Mabur.co – Besok minggu sore, 25 Oktober 2026, jam 15.00 WIB. Di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, tempat yang biasanya jadi spot foto wisatawan dengan latar Gedung Agung dan Jalan Malioboro, asap memang tidak ada.
Tapi seperti ada bau asap dibawa oleh angin dari 2.000 kilometer jauhnya dari seberang. Aliansi Strategis untuk Tolak Eksploitasi Alam & Pembakaran Hutan (Asutenan) pun berkumpul.
Terdiri dari mahasiswa, aktivis, akademisi, seniman, dan budayawan Yogya. Mereka tidak bawa ban dibakar. Mereka bawa geguritan, pantomim, dan musikalisasi puisi.
“Besok, Asutenan kumpul di Titik Nol Kilometer,” tulis rilis Asutenan, dikirim ke mabur.co, Sabtu (24/10/2026), sehari sebelum aksi.
Koordinator Asutenan, Widihasto Wasana Putra mengatakan, aksi menjadi ruang perjumpaan solidaritas kemanusiaan, ekspresi seni dan refleksi kebudayaan.
Pesan mereka satu: Stop Eksploitasi, Pulihkan Ekologi.
Di Yogya, Langit Masih Biru, Luarnya Tidak
Mengapa Yogya Peduli SumSel dan Kalteng? Karena asap itu nyata. Tiga hari sebelum aksi, BNPB merilis data yang bikin ngeri.
“Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 18.421 hektare lahan masih dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas Sumatra dan Kalimantan,” tulis owrite.id, 23 Oktober 2026.
Rinciannya: Sumatra Selatan 5.194 hektare, Jambi 2.025 hektare, Kalimantan Tengah 7.938 hektare, Kalimantan Selatan 1.974 hektare, Kalimantan Barat 1.290 hektare.
“Kalimantan menjadi wilayah dengan luasan lahan yang masih ditangani lebih besar,” kata Plt Kapusdatin BNPB Berton Panjaitan.
Bahkan data terbaru Zona Utara menyebut: Kalimantan Tengah 16.097 hektare, terbesar di Indonesia, dengan 874 hotspot.
Di Yogya, langit masih biru. Di Palembang, jarak pandang 500 meter. Di titik nol inilah, empati itu diuji.
Koordinator Asutenan, Widihasto, atau Hasto, bilang: “Kami mengajak publik melihat persoalan kebakaran hutan dan lahan secara lebih mendasar. Bukan hanya memadamkan api, tetapi bagaimana mencegah kerusakan berulang,” lanjut Hasto di rilisnya.
Kalimat kunci gerakan: bumi bukan sekadar sumber keuntungan.
“Hutan bukan semata komoditas dan kekuasaan, bukan hak untuk mengabaikan kehidupan,” ujar Hasto.
Bukan Panggung Biasa
Panggung yang tidak biasa ini bukan demo biasa. Daftar pengisinya seperti daftar festival kesenian. Performance art oleh Asrama Mahasiswa Kalimantan, mereka yang keluarganya langsung hirup asap.
Iwan Wijono, perupa legendaris Yogya yang pernah bikin instalasi lumpur Lapindo. Trio Jago Joko Lisandono, Agus Becak, Tejo Badut, pantomim Andy SW.
Musikalisasi puisi oleh Paseduluran Malioboro, Penyair pembaca puisi dijadwalkan Rekki Zakkia, Risang Yuwono, Hendrik Pangkale, Sri Khrisna Encik.
Geguritan Lembaga Budaya Jawa Sekar Pangawikan Bambang Nur Singgih dan banyak lagi lainnya. Orasi perlawanan akan disampaikan pakar hukum lingkungan Dr. Totok Dwi Diantoro.
Bagi Asutenan, seni bukan hiasan.
“Seni merupakan bahasa nurani untuk menyampaikan penderitaan, membangkitkan empati, dan menggerakkan keberpihakan terhadap kehidupan sebagaimana filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawono,” tulis Asutenan memungkasi siaran persnya. (Bersambung).
