2 dari 2 Series - Sadha Budaya: Titik Kumpul Kebudayaan
Mabur.co – Di ujung acara Berdirinya Sadha Budaya Yogya, musisi Rusmasyah Khameswara menambahkan bahwa Indonesia, Jogja terutama sangat kaya. “Contoh saya sendiri. Saya datang dari Kalimantan, Suku bangsa Dayak, saya bergaul asyik di Jogja tapi saya tak pernah kehilangan identitas saya sebagai Dayak” kata musisi senior itu yang kini lebih banyak meluangkan waktu dalam banyak kegiatan di Pesantren Minggir Asuhan KH. Ahmad Muafiq (Gus Muafiq).
Sebelum menutup acara, Evi menegaskan, ruang kumpul ini bukan hanya untuk yang berkiprah di dalamnya saja, kata Perempuan Penyair Yogya yang satu ini, tetapi juga menjadi tali perekat lintas generasi yang akan menjadi sulur dan penyuluh nyala api yang kuat. Dengan tetap berpijak pada warisan tradisi dan pitutur luhur, segala gerak perubahan jaman, tetap menjadi bagian yang memberi daya bagi nyawa hidup kesenian bersama.
Sebab itu, lanjutnya: “Sadha budaya, diharapkan menjadi titik kumpul para pelaku seni, pecinta sastra dan pemerhati budaya untuk menjadi ruang dialog yang hangat, memantikkan segala kemungkinan ekspresi dan eksplorasi untuk menjaga dan merawat ekosistem sastra, seni dan budaya.”
Sadha: Tegak, Kukuh
Kata Sadha, dalam Jawa Kuno: tegak, kukuh. Dalam konteks ini, sadar budaya. Titik kumpul. Sebagaimana Rumah Sastra Evi Idawati yang berdiri tahun 2011 untuk menyediakan ruang ekspresi bagi remaja dan mahasiswa belajar teknik penulisan karya sastra dan eksplorasi penciptaannya.
Hari ini, konsep itu diwujudkan: panggung kecil, anak SD baca puisi dan diskusi tentang sastra, seni dan kebudayaan, setidaknya ini adalah warming up menuju ivent-ivent lain ke depan yang kelak akan dihelat Sadha Budaya (Titik Kumpul Kebudayaan).

Kenapa dimulai dari Dusun Jambon ini? Faktornya banyak, antara lain untuk mengisi ruang-ruang ekspresi kebudayaan di Barat Jogja yang masih kurang terekspos. Alasan lain, sejak 2021 Evi mendirikan Padepokan Sastra dan Seni Budaya Piwulang di sini sehingga kita harus memanfaatkan ruang kebudayaan ini dengan baik, menyusul ruang lainnya di Jogja Barat, mungkin di Pendopo Sorobayan, Kemusuk, Ambarketawang, Pondok Minggir Gus Muafiq dan banyak lagi lainnya, kata Dr. Nuriswantara.
Titik Kumpul Kebudayaan
Piwulang sastra sendiri, dulu tanah ini bekas ladang, dibeli pelan-pelan Evi dari honor novel Teratak (2009) dan 7 Gerbang Cahaya (2019). Evi bilang, kalau sastra hanya di kota, ia mati. Pelaku lain, Damar, 22 tahun, mahasiswa Pendidikan Bahasa UAD yang ikut Sekolah Puisi sejak SMP mengungkapkan: “Di sini kami tidak diajari jadi penyair hebat, tapi jadi manusia yang berani membaca keras-keras. Bu Evi selalu bilang, puisi bukan hanya kata-kata, tapi nilai yang harus dimaknai sungguh-sungguh.”
Seperti yang pernah dicatat USD saat workshop Perempuan dalam Sastra: “Beliau memaparkan bahwa puisi bukan hanya sekedar kata-kata, namun mengungkap pikiran, perasaan, dan nilai seseorang yang harus dimaknai dengan sungguh-sungguh,” tulis berita USD tentang workshop Evi Idawati, dikutip usd.ac.id, dikutip mabur.co (1/11/2026).
Menjelang maghrib, acara ditutup dengan pembacaan serentak semangat kita mendukung berdirinya Sadha Budaya (Titik Kumpul kebudayaan). “Sastra urip, urip sastra.” Sementara itu, di pendopo Piwulang, lampu mulai menyala. Mitos Jawa bilang, kalau nyala cahaya di pendopo padepokan bisa dijaga bersama, maka ilmu tidak hilang.
Seperti kata Rendra: “Kita adalah kesusastraan yang berjalan.” Sebab rumah bukan bangunan, tapi tempat kita kembali untuk mengolah luka jadi cahaya. 31 Oktober 2026, Sadha Budaya digaungkan, bukan peresmian gedung, tapi peresmian niat: bahwa ekosistem seni butuh sulur, butuh perekat, butuh ruang yang tidak eksklusif. Di Jambon, di bekas ladang dan sawah, titik itu kita nyalakan.
