Tercatat pada 7 November 1935, pukul 17.05, di kampung Jayengan, Solo, lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan guru dan penari. Ayahnya R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, guru Bahasa Indonesia dan Jawa Kuno di SMA Katolik Solo, sekaligus dramawan tradisional. Ibunya Raden Ayu Catharina Ismadillah, penari Serimpi Keraton Surakarta. Bayi itu diberi nama Willibrordus Surendra Broto Rendra. Kelak dunia mengenalnya sebagai W.S. Rendra, Wahyu Sulaiman Rendra, atau cukup, Rendra.
Hari ini, 7 November 2026, ia berusia 91 tahun jika masih hidup. Ia wafat 6 Agustus 2009 di Depok, usia 73 tahun. Tapi di Solo, 9 November 2026 mendatang, ribuan orang akan merayakannya lewat Konser Musikalisasi Puisi “Mengolah Daya Hidup” di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah. Karena bagi Solo, Rendra tidak pernah mati.
Dari Solo ke Amerika, dari Amerika ke Bengkel
Bakat W.S. Rendra, muncul sejak SMP. Usia 17 tahun, puisinya sudah dimuat di majalah Siasat, 1952. Usia 19 tahun, ia menang Sayembara Drama Yogyakarta lewat Orang-orang di Tikungan Jalan (1954). Ia kuliah Sastra Inggris di UGM, tapi tidak tamat karena teater lebih memanggilnya. 1964, ia mendapat beasiswa ke American Academy of Dramatic Arts, New York, sekolah yang sama dengan Marlon Brando. Ia juga ikut seminar di Harvard atas undangan pemerintah Amerika. Di sana ia belajar Brecht, Shakespeare, Stanislavski. Tapi ia tidak menjadi Amerika. Ia pulang dan mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, 1967.
Bengkel Teater bukan sekadar sanggar. Ia adalah laboratorium, pagi olah tubuh, siang olah vokal, malam olah batin. Anggotanya tinggal bersama, makan bersama, bertapa bersama. Dari sana lahir Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, Butet Kartaredjasa, dan ratusan seniman lain.
Penyair yang Dipenjara Karena Puisi
Rendra dijuluki Si Burung Merak karena cara baca puisinya yang flamboyan, suara menggelegar, tubuh menari, mata menyala. Tapi merak itu ditakuti penguasa. “Sosok yang dijuluki Si Burung Merak itu pernah dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru, lantaran karya-karyanya yang sarat akan protes. Kekuasaan otoriter kala itu memang membatasi ruang gerak para seniman, terutama yang mengkritik pemerintahan,” dikutip dari asumsi.co.
Pada 1 Desember 1977, di Salemba, Jakarta, ia membacakan Sajak Pertemuan Mahasiswa. Mahasiswa membara. Ia ditangkap, ditahan di Rutan Militer Jalan Guntur. 1978, ia ditahan lagi April-Oktober karena pembacaan puisi di TIM. 27 Juni 1994, ia ditahan lagi karena protes pembredelan Tempo, Detik, dan Editor. Peristiwa itu dikenal sebagai Tragedi Jakarta Berdarah.
Puisi yang paling membuatnya diburu adalah Sajak Sebatang Lisong (1977):
Menghisap sebatang lisong, / melihat Indonesia Raya, / mendengar 130 juta rakyat, /
dan di langit / dua tiga cukong mengangkang, / berak di atas kepala mereka.
Delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, ia tulis di puisi itu. 130 juta rakyat ia sebut. Saat itu Indonesia memang 130 juta. Hari ini 280 juta. Tapi bait itu masih terasa baru. Dalam surat dari penjara, ia menulis: “Aku tidak takut kehilangan panggung karena panggungku adalah kehidupan itu sendiri.”
Budayawan: Dari Katolik ke Islam, dari Panggung ke Pesantren
Pada 1970, Rendra masuk Islam, menikah dengan Sitoresmi Prabuningrat, putri Keraton Yogyakarta. Ia ganti nama jadi Wahyu Sulaiman Rendra. Banyak yang mencibir, masuk Islam karena perempuan. Ia menjawab dengan karya. Kasidah Barzanji, Perjalanan Bu Aminah, dan pementasan Panembahan Reso, lakon tentang kekuasaan yang menindas rakyat kecil, dibungkus tasawuf. Ia juga budayawan yang berpikir tentang daya hidup. Baginya, seni bukan hiasan. Seni adalah cara mengolah daya hidup, menjaga nurani, merespons persoalan sosial, merawat kemanusiaan.
Itulah tema konser 9 November 2026 mendatang. “Sejumlah seniman lintas generasi akan tampil dalam Konser Musikalisasi Puisi ‘Mengolah Daya Hidup’ untuk memperingati 91 tahun kelahiran W.S. Rendra di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta, pada 9 November 2026,” dikutip dari aksikata.com.
Produsernya Farchan Asy’ary, Yayasan Bengawan Solo Gong. Sutradaranya Iwan Burnani Toni. Pengisinya lintas generasi: Sawung Jabo, Setiawan Djody, Butet Kartaredjasa, Didi Nini Thowok, Untung Basuki, Suzan Piper, Sruti Respati, Rere Grass Rock, dan puluhan lainnya. “Sutradara pertunjukan Iwan Burnani Toni menjelaskan tema ‘Mengolah Daya Hidup’ diangkat dari pandangan Rendra yang menjadikan seni sebagai sarana menjaga nurani, merespons persoalan sosial, dan merawat kemanusiaan”.
Rendra Lahir Kamis Kliwon
Di Solo ada mitos yang diam-diam berkembang, jika anak lahir Kamis Kliwon pukul 17.05, ia akan jadi anak yang tidak bisa diam. Rendra lahir Kamis Kliwon. Dan memang ia tidak pernah diam. Hari ini, ketika anak muda kembali turun ke jalan Agustus 2025, meneriakkan “Indonesia Gelap”, “DPR Bubarkan”, mereka tidak sadar sedang mengulang bait Rendra 1977. Ketika mahasiswa membaca Sajak Sebatang Lisong di TikTok, mereka sedang melakukan apa yang dilakukan Rendra di Salemba 1977. Rendra pernah menulis di Sajak Anak Muda: Kita adalah angkatan yang harus mengucapkan / kata-kata yang telah lama dipendamkan / menjadi jeritan.
Setelah 91 tahun kelahirannya, jeritan itu masih terdengar di Solo, di Yogyakarta, di Jakarta, di mana pun ada panggung kecil dan anak muda yang membaca puisi dengan suara bergetar. Burung Merak itu memang sudah tiada. Tapi bulunya masih mengkilap di setiap panggung Indonesia.
