Preman Terlibat Kerusuhan Saat Demo di Malioboro? Ingat Jagoan Selama Revolusi

4 Min Read
Demo Mahasiswa di Malioboro
Suasana demonstrasi di Jalan Malioboro, Rabu (28/10/2026). (Dok. Istimewa)

Mabur.co – Bentrokan yang terjadi saat aksi demonstrasi mahasiswa di Jalan Malioboro Yogyakarta pada 28 Oktober 2026 lalu berbuntut panjang. Merespon fenomena tersebut, sejumlah postingan di media sosial bahkan memperlihatkan bukti-bukti rekaman video kamera HP maupun CCTV saat para preman tersebut membawa senjata tajam hingga melemparkan batu ke masa aksi.

Preman vs Demonstran

Muncul dugaan keterlibatan sejumlah preman. Kelompok ini disebut diduga merupakan anggota ormas Jaga Warga, sebuah organisasi yang dibentuk berdasarkan Pergub DIY Nomor 28 Tahun 2021 tentang Kelompok Jaga Warga. Tertulis, Kelompok Jaga Warga adalah lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan oleh Kalurahan/Kelurahan atas inisiatif masyarakat yang berada di tingkat padukuhan/Rukun Warga/Kampung, yang berperan sebagai mitra pemerintah dalam mewujudkan partisipasi aktif masyarakat.

Jika benar mereka mitra pemerintah, mengapa justru memusuhi demonstran? Terlihat kasat mata mereka melempari demonstran dari balik barikade aparat. Karena dibiarkan leluasa menyerang demonstran, tak aneh jika kemudian memunculkan pandangan negatif pada Jaga Warga.

Sejumlah warganet yang geram dan marah pun langsung merespon hal itu dengan menunjukkan identitas para preman berkedok ormas tersebut. Jika fenomena itu benar, sepantasnya Jaga Warga mengambil peran penting. Sesuai Pergub di atas, Jaga Warga adalah upaya menjaga keamanan, ketentraman, ketertiban dan kesejahteraan serta menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat.

Namun, mengapa respon yang muncul di masyarakat justru negatif? Hingga berita ini dibuat pihak kepolisian Polda DIY maupun Polresta Yogyakarta sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait adanya dugaan keterlibatan sejumlah nama yang disebut sebagai preman ini. Sambil menunggu konfirmasi aparat berwenang, ada kisah menarik yang terjadi selama masa revolusi.

Jagoan vs Pasukan

Adalah sejarawan UGM, Ryadi Gunawan, yang pernah membuat tulisan di majalah Prisma edisi Agustus 1981. Dalam artikel berjudul Jagoan dalam Revolusi Kita, mendiang Ryadi merunut bagaimana kisah lahirkan para jagoan. Mereka muncul sebagai ekses revolusi kemerdekaan. Penataan dan konsolidasi ketentaraan belum sepenuhnya selesai, sehingga muncul laskar dan jagoan.

Tak tanggung-tanggung, mereka ikut andil dalam Pertempuran Kotabaru pada 7 Oktober 1945. Mereka ikut menyerbu markas tentara Jepang dan mencoba merebut senjata. Heroik dan bernyali. Sempat mengisi kekosongan di dunia militer karena tentara yang profesional belum terbentuk. Dan jelas, sasaran mereka adalah tentara Jepang, bukan warga sipil apalagi rakyat Indonesia.

Beda lagi dengan Julianto Ibrahim. Sejarawan UGM ini mengulik hal yang sama di Solo. Penelitiannya dibukukan dalam Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan. Berlatar kekerasan di Solo selama masa revolusi, Julianto melihat pergeseran yang amat tipis antara dua kelompok yang hidup di masyarakat. Ketika objeknya sama, masyarakat kolonial atau pasukan musuh, kekerasan memang bisa meletup. Tetapi ada motivasi yang membedakan pejuang dengan bandit.

Ada beberapa akademisi yang mengulas fenomena kekerasan yang terjadi masyarakat yang dilakukan grayak, gerombolan liar dan organisasi di luar TNI. Robert Cribb menulis Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949. William H Frederick menulis Pandangan dan Gejolak Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946). Atau AH Nasution dengan Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia.

Itu semua terjadi antara lain karena ketentaraan kita belum selesai dalam melakukan konsolidasi sehingga terjadi kekosongan. Bagaimana dengam femomena Malioboro? Inilah yang perlu kita diskusikan bersama. Bagaimana bisa para preman, mengatasnamakan Jaga Warga, bisa leluasa bergerak justru di dekat aparat?

PR bagi kita semua, termasuk bangsa ini. Bukankah sudah banyak keresahan terjadi di masyarakat akibat premanisme?

Share This Article
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar