Mabur.co – Masyarakat Situbondo, Jawa Timur, punya tradisi unik memanggil hujan yang rutin dilakukan setiap tahunnya.
Tahun ini, tradisi yang disebut dengan Pojhian Hodo itu pun kembali digelar di puncak musim kemarau tepatnya pada 10 Oktober 2026 kemarin.
Tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia ini bisa ditemui di Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo.
Dalam tradisi ini, warga desa akan melakukan ritual di sejumlah lokasi berbeda yang dianggap sakral. Pembacaan doa-doa, syair atau mantra, hingga acara makan bersama, menjadi bagian penting dalam ritual ini.
Dilansir Malangtimes, Selasa (13/10/2026), rangkaian Pojhian Hodo akan dimulai dengan perjalanan dari rumah sesepuh desa menuju Gunung Sanuri atau Gua Mas Ali, yang merupakan makam leluhur masyarakat Pariopo.
Sesampainya di lokasi ini, warga akan mulai memanjatkan doa dan melantunkan syair pujian Hodo dengan iringan alat musik tradisional.
Dikutip dari Lontar Madura, pujian yang juga disebut Tembhang Pamojhi ini berisi kidung mantra kuno berbahasa Madura. Namun dengan latar kepercayaan Islam.
Setelah syair pujian dilantunkan, warga kemudian melakukan makan bersama menggunakan hidangan yang mereka bawa dari rumah. Terdiri dari nasi tumpeng dan aneka jajanan.
Setelah ritual di makam leluhur selesai, warga kemudian melanjutkan perjalanan menuju sumber mata air Secap-cap, yang berada di lereng atau kaki Gunung Sanuri.
Bagi warga tempat ini merupakan sumber mata air sakral yang telah berusia ratusan tahun. Dimana airnya akan terus mengalir sepanjang tahun meski terjadi kemarau panjang.
Di tempat inilah warga kembali melantunkan syair pujian dan memanjatkan doa secara bersama-sama dengan dipimpin tetua adat.
Dari sumber mata air, rombongan bergerak menuju tempat terakhir, yakni Batu Tomang. Lokasi ini ditandai tiga batu yang tersusun menyerupai tungku tradisional untuk memasak.
Bagi masyarakat setempat, tungku memiliki makna yang dekat dengan keberlangsungan hidup. Selama tungku masih digunakan, masyarakat memiliki bahan makanan yang dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di Batu Tomang, warga kembali berdoa, melantunkan syair pujian, dan makan bersama. Rangkaian perjalanan kemudian ditutup dengan kembali ke rumah ketua tradisi untuk berdoa dan menggelar syukuran.
Ketua Pelestari Tradisi Pojhian Hodo, Haji Muhammad Hariyono, mengatakan, tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Berlangsung Sejak 1800-an
Ia sendiri mengaku merupakan generasi ketujuh yang meneruskan tradisi Pojhian Hodo ini. Menurutnya berdasarkan cerita para sesepuh, Pojhian Hodo diperkirakan telah berlangsung sejak 1800-an.
“Kami hanya meneruskan saja agar keberadaan tradisi ini tidak hilang,” katanya dikutip dari Malangtimes.
Menurut Hariyono, pelaksanaan Pojhian Hodo rutin dilakukan setiap tahunnya. Yakni ditetapkan digelar setiap tanggal 10 Oktober. Masyarakat tetap menjalankan ritual tersebut meskipun dukungan anggaran dari pihak luar masih terbatas.
“Setiap tahun memang rutin dilaksanakan. Tanggal 10 bulan 10 ini sudah ditetapkan. Ada atau tidak ada dukungan pihak luar, masyarakat tetap melaksanakan secara swadaya,” ujarnya.
Pelaksana Ritual Hanya 17 Orang
Salah satu keunikan tradisi ini juga terletak pada jumlah peserta pelaksana ritual. Hanya 17 orang saja yang boleh menjadi pelaksana inti ritual.
Jumlah tersebut dipertahankan sesuai ketentuan adat yang diwariskan, dengan seluruh anggota berasal dari masyarakat Pariopo.
Selain bertujuan memohon hujan serta keselamatan, tradisi Pojhian Hodo juga mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat Pariopo dengan alam dan kepercayaan kepada Tuhan YME.
Dilansir dari buku Tabbhuwân: Seni Pertunjukan Masyarakat Madura di Tapal Kuda, karya Panakajaya Hidayatullah, sejarah tradisi Pojhian Hodo sendiri berkaitan dengan kisah Damar Wulan yang berkembang di tengah masyarakat.
Disebutkan dahulu kala, Damar Wulan tengah melakukan perjalanan usai diutus untuk memerangi Kadipaten Blambangan.
Dalam perjalanan kembali menuju Majapahit, rombongan Damar Wulan tiba di wilayah Pariopo yang kering dan tandus. Mereka kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan.
Damar Wulan kemudian bersemedi di sebuah gua untuk memohon petunjuk kepada Tuhan. Ia dikisahkan mendapat petunjuk untuk menyembelih kambing hitam dan menggelar ritual di sekitar Batu Tomang.
Setelah ritual dilaksanakan, hujan pun akhirnya turun dan rombongan tersebut selamat dari kekeringan. Kisah inilah yang kemudian dipercaya masyarakat sebagai asal-usul tradisi Pojhiân Hodo dan diikuti sampai sekarang.
Sebelum mengalami perubahan seperti saat ini, tradisi Pojhian Hodo dulunya dilakukan dengan sejumlah tahapan yang lebih kompleks. Ada beberapa rutual yang harus dilakukan sebelum acara inti dilaksanakan.
Di antaranya seperti bersemedi sepanjang malam di Gua Macan hingga berkurban dengan menyembelih kambing berwarna hitam. Daging hewan kurban ini kemudian menjadi bagian dari sesaji yang disiapkan bersama perlengkapan ritual lainnya.
Yang paling menarik dari tradisi ini adalah adanya akulturasi sejumlah budaya dan kepercayaan secara sekaligus yakni budaya Madura, warisan Majapahit, dan Islam.
Unsur Islam terlihat dalam doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT hingga penyebutan Nabi Adam dan Nabi Muhammad. Identitas Madura tampak dari penggunaan bahasa Madura, kidung, musik, tarian, dan perlengkapan adat.
Nama Hodo sendiri, menurut penjelasan dalam kajian tersebut, dikaitkan dengan ungkapan bahasa Madura do hodo yang berarti ‘di atas langit ada langit’.
Bagi masyarakat Pariopo, hujan dalam ritual ini bukan semata-mata air yang dibutuhkan untuk mengatasi kekeringan. Hujan juga menjadi simbol kesuburan dan kesejahteraan.
Tradisi tersebut sekaligus mengandung pesan tentang pentingnya menjaga alam, serta mempertahankan warisan budaya yang menghubungkan doa, kesenian, sejarah, dan penghormatan terhadap leluhur.
