Mabur.co – Pameran Lukisan “Ruang” – the Space-Maker Art Exhibition, KATH Idea Space; Pamphlet kecil itu hanya bertuliskan: the Space-Maker Art Exhibition bertemakan “Ruang”, tapi di baliknya, ada pertemuan para pemilik ruang.
Minggu, 1 November 2026, KATH Idea Space, Bangkel RT.03, Srimulyo, Piyungan, The host-nya Mas Kathirin mengumpulkan para senirupawan Jogja yang rata-rata punya galeri sendiri: Butet Kertarejasa, Sitok Srengenge, Katherin sendiri, Prof. Al Makin sebagai pemilik Selaras Art Space dan banyak lagi lainnya. Sekali lagi ini kula nuwun para pemilik ruang, bukan pameran tunggal bintang. Alirannya macam-macam: ada yang surealis, ekspresionis, kontemporer dan banyak lagi lainnya.
Mempertemukan Sejumlah Pelukis
Prof. Dr. Phil. H. Al Makin, S.Ag., M.A. atau yang akrab disapa Prof. Makin, selain dikenal sebagai seorang akademisi, guru besar filsafat, dan mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2020–2024, ia juga dikenal sebagai pelukis handal. Prof. Al Makin datang dengan lukisan berjudul “menginjak-injak”.
Sebagai salah satu seniman pelukis yang karyanya turut dipamerkan, ia memberikan beberapa tanggapan dalam wawancara virtual semalam dengan Mabur.co, ia bilang begini: “Pameran itu dipelopori Mas Kathirin bermaksud mempertemukan sejumlah pelukis yang rata-rata memiliki galeri, termasuk saya.

“Di era mencemaskan sekarang, ini adalah upaya healing bersama, sebab situasi kita makin sulit. Kalau dikaitkan dengan situasi saat ini, ya pameran lukisan itu pasti ada hubungannya. Lukisan saya misalnya anda bisa lihat ada tumpukan yang diinjak-injak, itu maknanya top down, yang atas menginjak ke bawah.”
Kalimatnya berhenti, lalu lanjut pelan: “Katanya saya ini Profesor, mantan Rektor UIN Suka, tapi saat ini tidak semua bisa disampaikan secara verbal. Lewat lukisan kita bisa menyampaikan simbol apa yang ingin kita sampaikan. Meskipun saya sangat bisa verbal, tapi kali ini saya ingin simbolik. Sebab itu kita pameran lukisan. Ini kerja bersama dan memang sekarang ini dibutuhkan kerjasama untuk menghadapi berbagai tantangan sosial dan dapat menumbuhkan solidaritas untuk menghadapi situasi mencemaskan secara nasional saat ini.” ucap Professor alumnus McGill University, Kanada ini.
Ketika Ruang Verbal Disensor, Ruang Simbol Harus Bicara
Ada saat kita sendiri, tapi saat ini kita perlu berjuang bersama, katanya lugas. Sekali waktu saat ia menggelar pameran lukisan tunggal yang digelar di Museum Affandi Yogyakarta Jumat (14/6/2024), sosok nomor 1 di UIN Sunan Kalijaga ini, saat itu, mengungkapkan proses kreatifnya dalam melukis.
“Melukis ternyata bukan sesuatu yang baru bagi Al Makin dan keluarga. Sejak kecil, dia dan keluarganya sering melukis bersama,” dikutip uin-suka.ac.id.
Melukis baginya bukan hobi rektor, tapi penyembuhan diri. “Melukis adalah sarana yang ampuh ketika ingin menyendiri dan memahami diri sendiri, bertanya dan berkonsultasi pada diri sendiri, penyembuhan diri sendiri,”. Maka lukisan “menginjak-injak” itu bukan marah-marah. Itu etnografi visual, tumpukan tubuh, kaki di atas kepala, struktur kuasa yang kita kenal sehari-hari di kampung, di kampus, di negara. Itu sifatnya Top down. Seperti puisi Rendra: “Kita adalah kelas yang menginjak dan diinjak, dalam sejarah yang sama.”
Setidaknya, solidaritas terlihat malam itu. Aktor dan Pelukis Butet bawa kanvas besar tentang ruang dapur, Sitok dengan puisi visualnya yang surealis, Katherin dengan ruang perempuan. Mereka tidak kompetisi, mereka berbagi tembok. Mas Kathirin sebagai host, ibaratnya hanya menyiapkan teh jahe dan lampu sorot.
Sementara itu, di luar, langit sore merah jingga, suara adzan Maghrib dari Srimulyo bersahut dengan gamelan dari speaker pameran. Anak-anak muda nongkrong di angkringan seusai menyaksikan pameran lukisan. Itulah makna “Ruang” yang sebenarnya. Bukan galeri steril, tapi ruang hidup. Ketika Prof. Al Makin bilang “ada yang menginjak-injak kita”, jawabannya bukan melawan sendiri. Jawabannya, ayo bikin ruang bersama, agar yang di bawah tidak terus diinjak.
Di Piyungan yang jauh dari Malioboro, pameran ini jadi penanda, ketika verbal disensor, simbol bicara. Ketika sendiri tak kuat, bersama jadi jawaban.
