Greget Kraton Nyawiji, Ketika di Alun-alun Kidul Anak-anak Masangin: Belajar Menutup Mata

4 Min Read
Performer in colorful traditional costume and hat on stage at night, holding a feathered prop fan during a cultural show with red ornate instruments nearby.
Tari jaranan anak di panggung Greget Kraton Nyawiji. (Foto: BB Maras)

Mabur.co – Malam ini, Sabtu 17 Oktober 2026, Alun-Alun Kidul tidak hanya soal odong-odong lampu dan wedang ronde.

Pukul 18.00 WIB, panggung Kalurahan Panembahan menyala dengan tajuk “GREGET KRATON NYAWIJI!” Rangkaian Hari Kebudayaan Nasional pertama ini sengaja ditaruh di belakang keraton, bukan di depan. Jika Alun-alun Lor adalah simbol kekuasaan, Alun-alun Kidul adalah simbol kepekaan rasa. Dulu tempat latihan ketangkasan prajurit, kini tempat latihan anak.

Acara malam ini menghadirkan tari tradisional gagrak Ngayogyakarta, dolanan bocah, egrang, dakon, jamuran, teater rakyat tentang Panembahan Reso, bazar UMKM Panembahan: bakpia, batik jumputan, wedang uwuh, lomba Masangin, masuk dua beringin dengan mata tertutup, SIM MAMI: SIM Keliling Malam Minggu di sisi selatan Alkid, pukul 19.00-21.00 WIB.

Masangin adalah Kunci Malam Ini

Lurah Panembahan, dalam rilis kalurahan, menyebut: “Greget Kraton Nyawiji artinya semangat keraton yang menyatu. Kami ingin anak cucu tidak hanya tahu Malioboro, tapi juga tahu dolanan dan tahu bagaimana cara masangin yang benar, jujur, dan lurus.”

Masangin adalah kunci malam ini. Di tengah Alkid ada dua beringin kembar, Supit Urang, ditanam sejak HB I tahun 1756 sebagai lambang persatuan.

Group of performers in elaborate gold costumes dancing on a lit stage under a decorative overhead sign at night, with a truss and stage lights above.
Tari Srikandi turut meramaikan panggung Greget Kraton Nyawiji. (Foto: BB Maras)

Tradisinya, mata ditutup kain, berjalan lurus dari Sasono Hinggil Krapyak sejauh 20 meter, melewati celah dua pohon.

Di tengah Alun-alun Kidul Yogyakarta, terdapat dua pohon beringin kembar yang sangat ikonik. Di sinilah tradisi Masangin dilakukan.

Ada kepercayaan kuat bahwa siapa saja yang berhasil melakukannya, maka segala keinginan dan hajat orang tersebut akan terkabul, tulis brighton.co.id dalam ulasan sejarah Alkid, dikutip mabur.co, Sabtu (17/10/2026).

Sejarahnya bukan main-main. Tradisi Masangin ini sudah mengakar sejak zaman kesultanan, awalnya sebagai bagian ritual Topo Bisu pada malam 1 Suro, di mana prajurit dan abdi dalem mencoba melewati beringin kembar untuk mencari berkah dan perlindungan.

Mitos lain menyebut di antara dua beringin ada jimat tolak bala. Konon tentara kolonial Belanda yang melintas tiba-tiba kehilangan kekuatan. Karena itu, yang bisa Masangin dianggap berhati bersih.

Menjaga Mimpi dan Kenyataan dengan Menari

Malam ini lomba Masangin diikuti anak-anak PAUD hingga ibu-ibu PKK. Hadiahnya sederhana, besek berisi berkat ingkung. Tapi filosofinya dalam.

Dalam tradisi keraton, beringin adalah simbol pengayom. Masangin bukan soal lurus secara fisik, tapi lurus niat.

Sementara itu di sisi lapangan, Polres Kota Yogyakarta membuka SIM MAMI. Warga keraton yang mau perpanjang SIM A dan C bisa sambil nonton teater. Syarat tetap KTP dan surat sehat.

Seperti tulis Umar Kayam dalam novel Para Priyayi: orang Jawa itu menjaga jarak antara mimpi dan kenyataan dengan menari.

Malam ini di Alkid, kita akan melihatnya, anak-anak menari, mata ditutup, berjalan lurus di antara dua beringin yang sudah 270 tahun berdiri. Jika berhasil, hajat terkabul. Jika gagal, coba lagi.

Parkir? Masuk dari Plengkung Gading atau Jalan Patehan, parkir motor di tepi Tamansari. Datang jam 17.30 agar dapat tempat duduk. Greget Kraton Nyawiji, teruslah nyawiji dengan rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat.

TAGGED:
Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar