Museum TNI AD Dharma Wiratama, Bekas Markas Tertinggi TKR

4 Min Read
Bronze bust on a pedestal in a museum-like room, with framed black-and-white photos on white walls and wooden chairs around.
Ruang kerja Jenderal Sudirman yang kala itu menjabat sebagai Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat). (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Yogyakarta tak hanya dikenal dengan wisata budaya dan kuliner. Yogyakarta juga memiliki destinasi yang menawarkan pengalaman wisata sekaligus pengetahuan sejarah.

Salah satunya adalah Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama yang berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 75, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.  

Museum ini menghadirkan perjalanan sejarah perjuangan TNI Angkatan Darat melalui berbagai koleksi dan ruang pamer.

Pameran Koleksi Panglima Besar Jenderal Sudirman  

Memasuki museum, pengunjung akan melewati area lobi sebelum menuju ruang pameran koleksi Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Letnan Jenderal Urip Sumoharjo. 

Kepala Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama, Kapten CAJ (K) Yanti Murdiani, mengatakan, Museum TNI AD Dharma Wiratama dibangun masa pemerintahan Kolonial Belanda pada 1904. 

Awalnya digunakan sebagai kantor administratur perkebunan Belanda.

“Pasca-perpindahan ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, periode 1945-1948, museum ini merupakan Markas Tertinggi TKR. Saat itu secara aklamasi melalui konferensi TKR (12 November 1945) berhasil memilih Kolonel Sudirman. Saat itu pula sebagai Komandan Divisi V Kedu/Banyumas menjadi Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Yanti, di dalam museum tersebut terdapat ruangan kerja Jenderal Sudirman yang kala itu menjabat sebagai Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

“Saya memastikan jika perangkat yang terdapat di ruangan tersebut masih asli seperti yang digunakan Sudirman dahulu.  Ruangan kerja beliau (Jenderal Sudirman) dan ini perlengkapan-perlengkapan beliau yang dipakai waktu berkantor di sini. Di sinilah beliau dengan Kepala Staf TKR Letjen Oerip Soemohardjo biasa bekerja. 

Saat pemilihan panglima, terdapat kandidat yang lebih senior dibandingkan Sudirman, yaitu Oerip Soemohardjo. Sudirman akhirnya terpilih karena keahlian di bidang penyusunan strategi perang. Pak Oerip itu menjadi wakil beliau yang menjadi Panglima TKR. Beliau ini kan memang jago untuk menyusun strategi perang gerilya,” jelasnya.

Yanti menjelaskan, dulu Museum TNI AD Dharma Wiratama ini ketika difungsikan sebagai Markas TKR seperti Mabes TNI saat ini.

“Boleh dibilang markasnya Mabes TNI nah di sini,” ucapnya.

Selain untuk kantor Sudirman dan Oerip Soemohardjo, Museum TNI AD juga menyimpan berbagai koleksi bersejarah, misalnya radio yang digunakan para pejuang di Aceh.

Antique wooden radio/communication cabinet on display with several gauges and knobs, labeled RB1 on the front.
Pemancar yang digunakan untuk para pejuang era 1949-1950. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Pemerintah Aceh kerap kali mendatangi museum tersebut untuk melihat radio ini.

“Pemerintah Aceh saat ini mencari-cari keadaan radio ini sebenarnya. Kemarin Bupati Bireuen mencari radio ini. Katanya mereka kehilangan jejak, padahal radio ini sangat berjasa katanya. Radio ini yang menyebarkan kalau pejuang TNI kita masih ada,” tuturnya.

Radio Propaganda

Menurut Yanti pula, pada masa perjuangan kemerdekaan, Belanda mengumumkan sebuah propaganda bahwa sudah tidak ada lagi pejuang yang tersisa di Indonesia.

Berkat transmisi radio Rimba Jaya, rakyat Indonesia pun mengetahui bahwa hal tersebut merupakan kebohongan belaka.

“Lewat radio ini, para pejuang menyampaikan kalau kita masih ada, masih eksis masih berjuang. Sinyalnya bahkan sampai India. Makanya Bupati Aceh itu sering menanyakan radio ini, tapi sudah jadi koleksi kita,” katanya.

Yanti menjelaskan juga, contoh koleksi radio lainnya adalah pemancar yang digunakan untuk para pejuang era 1949-1950. Radio tersebut memiliki tulisan RRI Madiun.

“Ini transmisi pemancar. Ini dulu juga dipakai ketika perang, kemudian ini Radio Madiun, RRI Madiun. Pada waktu dipakai oleh para pejuang kita dari 1949-1950. Nah sekarang kan tidak ada radio seperti ini,” ulasnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar