Sungai yang Lupa Dihargai, Nasib Batanghari

3 Min Read
Sungai Raksasa Batanghari. (Foto: tripadvisor)

Mabur.co – Sepanjang 800 kilometer. Itu bukan sungai, itu jalan raya yang lupa diaspal. Dari Gunung Rasan di Solok, Sumatra Barat, turun ke Jambi, belok ke Laut Cina Selatan di Muara Sabak.

Di Jambi ia membelah kota jadi dua, seberang kota dan pasar. Semua hidup di tepinya. Putri Selaras Pinang Masak, abad ke-14, ia hanyutkan sepasang angsa di hulu Batanghari. Di mana angsa berhenti, di situlah istana dibangun.

Angsa berhenti di Tanah Pilih, sekarang Kota Jambi. Makanya lambang Jambi Angso Duo. Tapi Batanghari juga tempat uji raja.

Mitos budaya Indonesia mencatat: dulu orang Jambi bikin sayembara raja harus tahan dibakar api, direndam tiga hari di sungai, digiling kilang besi.

Tak ada yang lulus, sampai mereka jemput raja dari India. Di perjalanan pulang lewat muara besar belum bernama, hari sudah petang.

Ditanya, “Muara apa ini?”

Raja baru jawab cepat, “Kepetangan Hari”. Lama-lama jadi Batang Hari.

Sekarang Ujiannya Pencemaran Lingkungan

Sekarang ujiannya lain, sampah, setrum, dan batu bara.

“Sehari-hari saya lihat di Sungai Batanghari ini banyak sampah plastik. Saya merasa prihatin dan meminta jangan ada lagi yang membuang sampah di sungai,” kata Fahmi, pengemudi ketek di Pasar Angso Duo, saat Jumat Curhat Polda Jambi, Februari 2023 silam, dikutip Jambi Post.

Fahmi tiap hari lihat sampah nyangkut di baling-baling. Nelayan Umar di sebelahnya tambah, banyak yang nyetrum ikan di anak sungai. 2025 benar terjadi.

Ditpolairud Polda Jambi tangkap dua warga Legok di Tahtul Yaman.

“Kami mengamankan dua pelaku beserta barang bukti berupa aki, alat setrum, dan kerugian ditaksir mencapai sekitar 58 juta rupiah,” kata KBO Ditpolairud AKBP Lukman, dikutip Jambi28.TV, 25 April 2025.

Cara ini merusak ekosistem perairan dan merugikan nelayan tradisional. Tapi Batanghari juga bikin kaget.

26 Desember 2024, Instagram @wargojambi viral: ikan pari raksasa 39 kg ditangkap nelayan Desa Olak, Muaro Bulian.

“Gacir! Ikan pari besar ketangkap nelayan di Sungai Batanghari. Asli Sungai Batanghari,” teriak warga di video.”

“Ikan pari asli Sunge Batanghari,” tulis caption.

Tempat Ribuan Biksu Belajar

Ikan laut kok naik sejauh 100 kilometer ke hulu? Peneliti bilang mungkin salinitas naik karena kemarau panjang atau habitat laut rusak.

Di situlah Batanghari seperti dalam novel Rupiah karya Martin Aleida tentang orang Jambi: “Sungai itu tidak pernah menolak apa pun yang dibuang padanya, tapi ia mengingat semuanya.

“2026 kekeruhannya 1.700 NTU,” kata Perumda Tirta Mayang, sampai distribusi air bersih dipotong 30 persen.

Padahal di abad ke-7, I-Tsing bilang airnya jernih tempat ribuan biksu belajar. Orang Jambi masih mandi di Batanghari. Masih berdoa.

Tapi lupa menjaga. Seperti Fahmi bilang: “Jangan buang sampah lagi.” Sederhana, tapi belum didengar sungai. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar