Tidak ada panggung untuk seminar, tidak ada layar besar di aula Museum Bahari Jakarta-Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta-Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta pada Sabtu pagi, 7 November 2026, Pukul. 09.00 sampai acara selesai. Yang ada hanya 100 kotak kecil bingkai wajah peserta kajian dan seminar di Zoom. Tapi dari kotak-kotak itu, Indonesia sebagai bangsa bahari dibedah habis-habisan.
Museum Bahari Jakarta-Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta-menggelar Diskusi Penulisan Buku Lima Suku Bangsa Bahari Indonesia bertema “Tradisi, Transformasi, dan Integrasi Bangsa”. Dibuka Kepala Museum Bahari Jakarta, Misari. Dipandu Agus Mahfuddin Setiawan. Diikuti sekitar 100 peserta dari Sabang sampai Merauke, dari dosen sampai nelayan. Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti sekitar 100 peserta. Lima suku bangsa yang menjadi fokus kajian adalah Bugis-Makassar, Buton, Mandar, Madura, dan Bajo.
Gagasan buku ini dirintis sejak 2022, diwujudkan 2026, ditulis empat orang: Abd. Rahman Hamid, Agus Mahfuddin Setiawan, Rifal, dan Ahmad Fatur Rahman. Sembilan aspek dibahas: awal tradisi bahari, jenis dan pembuatan perahu, jaringan maritim, hukum pelayaran dan perdagangan, nilai budaya bahari, tradisi sedekah laut, migrasi dan diaspora, hingga kondisi terkini dan masa depan komunitas bahari.
Potongan Indonesia yang Berbeda.
Enam narasumber tampil. Masing-masing membawa satu potong Indonesia yang berbeda. Jika dirangkai, jadilah satu peta. Pembuka seminar ini adalah ketua tim penulis, Dr. Abd. Rahman Hamid Pengajar UIN Raden Intan Lampung: Laut Adalah Ruang Hidup, Bukan Sekadar Mata Pencaharian. Inilah fondasi buku ini.
Indonesia sebagai negara maritim memiliki kekayaan budaya bahari yang sangat beragam. Geografis kita didominasi laut. Laut membentuk kehidupan masyarakat yang bergantung padanya, termasuk suku bangsa bahari yang sejak lama menjadikan laut sebagai ruang hidup utama. Laut bukan hanya sumber mata pencaharian. Laut adalah ruang sosial, ruang budaya, dan bagian dari identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Suku bangsa bahari Indonesia: Bajo, Bugis, Makassar, Buton, Mandar, dan Madura, telah lama dikenal sebagai pelaut ulung, punya kemampuan tinggi dalam pelayaran dan mengembangkan teknologi perahu. Keahlian itu memungkinkan mereka berlayar melintasi Nusantara, bahkan melampaui Asia Tenggara, hingga terlibat dalam jaringan perdagangan internasional pada masanya.
Museum, kata Hamid, berperan strategis, mendokumentasikan, mengkaji, dan mempresentasikan keberagaman budaya bangsa. Karena itu Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta menyelenggarakan Kegiatan Kajian Pembuatan Buku Lima Suku Bangsa Bahari Indonesia pada 2026. Maksudnya, menyediakan informasi komprehensif tentang nilai-nilai dan budaya kebaharian lima suku itu sebagai bentuk dokumentasi dan pelestarian budaya maritim.
Tujuannya tiga, jelas Hamid: mengumpulkan dan menyusun data, mengkaji nilai-nilai tradisi dan budaya maritim, dan menyusun naskah kajian komprehensif sebagai dasar penerbitan buku.
Bangsa Bahari yang Berdaya, Berdaulat, dan Berkepribadian
Lewat pemahaman yang lebih komprehensif, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa budaya maritim merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan Indonesia sebagai bangsa bahari yang berdaya, berdaulat, dan berkepribadian.Ini bukan kalimat seremoni. Ini adalah jawaban atas ironi: negara dengan 17.000 pulau, tapi anak-anaknya lebih hafal gunung daripada laut.
Presentasi berikutnya diantarkan Prof. Susanto Zuhdi: Diaspora Adalah Cara Indonesia Lahir. Prof. Susanto Zuhdi pakar sejarah Maritim dari Universitas Indonesia membawa pendekatan sejarah maritim, mikro-sejarah, dan tradisi lisan. Ia menekankan, diaspora suku bangsa bahari merupakan faktor penting dalam proses pembentukan dan integrasi bangsa Indonesia.
Migrasi Bugis, Buton, Mandar, dan Bajo memperlihatkan dinamika interaksi lintas budaya, pembentukan komunitas baru, serta tumbuhnya nilai persaudaraan setanah air. Proses itu perlu dipahami dalam konteks peristiwa dan perubahan sejarah, terutama sejak abad ke-17 dan ke-18, sebagai bagian dari perjalanan lahirnya Indonesia.
Diaspora bukan sekadar perpindahan penduduk. Diaspora adalah proses menghubungkan masyarakat dan wilayah Nusantara. Contohnya jelas: orang Bugis dari Wajo dan Bone yang membuka lahan di Johor, Selangor, Sabah, Singapura, hingga Kalimantan dan Sumatera. Orang Buton yang menyebar ke Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara. Orang Mandar yang berlayar ke Kalimantan dan Jawa. Orang Bajo yang hidup di atas perahu dari Sulu sampai Timor.
Mereka tidak membawa paspor. Mereka membawa bahasa, membawa perahu, membawa adat. Dan di tempat baru, mereka menikah dengan orang lokal, belajar bahasa lokal, lalu menjadi orang lokal yang baru. Itulah integrasi bangsa versi laut: bukan lewat dekrit Jakarta, tapi lewat perkawinan, perdagangan, dan persaudaraan. Zuhdi mengingatkan, Indonesia lahir bukan di meja perundingan saja. Indonesia lahir di atas perahu, di pelabuhan, di pasar, di masjid pesisir, di rumah-rumah panggung di atas air.
Karena Pelaut Dianggap Miskin, Tak Punya Masa Depan
Sementara itu, Prof. Endang Susilowati memaparkan judul: Ironi Banjarmasin, Bangsa Bahari yang Meminggirkan Pelautnya. Jika Zuhdi bicara tentang kejayaan, Prof. Endang Susilowati dari Universitas Diponegoro bicara tentang kepedihan. Ia menjelaskan keterpinggiran komunitas pelayaran perahu di Banjarmasin sejak 1990-an, seiring peralihan aktivitas pelabuhan dari Martapura yang melayani perahu layar tradisional ke Pelabuhan Trisakti yang diperuntukkan bagi kapal-kapal besar. Berdasarkan wawancara dengan pelaut dan pejabat pelabuhan, kebijakan pemerintah turut memengaruhi perubahan itu.
Kondisi ini menjadi ironi bagi bangsa bahari yang justru meminggirkan komunitas pelaut tradisional, padahal pelayaran perahu tetap berperan penting dalam menghubungkan pulau-pulau kecil. Di Banjarmasin, dulu Sungai Martapura adalah urat nadi. Perahu-perahu layar dari Madura, Bugis, Banjar, berlabuh, bongkar muat, berdagang. Anak-anak tumbuh dengan bau kayu ulin dan teriakan nakhoda. Sekarang, perahu-perahu itu tersingkir. Pelabuhan modern lebih memilih kapal besar, kontainer, crane.
Pelaut tradisional kalah bukan karena tidak terampil, tapi karena tidak punya akses ke kebijakan. Mereka tidak punya asuransi, tidak punya pelabuhan khusus, tidak punya regenerasi. Anak-anak mereka lebih memilih jadi ojek online daripada jadi pelaut, karena jadi pelaut dianggap miskin dan tidak punya masa depan.
Endang menutup dengan pesan keras: keberlanjutan tradisi bahari dan regenerasi pelaut memerlukan dukungan pemerintah. Bukan sekadar festival dan spanduk “Indonesia Poros Maritim Dunia”, tapi pelabuhan kecil, subsidi solar, sekolah pelayaran rakyat, dan pengakuan hukum atas pelayaran tradisional. Ini adalah bab paling penting dalam buku itu: buku yang jujur tidak hanya memuji masa lalu, tapi juga menggugat masa kini.
