Mabur.co – Toko buku independen adalah bagian dari hubungan interaksi pelaku kreatif lintas praktik seni dan budaya di Yogyakarta hari ini.
Di ruang sosial ini gagasan dan informasi dipertukarkan —baik lewat teks literasi yang berpindah tangan maupun diskusi tongkrongan santai yang timbul di sekitarnya. Sejak era pasca-reformasi hingga kini, Yogyakarta punya sejarah panjang sebagai pusat geliat perbukuan independen.
Tatkala marketplace digital memperlancar transaksi ekonomi, toko fisik hadir sebagai ruang interaksi organik sekaligus menjadi ruang ekspresi yang tumbuh dari concern para penggeraknya.
Ragam Pengalaman Estetika Imersif
Hari ini toko buku indie di Yogyakarta menawarkan ragam pengalaman estetika imersif. Mereka menjadi etalase produk kreatif, ruang pamer seni, coffee shop, hingga warung ayam penyet.
Asisten Galeri EDSU House, Elang mengatakan, toko buku ini menawarkan suasana urban metropolitan yang kontras dengan toko-toko indie Yogya lainnya.
“Interiornya modern, clean look, dengan rak plat metal yang simpel tapi berkelas,” ucapnya, Minggu (25/10/2026).

Elang merasakan, sebuah galeri tidak bisa berdiri sendirian, dia harus ada temannya. Ada manajemen, ada orang yang menggerakkan, dan produk yang menarik.
Spesifikasi Buku Seni dan Budaya
Menurut Elang, untuk spesifik buku, karena berdampingan dengan galeri, maka buku yang spesifik adalah buku seni. Walau pun tidak menutup kemungkinan banyak buku lain dengan genre beragam.
“Cuma di sini yang spesifik buku seni dan budaya. Kami melakukan kegiatan juga sedikit. Itu kayak misalnya lagi pameran fotografi gitu, maka di rak yang paling tengah kami set up buku-buku foto semua,” ucapnya.
Bagi Elang, toko buku EDSU House yang didirikan pada 2025 sudah cukup maksimal tampil. Perancang dari toko buku ini tak lain adalah Wawan Dalbo, seorang arsitek, pecinta seni, sekaligus founder EDSU House.
“Ini (EDSU) semacam tempat bermain gagasan dan ide tentang seni dan literasi, walaupun semangatnya main-main tapi kalau eksekusi kita nggak pernah main-main,” ujarnya.
Elang menuturkan, di toko buku ini, pihaknya didatangi beberapa buku dari luar, buku desain, buku foto, buku tentang seni rupa.
1.000-an Buku
“Jumlah buku di sini ada sekitar 1.000-an, masih belum banyak banget. Karena space kami juga enggak sebesar toko buku lainnya,” ucapnya.
Menurut Elang, tingkat kunjungan bergantung dengan pameran karena buku yang dijual disesuaikan dengan tema yang sedang pameran di galeri.
“Kebanyakan mereka datang ke sini nyari yang sudah spesifik. Misalnya cari buku tentang seni rupa atau memang ada kebutuhan riset yang tidak dijual di toko buku lainnya. Pengunjung langsung mencari di sini,” ucapnya. ***
