Mabur.co – Kekeringan ekstrem di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih di lingkungan sekolah.
Salah satu sekolah yakni SDN Jatiroto, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, bahkan terpaksa menghentikan program Aksi Mandiri Bawa Air (Ambarawa) karena persediaan air di rumah warga, termasuk wali murid, semakin terbatas.
Program Ambarawa sebelumnya menjadi salah satu solusi sekolah untuk memenuhi kebutuhan air bagi siswa, terutama untuk keperluan sanitasi setiap musim kemarau tiba.
Tak Ada Air di Sekolah
Melalui program ini, setiap siswa diminta membawa sebotol air dari rumah untuk dikumpulkan ke bak penampungan, mengingat tidak adanya sumber air yang tersedia di sekolah.
Air tersebut selanjutnya digunakan bagi para siswa maupun guru untuk memenuhi berbagai keperluan selama proses belajar mengajar, baik itu untuk buang air, berwudu, hingga mencuci tangan.
Namun, memasuki Oktober 2026, program tersebut tidak lagi dapat berjalan. Kondisi kekeringan membuat keluarga siswa juga kesulitan mendapatkan air bersih sehingga air yang tersedia harus diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga.

Kepala SDN Jatiroto, Rina Yulianti, mengatakan program Ambarawa sudah ada sejak puluhan tahun silam yang dirancang untuk membantu sekolah memenuhi kebutuhan air setiap musim kemarau tiba.
“Namun karena sekarang air semakin sulit dan sangat terbatas terpaksa program ini dihentikan. Sebagai gantinya, kini pemenuhan kebutuhan air bersih di sekolah hanya bergantung pada bantuan distribusi air atau droping air bersih,” ujarnya.
Salah satu wali murid SDN Jatiroto, Fitri Nurhayati, menyebut program Ambarawa sebenarnya sangat bagus dan didukung para orang tua siswa.
Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan saat ini program itu pun terpaksa tidak bisa dijalankan.
“Ya mau bagaimana lagi. Karena kita di rumah juga kekurangan air,” ujarnya.
Harus Pandai Atur Penggunaan Air
Selama musim kemarau ini warga termasuk Fitri mengaku harus pandai-pandai mengatur penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pasalnya semenjak sumber air PAM mati, sebagian besar keluarga mulai bergantung pada bantuan distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo.
Sementara itu, warga lainnya yang masih mengandalkan sumber mata air di sekitar desa juga menghadapi kendala. Debit air yang relatif kecil membuat warga harus mengantre untuk mendapatkan air dengan jarak yang cukup jauh.
Warga maupun siswa kini hanya bisa berharap agar hujan segera turun sehingga ketersediaan air dapat kembali melimpah. Sementara ini mereka hanya bisa menanti bantuan droping air bersih dari pihak-pihak terkait.
