Tumbuhkan Identitas Budaya Nusantara, Kemenag Gagas Gerakan Sehari Bersarung dan Berpeci bagi ASN

4 Min Read
Group of people in white traditional outfits standing in a parade, with a colorful Hari Santri banner in the background.
Ilustrasi. Para santri ikut apel peringatan Hari Santri di halaman Balaikota Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Kementerian Agama menggagas gerakan bersarung dan berpeci bagi aparatur sipil negara (ASN).

Pegawai di lingkungan pemerintah itu diminta memakai sarung dan peci satu hari dalam setiap minggunya.

Gerakan ini dinilai menjadi cara sederhana untuk merawat tradisi pesantren sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya Nusantara.

Gagasan itu disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di halaman Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta. 

Bukan Sekadar Pakaian Tradisional

Dilansir Antara, Menag menilai sarung dan peci bukan sekadar pakaian tradisional. Sebab keduanya memiliki sejarah, filosofi, dan nilai sosial yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia.

“Festival sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita pakai sarung dan peci,” ujar Nasaruddin, dikutip Antara, Sabtu (24/10/2026).

Meski demikian, ia menegaskan penggunaan sarung dan peci tidak harus menjadi kewajiban. Pelaksanaannya dapat berupa anjuran dengan tetap mempertimbangkan kondisi, kenyamanan, dan kebutuhan pegawai dalam bekerja.

Selasa Bersarung

Sementara itu, Dirjen Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengusulkan gerakan “Selasa Bersarung” sebagai langkah awal membiasakan penggunaan sarung di lingkungan kerja.

Menurut Basnang, satu hari khusus mengenakan sarung dalam lima hari kerja dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap tradisi pesantren yang selama ini ikut menjaga kelestarian budaya Nusantara.

“Jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung,” kata Basnang.

Hari Selasa dipilih karena dinilai cocok dengan pakaian kerja berwarna putih yang biasa dikenakan pegawai. Kombinasi tersebut diharapkan tetap terlihat serasi tanpa meninggalkan kebiasaan berpakaian di lingkungan kantor.

“Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya,” ujarnya.

Hidupkan Kembali Tradisi Pesantren

Basnang mengatakan, gagasan tersebut muncul tidak hanya menyangkut cara berpakaian, tetapi juga upaya menghidupkan kembali kesadaran terhadap nilai-nilai tradisi pesantren.

Ia mengakui, sarung terkadang masih dipandang sebagai simbol kehidupan tradisional yang dianggap bertentangan dengan modernitas. Pandangan itu, menurutnya, perlu diluruskan karena kemajuan seseorang tidak dapat diukur dari pakaian yang dikenakan.

“Padahal, ukuran modern atau tradisional itu bukanlah terletak pada pakaian yang kita kenakan, melainkan pada cara berpikir dan cara kita memandang sesuatu,” kata Basnang.

Nasaruddin juga menilai, kemajuan bangsa tidak harus ditandai dengan meninggalkan tradisi. Sebaliknya, kemampuan mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya merupakan bagian dari kepercayaan diri sebuah bangsa.

Ia mencontohkan penggunaan busana tradisional di berbagai negara yang tetap dipertahankan sebagai simbol kebanggaan, termasuk dalam pergaulan internasional.

Respons Warganet

Sementara itu di media sosial usulan tersebut justru mendapat sejumlah kritik dari para warnaget. Salah satu persoalan yang disoroti adalah posisi Kementerian Agama yang melayani masyarakat dengan beragam agama dan kepercayaan.

Akun @azissamruu misalnya nampak mempertanyakan apakah gerakan tersebut harus berlaku bagi seluruh pegawai Kemenag, mengingat Indonesia memiliki enam agama yang diakui negara serta penganut kepercayaan.

Kritik lain menyoroti prioritas pembenahan birokrasi dibandingkan sekadar soal pakaian. Sejumlah warganet menilai kualitas kerja, integritas, dan pencegahan korupsi lebih penting daripada penyeragaman busana.

“Bukan itu Pak, yang penting kerja dengan benar dan tidak korupsi,” tulis salah satu akun.

Senada dengan itu, akun @neni.kustiani menilai kesopanan berpakaian dan integritas seharusnya menjadi perhatian utama.

“Sopan berpakaian dan jangan korupsi itu aja siyy,” tulisnya.

Ada pula warganet yang menyampaikan kritik dengan nada satir. Akun @bumi.35 membandingkan perkembangan ilmu pengetahuan dan eksplorasi luar angkasa dengan perhatian terhadap urusan domestik dan pakaian tradisional.

“Yang di luar sudah menggunakan ilmu dari Tuhan untuk menjelajah luar angkasa. Di sini masih 16 urusan dapur dan sarung,” tulisnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar