“Ladosan Pengunjukan Dalem”, Minuman Suguhan Wajib di Keraton Yogyakarta Sejak Abad ke-18

4 Min Read
Group of Balinese women in sarongs performing a traditional ceremony under a large yellow umbrella, holding bowls.
Tata cara penyajian teh bagi Raja Keraton Yogyakarta. (Foto: Keraton)

Mabur.co –  Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki segudang tradisi yang masih dilestarikan dari masa ke masa.

Salah satu tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang hingga kini masih terus dilakukan adalah Ladosan Pengunjukan Dalem yang merupakan upacara khusus berupa penyajian teh untuk raja yang dilakukan setiap hari di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dilansir dari buku Karaton Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat Jilid I karya Wibatsu Harianto Sumbogo, Sabtu (24/10/2026), minuman ini menjadi suguhan wajib sejak abad ke-18.

Teh adalah minuman sehari-hari bagi Raja Yogyakarta, keluarga kerajaan, sampai Abdi Dalem yang bertugas di keraton. Hingga sekarang, teh masih tetap disajikan. Minuman teh tidak pernah absen dibuat setiap hari. 

Minuman teh ini dibuat khusus di sebuah gedung yang bernama Gedhong Patehan. Sementara itu, dapur khusus yang digunakan sebagai tempat membuat teh adalah Pawon Patehan.

Sumur Nyai Jalatunda 

Air yang digunakan untuk menyeduh teh bagi Raja Yogyakarta adalah air yang bersumber dari sumur bernama Nyai Jalatunda. 

Sumur Nyai Jalatunda memiliki pasangan, yaitu sumur Kyai Jalatunda. Dulu, air yang bersumber dari sumur Kyai Jalatunda digunakan untuk mencuci peralatan minum raja. 

Namun sayang, saat ini sumur Kyai Jalatunda sudah mengering atau “asat”. Berbeda dengan sumur Kyai Jalatunda, sumur Nyai Jalatunda sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. 

Air yang digunakan untuk menyeduh teh masih diambil menggunakan katrol dan ember.  Air tersebut, nantinya akan direbus di dalam sebuah ketel yang terbuat dari tembaga.

Mata Air Jetis

Sebagai informasi, peralatan minum Raja Yogyakarta dicuci di wastafel yang berlokasi di Gedhong Patehan. Air untuk diminum para Raja Yogyakarta atau para sultan diambil dari mata air di Jetis.

Lokasi mata air Jetis berada di sebelah utara Tugu. Selain sumur Nyai Jalatunda dan Kyai Jalatunda, ada juga sumur barat di keraton.

Air di sumur barat ini digunakan untuk mencuci busana sultan. Sumur barat tidak boleh digunakan untuk siapa pun dan keperluan apa pun selain mencuci busana Raja Yogyakarta.

Lebih lanjut, ada sumur di sisi timur Keraton Yogyakarta yang dapat diambil untuk berbagai keperluan.

Ketel

Di Gedhong Patehan, terdapat dua buah panci, atau yang dalam bahasa Jawa disebut “ketel”. Ketel pertama berukuran besar, sedangkan ketel kedua berukuran kecil.

Air yang direbus dalam ketel besar digunakan untuk membuat teh bagi Abdi Dalem dan pegawai yang bertugas di Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, ketel yang kedua berukuran kecil, digunakan untuk menyeduh air teh bagi Raja Yogyakarta.

Air dalam ketel kecil untuk Raja Yogyakarta hanya dapat menghasilkan 4 gelas teh saja. Untuk acara-acara besar, terdapat ketel lain yang berukuran sangat besar.

Ketel yang sangat besar ini digunakan khusus untuk merebus air.  Contoh acara besar adalah Upacara Ngabekten (upacara halal bihalal yang diadakan oleh Raja Keraton Yogyakarta bagi seluruh kerabat sampai Abdi Dalem baik pria maupun wanita). 

Dalam Upacara Ngabekten, Gedhong Patehan menyiapkan kurang lebih 150 gelas teh untuk Abdi Dalem. Air yang digunakan untuk menyeduh teh masih direbus di atas tungku.

Sumber panasnya pun masih menggunakan kayu bakar.  Setelah matang, air yang direbus tadi dipakai sebagai penyeduh teh untuk dibuat dekokan.

Dekokan adalah seduhan teh sangat kental yang nantinya diencerkan dengan air putih saat akan dihidangkan. Dekokan didiamkan selama setengah jam tanpa diaduk. 

Setelah siap, setengah dari dekokan dipindahkan ke sebuah teko khusus untuk Raja Yogyakarta, sedangkan setengah dekokan lainnya akan diberikan kepada Abdi Dalem Keparak yang bertugas sebagai icip-icip atau pencicip. 

Jika masih ada sisa, barulah kelebihan itu akan diminum oleh Abdi Dalem Patehan. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, teh yang digunakan adalah teh wangi. 

Teh yang akan dikonsumsi Sultan berbeda dengan teh yang menjadi konsumsi para Abdi Dalem. Teh yang disajikan untuk Raja Yogyakarta tidak dicampur dengan gula. 

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar