Pemandian Kuno Berusia 1200 Tahun, Tak Pernah Kering Meskipun Puncak Musim Kemarau

3 Min Read
Ancient stone ruin with rectangular limestone basins filled with green water, set in dry grassy landscape and scattered stones.
Kolam pemandian atau keputren di kompleks Situs Ratu Boko. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Pemandangan aneh dan tak biasa terlihat di sebuah kompleks pemandian kuno berusia 1200 tahun di wilayah perbukitan Prambanan, Sleman, Yogyakarta, pada puncak musim kemarau saat ini. 

Saat wilayah lain di sekitarnya mengalami kekeringan dan kesulitan air, tempat ini justru menunjukkan sesuatu yang berbeda bahkan bisa disebut anomali. 

Tak Pernah Kering

Bagaimana tidak, kompleks petirtaan kuno yang diperkirakan dibuat sekitar abad ke-8 ini tidak pernah mengering sepanjang tahun, meskipun menghadapi kondisi kekeringan dan cuaca panas ekstrem seperti saat ini. 

Kawasan petirtaan atau pemandian kuno itu berada di kompleks permukiman kuno peninggalan Kerajaan Medang atau Mataram Hindu, yang kini dikenal dengan Situs Keraton Ratu Boko.

Yang membuat lebih aneh, sejumlah kolam petirtaan itu nampak tetap teraliri air meski dibangun di kawasan puncak perbukitan tandus dengan ketinggian mencapai 200 meter MDPL.

Baca Juga: Situs Ratu Boko, Arsitektur Klasik Hunian Elit Kaum Bangsawan Jawa Kuno 1200 Tahun Silam

Meski ada beberapa kolam petirtaan nampak mengering, namun kolam-kolam utama yang berada di kompleks pemandian ini nampak masih digenangi air cukup tinggi. 

Pemandian kuno yang juga kerap disebut keputren ini berada di sisi tenggara kompleks Situs Ratu Boko, tepatnya di sisi timur dari reruntuhan bangunan bernama pendopo.

Dua Bagian Pemandian Kuno

Menempati area yang cukup luas, pemandian kuno ini terbagi menjadi dua bagian yakni sisi utara dan sisi selatan. Keduanya dipisahkan oleh pagar batu dan dihubungkan melalui sebuah gapura kecil.

Jika di bagian sisi selatan kolam berbentuk bulat, maka di bagian sisi utara, kolam pemandian nampak berbentuk kotak dengan ukuran bervariasi. 

Kolam petirtaan yang terletak tepat di depan gua, kawasan untuk meditasi bangsawan kuno. (Foto: JH Kusmargana)

Konservator Balai Pelestarian DIY, R. Wikanto Harimurti, menyebut, kolam-kolam ini merupakan bagian kompleks pemandian atau keputren dengan sistem tata air kuno era kerajaan Medang.

Kolam-kolam itu dibuat dengan cara mengeduk atau melubangi batu-batu keras yang merupakan struktur batuan utama penyusun bukit tempat kompleks Situs Ratu Boko ini berada. 

Kolam Tampung Air Hujan

Diduga kolam-kolam itu berfungsi sebagai tampung air hujan yang dulu digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari pemandian hingga penyucian dalam ritual keagamaan. 

Di kawasan Situs Ratu Boko sendiri setidaknya terdapat 4 titik kolam petirtaan. Hampir seluruhnya berada tak jauh dari kompleks struktur bangunan. 

Seperti kolam keputren di dekat bangunan pendopo, kolam di dekat bangunan tempat upacara pembakaran (sering disebut candi pembakaran), hingga kolam di dekat gua yang diperkirakan sebagai tempat meditasi.

Keberadaan pemandian maupun kolam-kolam tampung air di Situs Ratu Boko ini membuktikan kecerdasan leluhur dalam mengelola dan merancang sistem tata air kuno. 

Mereka tidak hanya sekadar membangun kawasan permukiman sebagai tempat tinggal raja maupun para bangsawan, namun juga memikirkan secara detail bagaimana mengelola kebutuhan air bagi setiap penduduknya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
1 Komentar