Arkeolog Australia Minta Indonesia Selamatkan Lukisan Gua Prasejarah di Sulawesi, Terancam Rusak Dampak Karhutla 

3 Min Read
Red stencil of a dead animal spray-painted on a pale stone wall (graffiti)
Lukisan prasejarah di salah satu gua di Sulawesi. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengancam kelestarian lingkungan maupun keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia. 

Karhutla ternyata juga mengancam kelestarian lukisan gua prasejarah tertua di dunia yang terdapat  di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. 

Mirisnya, kekhawatiran sekaligus temuan ancaman itu bukan datang dari peneliti Indonesia melainkan dari seorang arkeolog asal Australia. 

Dikutip dari Kompas.com, Minggu (25/10/2026), kebakaran yang terjadi di sekitar kawasan Maros-Pangkep diketahui telah mendekati lokasi gua hingga jarak sekitar 800 meter.

270 Hektare Kawasan Taman Nasional Terbakar

Laporan Reuters menyebutkan, lebih dari 270 hektare kawasan taman nasional terbakar pada periode 30 September hingga 18 Oktober 2026.

Panas dan asap dari kebakaran itulah yang dinilai berisiko mempercepat kerusakan pada karya seni purba kebanggaan Indonesia berusia puluhan ribu tahun yang menjadi bukti sejarah kehidupan manusia.

Arkeolog Universitas Griffith, Australia, Basran Burhan, mengatakan, meski api tidak bersentuhan langsung dengan permukaan lukisan, namun gelombang panas serta perubahan suhu di sekitar gua dapat mempercepat proses kerusakan.

“Dampak pertama dan paling merusak adalah panas,” kata Basran.

Ia menjelaskan, panas dapat mengubah suhu di sekitar lukisan dan mempercepat proses korosi. Sementara itu, asap kebakaran berpotensi meninggalkan jelaga yang menutupi permukaan gambar sehingga lukisan menjadi buram dan sulit dikenali.

Atas dasar itulah Basran menilai perlu ada langkah mitigasi dari pemerintah Indonesia untuk mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap lukisan peninggalan prasejarah tersebut.

“(Jika tidak) kita akan kehilangan salah satu bukti sejarah manusia yang paling menakjubkan di Maros-Pangkep. Dan itu sangat disayangkan,” ujarnya.

Kawasan karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan sendiri dikenal menyimpan lukisan gua prasejarah tertua di dunia sekaligus menjadi tinggalan penting bagi penelitian sejarah manusia.

Lukisan Berusia 51.200 Tahun

Salah satu lukisan di kawasan tersebut menggambarkan sosok mirip manusia yang berinteraksi dengan seekor babi. Peneliti Universitas Griffith memperkirakan lukisan itu berusia setidaknya 51.200 tahun.

Sementara itu, di sebuah gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, terdapat lukisan berupa cetakan tangan berwarna kemerahan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun.

Temuan-temuan tersebut menjadi bagian penting dari catatan seni prasejarah manusia. Sehingga pemerintah harus segera mengambil tindakan demi menjaga warisan penting leluhur Nusantara yang sangat berharga tersebut. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar