Mabur.co– Gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga erupsi gunung api adalah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat di berbagai daerah Indonesia, termasuk Yogyakarta.
Meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim menuntut penguatan literasi kebencanaan yang lebih inklusif. Selain mengandalkan teknologi modern, pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai sangat relevan untuk membantu masyarakat memahami tanda-tanda alam dan membangun kesiapsiagaan yang lebih organik.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si menuturkan, local wisdom saat hadapi bencana air, gunakan aplikasi Inarisk untuk memantau risiko lokal secara mandiri dan siapkan ‘Tas Siaga Bencana’ (berisi dokumen penting, obat-obatan, senter).
“Pastikan kecukupan pasokan makanan dan air bersih rumah tangga, serta aktif dalam gotong-royong warga,”ucapnya.
Bambang menuturkan, masyarakat bisa mengunduh aplikasi BMKG untuk memantau perkembangan cuaca, curah hujan tinggi, dan potensi kenaikan air secara berkala.
“Manfaatkan teknologi dengan membuat Group WhatsApp warga untuk percepatan informasi. Tunjuk penanggung jawab evakuasi di tiap RT dan gelar rapat koordinasi desa/RW,” ucapnya.
Bambang menuturkan aktifkan kembali kearifan lokal seperti kentongan atau alarm lingkungan. “Pastikan semua warga menerima informasi bahaya dan maksimalkan pengumuman lewat Masjid/Musholla,”ucapnya.
Bambang menuturkan, masyarakat bisa melakukan aksi nyata dengan membersihkan selokan di depan rumah masing-masing, merapikan dahan pohon yang rimbun atau membahayakan, serta memperbaiki tanggul atau saluran air kecil yang rusak.
“Segera laporkan kondisi darurat ke RT/RW atau Posko Desa terdekat. Bantu tetangga yang mengalami kesulitan (khususnya lansia dan disabilitas), serta pastikan hanya membagikan update informasi yang valid di lingkungan,” ucapnya.
Bambang menuturkan kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sleman untuk mewujudkan prinsip Tanggap, Tangkas, Tangguh. Menghadapi musim hujan kali ini, kesiapsiagaan harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri dan keluarga.
“Mari bersama-sama kita bersihkan lingkungan, pantau informasi resmi BMKG, dan tingkatkan koordinasi di level RT/RW agar kita dapat melewati musim hujan ini dengan aman dan minim risiko,”ucapnya.
Sementara itu, Psikolog UGM, Dr. Nevi Kurnia Arianti, S. Psi., M. Si., menuturkan, pentingnya menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi modern dalam mitigasi bencana.“Teknologi adalah sesuatu yang memang harus terus kita upayakan. Tapi di satu sisi, kita juga memiliki jati diri, adat istiadat, kebiasaan, atau tradisi luhur yang sebenarnya bisa disinergikan dengan teknologi,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).

Nevi mengatakan, teknologi seperti early warning system, CCTV, telepon pintar, dan berbagai perangkat digital membantu menyampaikan informasi secara cepat. Tapi teknologi punya batas, saat listrik padam, jaringan internet terputus, atau sistem peringatan gagal berfungsi, masyarakat butuh sesuatu yang lain untuk diandalkan. “
Di sinilah kearifan lokal berperan. Tradisi lisan, pengalaman antargenerasi, pengetahuan mengenai lingkungan, serta kepekaan terhadap perubahan alam membantu masyarakat memahami dan merespons ancaman sesuai konteks wilayahnya masing-masing. Kearifan lokal tidak menggantikan data ilmiah, keduanya berjalan berdampingan. Teknologi menawarkan kecepatan dan akurasi, pengetahuan lokal memberikan konteks dan kedekatan masyarakat,” ucapnya.
Nevi juga menyoroti pentingnya relawan berbasis komunitas. Relawan ini tinggal di lingkungan yang sama dengan masyarakat terdampak dan memahami kondisi warga secara lebih dekat. “Ketika mereka sudah membiasakan sehari-harinya, maka mereka memiliki kepekaan,” ungkapnya.
Nevi mengatakan, kedekatan itu membuat relawan mengerti siapa saja warga yang membutuhkan bantuan khusus, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, atau keluarga yang tinggal di wilayah rawan. Ketika teknologi tidak berfungsi, merekalah yang menyampaikan informasi secara langsung, membantu evakuasi, dan menenangkan masyarakat. “Kepercayaan yang sudah terbangun sebelumnya menjadi modal penting saat situasi darurat,”katanya.
Nevi mengatakan, menjadi seorang relawan itu modal terbesarnya memiliki hati, hati yang memberi dan hati yang mau belajar. Selain kepedulian, relawan juga perlu kemampuan mengelola emosi. “Rasa takut dan kepanikan menyebar cepat dalam situasi bencana, sehingga regulasi diri dan kecerdasan emosi perlu dilatih, baik oleh relawan maupun masyarakat, agar keputusan yang diambil tetap tepat,”ucapnya.
Nevi mengatakan, pendekatan lokal seperti seni, tradisi, permainan, dan kegiatan komunitas juga bisa dipakai sebagai media edukasi dan dukungan kesehatan mental. Kesiapsiagaan bencana bukan hanya urusan pemerintah atau lembaga kebencanaan.
“Hal ini perlu ditanamkan sebagai budaya bersama sejak usia dini. Anak-anak dapat dikenalkan pada perilaku prososial, seperti membantu orang lain, bekerja sama, mengikuti arahan saat keadaan darurat, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” ucapnya.
Nevi mengatakan, sekolah mengajarkan prosedur dan simulasi. Keluarga dapat menanamkan kebiasaan sehari-hari. Relawan dan akademisi menyediakan pengetahuan teknis di lapangan. Media menyebarkan informasi yang akurat dan cepat. Masing-masing mempunyai peran yang berbeda, tapi saling bergantung satu sama lain.
“Kita sebagai insan yang tinggal di daerah rawan bencana bahwa kita juga sebagai warga yang punya peran bersama-sama,” tuturnya.
