Enam Komunitas Menelusuri Jejak Peradaban Sleman

5 Min Read
Ketika rombongan sedang mengeksplorasi kawasan Karangtalun. (Foto: BB Maras)
3 dari 3 Series - Menemukan Catatan Sejarah di Arus Air Selokan Mataram

Mabur.co – Kurang lebih pukul 09.00 pagi, Rabu (21/10/2026), halaman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman di Beran, Tridadi, tidak seperti biasanya.

Sejumlah orang berkumpul, bukan untuk rapat. Enam komunitas berkumpul dengan standar kostum lapangan.

Ada komunitas Djokjakarta 45 yang diketuai Eko Isdianto, PPSKY: Susila, Sembada Muda Historia: Wahjudi Djaja, Historia: Ridwan Tri S, MGMP IPS: Herdono, MGMP Sejarah Eko Puji R. Tema iventnya: Internalisasi Nilai-nilai Sejarah bagi Komunitas, “Jejak Perjuangan, Irigasi dan Peradaban Pertanian di Kabupaten Sleman.” bertagar Jelajah Sejarah #6.

Jalur Peradaban

Jalurnya, titik kumpul awalnya di Disbud Sleman, lalu bergerak menuju Bendung Karangtalun – Hulu Van der Wijk – Buk Renteng – Koridor Selokan Mataram Sleman Barat – Bangunan Bagi Pogung-Kali Code.

Rombongan berangkat dengan mini bus, bukan untuk wisata, tapi untuk membaca air sebagai arsip. Titik pertama Bendung Karangtalun atau Bendungan Ancol di Bligo, Ngluwar, Magelang, perbatasan Jateng-DIY.

Bendung tertua, 1909. Bendungan Karangtalun pertama kali dibangun pada awal abad ke-20 tepatnya pada 1909 masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, tulis budaya.jogjaprov.go.id. Di sana ada empat pintu air, mengairi kurang lebih 30.000 hektare lahan pertanian di DIY hingga Jateng.

Di sana Aan, panggilan akrab salah satu anggota Djokjakarta 45 bilang, “Ini bukan sekadar bendung, ini hulu perjuangan. Tanpa air ini, petani Sleman akan kesulitan”.

Ia juga mengutip taktik Sultan HB IX membangun Selokan Mataram agar rakyat tidak dikirim Jepang ke luar Jawa untuk Romusha.

Siswa-siswi Agar Bisa Diikutkan Tur ini Tahun Depan

Dari Karangtalun enam komunitas ini ditemani Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman, Mei Hartini, S.S., Ria Ristiningsih, S.Ark., Pamong Budaya Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman, Narasumber perjalanan Tiyassanti Kusumo Dewanti (Tyas), beberapa mahasiswa magang Amikom, dan awak media bergerak meliuk di antara jalan desa menuju pintu bagi Hulu Van der Wijk dan Buk Renteng di Banyurejo, Tempel.

Selokan Van Der Wijck terletak di Jl. Raya Tempel-Klangon, masih berfungsi untuk saluran irigasi bagi areal pertanian di Bumi Sembada, tulis mediacenter.slemankab.go.id.

Di Buk Renteng, peserta MGMP IPS Herdono, S.Pd, teringat ketika mengajar di kelas, ternyata selokan bisa lebih tinggi dari jalan.

Melihat langsung objek sejarah di lapangan berbeda dengan yang kita lihat di layar medsos atau di buku. Sebab itu Herdono sangat antusias mengikuti kegiatan ini.

“Kegiatan ini harus terus ditingkatkan. Tahun depan ia ingin mengusulkan agar siswa-siswinya juga diikutkan dalam tur sejarah ini,” pungkasnya.

Ketua MGMP IPS Herdono, S.Pd, saat mengikuti tur di kawasan Selokan Van Der Wijck, Sleman. (Foto: BB Maras)

Titik akhir rombongan penelusuran sejarah Selokan Mataram ini, Pogung–Kali Code, bangunan bagi yang membelah kota Yogyakarta (DIY). Di sinilah mitos Progo-Opak bertemu.

Seperti kalimat bijak para filsuf: “Air mengalir, ia tidak pernah bertanya ke mana.” Tetapi kemarin mungkin saja enam komunitas itu bertanya, ke mana air itu pergi.

Sepatu Penuh Debu dan Catatan yang Berharga

Semetara itu, Vidi dan Rizal dari Sembada Muda Historia, menyayangkan tak semua teman-teman dari komunitasnya bisa mengikuti kegiatan yang menarik ini.

Masih ada puluhan anggota lainnya tapi hanya bisa diikuti mereka berempat. Mereka sangat terkesan dengan kegiatan ini.

“Perlu terus ditingkatkan, peserta dan rutenya ditambah sehingga efeknya lebih terasa bagi Gen Z,” kata dua anak muda Sleman yang sedang getol belajar sejarah negerinya itu.

Ada pun Ketua Sembada Muda Historia, Wahjudi Djaja, menutup turing ini dengan satu kalimat yang reflektif: “Peradaban pertanian Sleman bukan di museum, tapi di pintu air. Kalau pintu Pogung ini jebol, entah Yogya bagaimana nasibnya”.

Begitu Djaja memungkasi kesannya hari itu menjelang rombongan bertolak pulang. Kembali ke titik kumpul awal di Disbud Sleman.

Kurang lebih pukul 15.30 rombongan akhirnya kembali ke Disbud Sleman. Sepatu penuh debu karena musim kemarau, wajah terasa panas karena terik yang merajam.

Di catatan note book masing-masing peserta ada coretan-coretan berharga penuh makna, mungkin juga masih ada sisa percik air Selokan Mataram. Mungkin pegal di kaki dan punggung.

Tetapi pesan Sayyidina Ali Karramallahu Wajha tiba-tiba terngiang di telinga: “Bagi siapa yang tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka ia harus kuat menahan kesengsaraan dalam kebodohan”. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar