Mengenal Gunung Tidar, Paku Pulau Jawa Pengabar Kematian

6 Min Read
Makam Eyang Ismoyo Jati atau Kyai Semar. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Gunung Tidar sejatinya adalah sebuah bukit dengan ketinggian 503 mdpl. Bukit ini dikenal pula sebagai “Pakuning Tanah Jawa” atau titik pusatnya (penyeimbang) pulau Jawa.

Bukit Tidar terletak di tengah kota Magelang. Tidar, berasal dari kata “mati dan modar”. Versi ini cukup dipercaya karena saking angkernya tempat ini setiap orang yang mendatangi tempat ini bisa saja mati atau modar.

Tugu Paku Jawa yang terdapat di puncak Gunung Tidar. (Foto: Istimewa)

Wisata Religi Gunung Tidar merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan pada hari biasa maupun pada saat liburan.

Pesona Keindahan

Destinasi wisata ini memiliki pesona keindahan dan dapat memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas sehari-hari sehingga sangat menarik untuk dikunjungi.

Pada zaman serba modern sekarang ini, ternyata ada generasi muda Jawa yang tidak mengenal tokoh Semar.

Sosok yang dikenal sebagai “Sang Pamomong” ini ada dalam cerita wayang, dan tokoh ini adalah asli dari Indonesia.

Semar tidak ditemukan dalam cerita asal Mahabharata atau Ramayana di India. Bahkan tokoh ini dipercaya sebagai “nenek moyang” raja-raja Jawa, dan menjadi pamomong ‘danyang’ Pulau Jawa.

Dilansir dari berbagi sumber, legenda Kyai Semar, sosok jin penunggu bukit, erat kaitannya dengan cerita rakyat yang beredar pada masyarakat sekitaran bukit Tidar.

Jin Kyai Semar dapat dikalahkan oleh Syaikh Subakir dengan senjata tombaknya yang bernamakan Kyai Sepanjang.

Kebenaran kisah legenda ini masih menjadi hal yang diperbincangkan hingga sekarang. Makam Kyai Sepanjang terdapat di bukit Tidar, dengan panjangnya hingga 7 meter.

Kedua makam Syaikh Subakir dan Kyai Semar juga berada di bukit, letaknya tak saling berjauhan. Semar adalah nenek moyang orang Jawa Purba yang roh-rohnya telah menjadi danyang yang mengawal kawasan Pulau Jawa dan seluruh Nusantara berikut penghuninya sampai akhir zaman nanti.

Karena itu dia ada kemungkinan untuk bisa dan terus ‘hadir’ pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Kehadiran ‘nyata’ sosok Semar ini, salah satunya bisa ditemukan di puncak Gunung Tidar, Magelang. Di sana ada sebuah cungkup makam petilasan Eyang Semar atau Eyang Ismaya Jati.

Tumpeng Jejeg Sejati

Cungkup berbentuk kerucut berwarna kuning dengan nama ‘Tumpeng Jejeg Sejati’. Tumpeng sendiri mempunyal makna ‘tumenga marang Pengeran kanthi jejeg amrih bisa dadi manungsa kang sejati’ (menghadap kepada Tuhan dengan lurus agar dapat menjadi manusia yang sejati).

Sebagai pengingat, agar orang Jawa tidak lupa pada kejawaannya, ada tulisan aksara Jawa ‘ha na ca ra ka….. sampai ma ga ba tha nga’ yang melingkar di bagian bawah ‘tumpeng’.

Sedangkan tombak ‘trisula’ di ujung ‘tumpeng’ adalah bentuk huruf Arab yang terbaca ‘Allah’. Cungkup makam petilasan dipagari tembok empat persegi yang sisi-sisinya berukuran 9 meter.

Ukuran ini bermakna ‘wali sanga’. Di dalam pagar yang membingkai makam petilasan ini ada sebuah pohon jati yang tumbuh subur.

Makam petilasan Eyang Semar atau Eyang Ismaya Jati. Cungkup berbentuk kerucut berwarna kuning dengan nama tumpeng jejeg sejati. (Foto: Istimewa)


Makam petilasan Eyang Ismaya Jati di puncak Gunung Tidar wujudnya berupa sebuah pusara yang di tengahnya berdiri tegak sebuah replika keris pusaka luk sembilan setinggi kira-kira dua meter.

Bilah keris pusaka ini dari bahan tembaga berwarna kuning emas yang dihiasi sembilan buah bintang. Makam petilasan dan replika keris pusaka Eyang Ismaya Jati itu dibalut “ageman” kain mori putih.

Kain mori “ageman” ini selalu diganti setiap tahun. Ritual acara penggantian kain “ageman” keris pusaka dan pusara makam petilasan Eyang Ismaya Jati dilaksanakan pada awal bulan Sura.

Pada hari Senin Pon malam Selasa Wage, tanggal 30 Besar 1951 Dal malam 1 Sura 1952 Be atau 10 malam 11 September 2018 Masehi yang lalu, kain mori “ageman” keris pusaka dan pusara dilepas.

Kain mori “ageman” yang baru dipasang pada hari Jumat Pahing, 14 September 2018. Rangkaian ritual Suran di makam petilasan Eyang Ismaya Jati, diawali dengan ‘midodareni’ yang dilaksanakan pada hari Ahad Pahing, 29 Besar 1951 Dal.

Menurut Nyi Mayangga Seta (tokoh spiritual yang nama aslinya Uci Aryanti), pelaksanaan ritual ini untuk mensucikan kain ageman yang akan dipasang, menggantikan kain ageman yang lama.

Kain mori warna putih tersebut dijamas dengan sembilan macam minyak, yaitu minyak sedap malam, seribu bunga, misik putih, kasturi kijang, mawar, japaron, kenanga, misik hitam dan kasturi merah.

Sedangkan untuk sesajinya berupa kembang telon, melati, mawar putih, kinang ayu, rokok klobot, bunga sedap malam dan dupa cina. Acara midodareni ini diselenggarakan pada siang hari di dekat tugu “Sa Sa Sa”, pelataran puncak Gunung Tidar.

Pada hari Senin Pon malam 1 Sura 1952 Be dilaksanakan ritual kirab Suran, diawali dari pintu gerbang jalan naik ke Gunung Tidar.

Dalam kirab ini diusung uba rampe sesaji dan songsong (payung). Nyi Mayangga Seta membawa wayang kulit tokoh Kanestren, isteri Eyang Ismaya Jati atau Ki Semar.

Sementara itu, dalang Ki Suprodjo Hadi membawa wayang kulit tokoh Sang Hyang Wenang. Tiba di dalam cungkup Tumpeng Jejeg Sejati, dilaksanakan ritual pelepasan kain ageman makam petilasan dan replika keris.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar