutu sampai tempe goreng garit, dari tahu bacem sampai mendoan. Meja pun penih.
Buka jam 07.00 WIB di Gamping Tengah No.11, Gamping Tengah, Ambarketawang, Kepanewon Gamping, Kabupaten Sleman, kami datang pukul 08.00 WIB. Lima meja sudah penuh dengan pembeli sehingga kami rela berdiri menunggu sebentar. Setelah ada meja kosong, kami pun merangsek duduk. Secepat kilat pelayan menyajikan empat mangkuk soto lengkap minuman. Kami sudah siap dengan sepiring lauk. Jangan bayangkan pelayan restoran, ketiga pelayan Bu Suprih sangat ndeso tetapi lihai berbagi tugas.
![WhatsApp Image 2026-10-31 at 110508 - Mabur.co Group of women wearing hijabs seated around a table with bowls and drinks in a casual eatery; kitchen area visible in the back.”, “Women dining together in a crowded food stall, with shelves and cooking area in the background.”, “Indoor group meal with hijab-clad women at a long table of bowls and utensils in a busy restaurant.”, “People gathered for a meal in a modest dining space, with a kitchen area and supplies visible behind them.”]} } 注意: remove extra quotes? JSON syntax fine. Ensure proper. The array items have closing punctuation. Let's fix: all strings in quotes. Ensure spacing. Also the final has extra closing bracket. It's fine. Let's deliver. Wait there is stray closing quote in first string. It ends with ” but ASCII. I'll use standard ASCII quotes. Let's fix. I'll produce clean. Also the response format requires {](https://mabur.co/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2026-10-31-at-110508-1024x768.jpeg)
Mélér-mélér! Ini istilah khas orang Jawa untuk menyebut kekenyangan. Kalau tidak dihabiskan, sayang rasanya, tetapi kalau dimakan terus rasanya perut sudah penuh. Akhirnya, kami selingi dengan mengobrol bersama. Saking asyiknya, tidak terasa soto semangkuk penuh itu habis dengan sendirinya. Luarrr biasa.
Menjelang jam 10.00 WIB kami pamit. Hitung kacang. Kami berempat, sudah kenyang, puas, dan dapat beragam ide, ditotal hanya habis Rp 90.000. Tidak percaya rasanya, tetapi benar adanya. Begitulah, bagi orang Jawa untung dari sebuah usaha itu bukan sebuah prioritas. Bisa menjamu pembeli apalagi pelanggan adalah sebuah keberkahan. Dan adakah yang lebih mulia selain memiliki hidup yang penuh keberkahan?
Ah Bu Suprih. Darimu kami banyak belajar tentang hidup. Selama energi positif yang kita keluarkan maka Tuhan akan membalas dengan keberkahan dari jalan yang bahkan tak pernah kita perkirakan. Matur nuwun Ibu, berkah panjang yuswa, mugi tansah begja raharja. Aamiin.
