Makna Dibalik Gestur Tiga Jari Ditunjukkan Pendeta Gereja Protestan Tertua di Yogyakarta

4 Min Read
Pdt Jimmy Marcos Immanuel Sormin mengangkat tiga jari saat memimpin ibadah di GPIB Marga Mulya, Minggu (1/11/2026). (FOTO/GPIB Marga Mulya)

Mabur.co – Bagaimana orang Kristen menyikapi munculnya salam tiga jari di mimbar gereja? Di tengah keresahan masyarakat terhadap pemerintah, aksi simbolis ini mengundang perhatian terhadap peran gereja dalam menyuarakan keadilan. Untuk memahaminya, pesan khotbah dan konteks penggunaannya perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan tentang sikap sebuah gereja.

Tidak hanya di jalanan, saat aksi-aksi demonstrasi berlangsung, gestur three finger salute dewasa ini semakin merasuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Terbaru, pendeta bersama ratusan jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Marga Mulya, Kota Yogyakarta, turut mengangkat tiga jari secara serentak di sela-sela prosesi ibadah Misa, Minggu (1/11/26) lalu. Gestur yang dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan itu pun diangkat tinggi-tinggi di bawah sorotan lampu altar gereja yang berlokasi di kawasan Malioboro tersebut.

Ketua Majelis Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Marga Mulya Yogyakarta Pdt. Jimmy Marcos Immanuel Sormin mengatakan, gestur three finger salute yang ia gaungkan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat dan keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini.

Mulai dari persoalan kesehatan anak-anak akibat dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG), masalah kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan secara sistemik oleh korporasi, hingga penderitaan masyarakat di Papua akibat dampak proyek strategis nasional.  

Menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk tidak tinggal diam di tengah berbagai krisis dan persoalan bangsa yang terjadi saat ini. Sebab berbagai polemik sosial yang melanda Indonesia saat ini berakar dari satu masalah utama, yakni kerakusan.

“Persoalan dari semua yang menjadi polemik atau krisis saat ini adalah kerakusan. Kerakusan akan jabatan, akan uang, akan sumber daya yang ada, dan kerakusan yang berdampak pada ketidakadilan lainnya,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).

Jimmy menegaskan, kerakusan yang merajalela telah melahirkan kemunduran moral yang serius.

“Dalam situasi tersebut, gereja tidak boleh bersikap netral atau berdiam diri ketika penderitaan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan terjadi di tengah masyarakat,” katanya.  

Yesus sendiri adalah sosok revolusioner yang senantiasa melakukan tindakan-tindakan reformatif dan revolutif untuk mengangkat harkat hidup orang banyak. Oleh karena itu, iman tidak boleh hanya terbatas di ruang-ruang ibadah atau ritual keagamaan saja. Namun harus diwujudkan dalam ruang-ruang aktual melalui aksi nyata.  

“Ketika kami sendiri sebagai pengikut Yesus tidak melakukan apa yang Yesus lakukan, yaitu tindakan-tindakan reformatif, revolutif untuk mengangkat harkat hidup orang banyak, maka sia-sia pengakuan kami dan apa yang kami imani sebagai pengikut Yesus,” tegasnya

Keterlibatan gereja dalam menyuarakan kebenaran bukanlah bentuk politik praktis elektoral, melainkan sebuah bentuk politik moral.

“Politik moral perlu dijalankan agar tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dikembalikan pada prinsip-prinsip keadilan, di mana kesejahteraan dapat dinikmati bersama secara merata, bukan hanya bagi segelintir kelompok,” tuturnya.  

Jimmy mengapresiasi respons positif dari sejumlah jemaat gereja yang turut aktif menyuarakan kepedulian. Baik itu melalui ruang digital, media sosial, serta ambil bagian dalam gerakan solidaritas sosial. Ke depan, GPIB Marga Mulya akan terus mendorong jemaatnya untuk peka dan berani turun ke ruang publik demi menyuarakan jeritan serta keresahan rakyat yang tertindas.  

“Saya mengimbau agar warga gereja untuk turun ke jalan ketika ada aksi-aksi untuk menyuarakan suara rakyat, hemat saya, ketika mereka harus melakukan aksi seperti itu atau terdorong melakukan aksi itu, itu ibadah yang lebih sejati. Mereka bisa meninggalkan ibadah-ibadah di gereja karena itu justru yang menyenangkan hati Tuhan,” tegasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Dosen STIEPAR API Yogyakarta, Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo
Tidak ada komentar