Rumah Arwah di Pecinan Semarang, Tradisi Penghormatan Leluhur yang Tetap Terjaga

2 Min Read
Miniature Chinese temple diorama illuminated at night, with red lanterns, tiered roofs and decorative balconies on a stage-like display.
Dalam tradisi Tionghoa, keluarga atau kerabat yang sudah meninggal akan dikirimi rumah. Cara pengiriman rumah dalam tradisi Tionghoa tersebut tentu saja dengan cara simbolis dengan membakar miniatur rumah-rumahan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Dalam tradisi Tionghoa, keluarga atau kerabat yang sudah meninggal akan dikirimi rumah. Cara pengiriman rumah dalam tradisi Tionghoa tersebut tentu saja dengan cara simbolis dengan membakar miniatur rumah-rumahan yang konon akan digunakan sebagai tempat tinggal di alam baka sana. Meskipun miniatur, namun rumah tersebut digarap selayaknya rumah beturan.

Misalnya dua lantai, ada mobil dan berbagai isinya bahkan juga uang. Rumah-rumahan untuk orang yang sudah meninggal itu disebut dengan Rumah Arwah dan di Kota Semarang ada salah seorang pembuat yang sudah melakukannya secata turun menurun. Lokasi usahanya berada di dekat klenteng Hoo Hok Bio, tempat yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Tionghoa di Semarang.

Menurutnya, pesanan rumah arwah biasanya meningkat menjelang Imlek dan saat tradisi tilik kubur dilakukan. Pengrajin Rumah Kertas dari Kota Semarang, Ong Bing Hok, menuturkan, dalam kepercayaan kami, orang meninggal rohnya juga harus diberi rumah.

“Kalau nggak dikasih rumah, arwahnya bisa tersesat,” ucapnya, dilansir tribunjateng, Senin (2/11/2026).

Ong Bing Hok, menjelaskan, tradisi rumah arwah dirawat hingga sekarang karena dalam tradisi Cina, arwah yang meninggal tidak langsung ditarik ke langit melainkan akan ada di bumi selama 49 hari.

“Untuk itu, rumah arwah dibuat lalu dibakar dengan dibarengi semacam ritual pada hari ke 49 kematian orang tersebut,” ucapnya.

Ong Bing Hok mengatakan rumah arwah, tidak sekedar kerajinan, melainkan sebuah bisnis keluarga yang sudah melewati perjalanan panjang. Kerajinan rumah arwah saat rezim Soekarno masih bisa eksis. Kakeknya, Ong Wan Giam kala itu masih bisa mencari penghasilan dari membuat rumah arwah. 

Nasib kurang baik dialami ayahnya, Ong Bunjun yang meneruskan bisnis ini. Sebab, pada rezim Soeharto bisnis rumah arwah sempat mati. Ia menyebutnya sebagai diskriminasi negara. Kondisi itu berangsur berubah ketika Gus Dur atau Abdulrahman Wahid yang dikenal sebagai Bapak Tionghoa Indonesia menjadi presiden keempat.

“Selepas itu, tradisi kebudayaan rumah arwah bisa kembali dilakukan sehingga bisnis kami kembali berjalan. Dan, kini anak saya meneruskannya sebagai generasi kelima,” jelasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar