Mabur.co – Upaya mengenalkan budaya Indonesia ke panggung dunia bisa dilakukan lewat berbagai cara. Salah satunya melalui pertunjukan wayang. Seperti dilakukan sosok dalang kondang asal Gunungkidul Yogyakarta, Ki Gunarto Gunotalijendro.
Dalang yang dikenal dengan julukan “Dalang Salto” ini kembali menjalankan misi kebudayaan di luar negeri. Kali ini, ia membawa pertunjukan wayang kulit ke sejumlah lembaga pendidikan di Wellington, Selandia Baru, pada 6-18 Oktober 2026.
Melalui program Indonesia Shadow Puppets Show: Wayang Milenial Goes to New Zealand, Ki Gunarto berupaya memperkenalkan seni pedalangan kepada penonton lintas generasi dan negara.
Dikemas Humor
Ia tidak hanya mengandalkan cerita pewayangan, tetapi juga mengemas pertunjukan dengan humor, adegan perang, serta bahasa pengantar yang mudah dipahami.
Ki Gunarto merupakan pelopor konsep “wayang milenial”, yakni pendekatan pertunjukan wayang kulit yang memadukan tradisi pedalangan dengan musik kontemporer dan penggunaan bahasa yang lebih beragam.
Selain bahasa Indonesia, ia menggunakan bahasa Inggris dan Jepang untuk menjangkau penonton dari latar belakang berbeda.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mendekatkan wayang kulit kepada generasi muda, termasuk mereka yang belum mengenal cerita dan karakter dalam tradisi pewayangan Jawa.
Membawa Wayang ke Ruang Pendidikan
Dikutip MabesNews.com, dalam rangkaian misi kebudayaan di Wellington, Ki Gunarto tampil dalam sejumlah agenda, antara lain konser wayang dan musik angklung di Marsden School, pertunjukan di Arakura School, serta kolaborasi gamelan dan biola di Victoria University of Wellington.
Sejumlah lakon yang dibawakan meliputi Misteri Kolosrenggi, Wahyu Katentreman, Wahyu Kanalendran, Tumuruning Wahyu Kawicaksanan, dan Wahyu Cakraningrat.
Pertunjukan tersebut menyasar pelajar tingkat SMP dan SMA. Penggunaan bahasa Inggris membantu penonton mengikuti alur cerita, sementara humor dan adegan perang membuat pertunjukan lebih komunikatif.
Kegiatan budaya itu juga dilengkapi lokakarya gamelan Jawa, tari Jawa, gamelan Bali, dan angklung. Dengan demikian, peserta tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mendapat kesempatan mengenal beragam kesenian Indonesia.
Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNES), Prof. Widodo, yang mendampingi tim budaya Indonesia, menyebut misi tersebut tidak hanya berfokus pada pementasan wayang kulit.
Rangkaian kegiatan itu turut menjadi ruang pertemuan budaya antara Indonesia dan masyarakat Selandia Baru. Warga negara Indonesia yang tinggal di sana juga menyambut kedatangan tim untuk menyaksikan pertunjukan wayang.
Lulusan Hukum yang Menekuni Seni Pedalangan
Di balik kiprahnya sebagai dalang, Ki Gunarto memiliki latar belakang pendidikan hukum. Ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia juga dikenal memiliki gelar kebangsawanan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan menerima penghargaan sebagai Duta Budaya. Gelar serta pengakuan tersebut melengkapi perjalanan keseniannya dalam memperkenalkan wayang kulit ke berbagai negara.
Julukan “Dalang Salto” melekat pada sosoknya karena gaya pementasan yang khas. Sementara itu, konsep wayang milenial menjadi pendekatan yang ia gunakan untuk memperluas jangkauan penonton tanpa meninggalkan akar tradisi pedalangan.
Ki Gunarto mengatakan, misi kebudayaan yang dijalaninya kali ini bukan pengalaman pertama. Ia telah lebih dari delapan kali mengikuti misi kebudayaan ke berbagai negara. Pada tahun sebelumnya, ia juga tampil di Adelaide, Australia.
“Perkenalkan budaya wayang kulit Indonesia ke luar negeri kali ini untuk yang kesekian kalinya. Tahun lalu sukses pentas di kota Adelaide Australia. Telah lebih dari delapan kali menjalankan misi kebudayaan ke berbagai negara,” kata Gunarto dalam wawancara dengan awak media, sebagaimana diberitakan MabesNews.com, Kamis (22/10/2026).
Ia berharap, pengenalan budaya melalui pertunjukan seni dapat memperkuat kerja sama antarnegara sekaligus mendukung perdamaian dunia.
Disambut Hangat Begitu Tiba di Indonesia
Setelah menyelesaikan rangkaian agenda di Selandia Baru, Ki Gunarto kembali ke Indonesia pada Selasa (20/10/2026).
Kedatangannya di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 3, disambut keluarga besar Kusumo Hondrowino Nusantara DKI Jakarta serta keluarga dan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Kalungan bunga diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprahnya membawa seni pedalangan Indonesia ke panggung internasional.
Ketua Umum Kusumo Hondrowino Nusantara DKI Jakarta, KP Mulyatno Prawirodiningrat, menyampaikan kebanggaannya atas keberhasilan misi tersebut.
Ia berharap Ki Gunarto terus berkarya dan memperkenalkan wayang kulit kepada masyarakat dunia.
Melalui pendekatan yang memadukan tradisi, musik kontemporer, dan bahasa lintas negara, Ki Gunarto menunjukkan salah satu cara agar wayang kulit tetap relevan bagi generasi muda.
Panggung internasional pun menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada penonton yang lebih luas. ***
