Penanganan Karhutla, Kendala Bentang Alam Luas dan Periode El Nino yang Panjang

6 Min Read
Nighttime wildfire burning through dry vegetation with bright flames and rising smoke across a scorched landscape
Karhutla masih kepung wilayah Indonesia. (Foto: Antara)

Mabur.co –  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Selain kondisi cuaca kering, karakteristik lahan gambut, keterbatasan akses, hingga sulitnya menjangkau sumber air menjadi kendala dalam upaya pemadaman.

Peneliti Konservasi Hutan, Pusat Riset Ekologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayan Hadiyan, menjelaskan bahwa bentang alam hutan yang luas dan medan yang menantang membuat proses pemadaman tidak selalu mudah dilakukan.

Pengendalian Karhutla Lebih Lama

Tantangan tersebut semakin besar ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Api tidak hanya membakar permukaan lahan, tetapi juga dapat menjalar ke lapisan bawah tanah atau ground fire.

“Terlebih, sekarang kebakaran hutan dan lahan yang sporadis dalam waktu singkat, ditambah sifat karhutla pada gambut, yang kadang tidak hanya terjadi di permukaan, tapi juga pada beberapa meter kedalaman (ground fire). Sehingga teknis pengendalian menjadi lebih sulit dan lama,” katanya dilansir Liputan6.com, Rabu (14/10/2026).

Yayan menjelaskan, proses pemadaman membutuhkan persiapan matang, mulai dari menindaklanjuti deteksi titik panas (hotspot), menyiapkan personel, menjangkau lokasi kebakaran, hingga memastikan ketersediaan sumber air dan sumur bor yang berfungsi.

Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pengerahan personel. Petugas juga membutuhkan pengetahuan teknis agar pemadaman dapat dilakukan secara tepat sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Pada kebakaran berskala luas, kondisi alam selama musim kemarau turut menjadi tantangan. Operasi pemadaman melalui udara atau water bombing, misalnya, dapat terkendala asap tebal yang menghambat penerbangan,” ucapnya.

Periode El Nino Cukup Lama

Sementara itu, pakar bidang kebakaran hutan dan lahan, Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, S.Hut.,M.Sc., mengungkapkan, penyebab masih terjadinya karhutla di Indonesia adalah periode El Nino yang berlangsung cukup lama.

Ditambah lagi, curah hujan yang mendekati nol sehingga membuat kondisi bahan bakar, seperti lahan gambut, menjadi lebih rentan.

“Jadi memang curah hujannya minimum dan ini bukan di awal-awal musim. Artinya, semakin lama semakin masuk ke periode El Nino, curah hujannya mendekati nol, kondisi bahan bakar (gambut) itu menjadi lebih rentan”, ungkapnya, Rabu (14/10/2026).

Fiqri menjelaskan, kerentanan tersebut meningkat seiring berjalannya musim kemarau karena tidak adanya pasokan air yang cukup untuk menjaga kelembapan bahan bakar.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekeringan tidak secara langsung menjadi satu-satunya penyebab kebakaran.

Karhutla tetap membutuhkan sumber penyulutan atau ignition yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.

“Bukan gambutnya yang kemudian menyebabkan kebakaran. Kebakaran itu terjadi karena interaksi antara ekosistem dan juga sumber panas. Karhutla dapat terjadi di berbagai jenis ekosistem, baik gambut maupun non-gambut. Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik dan perilaku api ketika kebakaran berlangsung,” ungkapnya.

Fikri menjelaskan, pada ekosistem non-gambut, kebakaran umumnya terjadi di permukaan dan dapat menjalar hingga bagian tajuk tanaman.

Sementara itu, pada lahan gambut, api dapat membakar permukaan sekaligus lapisan di bawah tanah. Karakteristik ini membuat proses identifikasi dan pemadaman menjadi lebih kompleks karena sumber bara tidak selalu terlihat secara langsung.

“Kebakaran pada gambut itu berpotensi menyisakan bara di bawah permukaannya meskipun api yang terlihat dari permukaan telah berhasil dipadamkan. Apabila penyiraman air hanya menjangkau lapisan atas, bara di bagian bawah masih dapat bertahan dan memicu munculnya titik api kembali,” ucapnya.

Fiqri mengungkapkan, bahwa keberhasilan pemadaman perlu dilihat dari kedalaman dan lokasi kebakaran. Penyiraman yang tidak menjangkau bagian gambut yang terbakar berisiko membuat api kembali muncul atau merambat ke area lain.

“Gejala kebakaran di bawah permukaan itu, sebenarnya, dapat dikenali melalui kondisi vegetasi yang mengering, daun yang menggulung, serta munculnya asap meskipun tidak terlihat nyala api,” tuturnya.

Oleh karena itu, pemadaman perlu disertai identifikasi yang memadai untuk memastikan bahwa sumber bara benar-benar telah ditangani.

Fiqri mengungkapkan pula, Indonesia telah memiliki sejumlah sistem pemantauan titik api, di antaranya FIRMS, Sipongi, dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurutnya, kemampuan teknologi tersebut sudah cukup baik dalam menemukan titik api.

“Kemampuan deteksi titik api saat ini sudah cukup baik. Namun, data deteksi tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan tingkat keyakinan atau confidence level,” jelasnya.

Menurut Fikri, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan hujan sebagai solusi.

“Upaya pencegahan perlu dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan api dalam pengelolaan dan penyiapan lahan, khususnya di wilayah yang rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau,” tuturnya.

Kolaborasi Lintas Instansi

Menurut Fikri pula, penanganan kebakaran yang telah terjadi membutuhkan kolaborasi lintas instansi dan penentuan wilayah prioritas berdasarkan tingkat risiko.

Prioritas tersebut perlu mempertimbangkan dampak ekologis, kerugian ekonomi, serta konsekuensi sosial bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.

“Perlu upaya yang dilakukan tidak hanya dari satu instansi saja, tetapi juga dari berbagai instansi. Penanganannya dapat diarahkan ke wilayah-wilayah prioritas yang memang memiliki risiko tinggi,” tuturnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar