Jangan bayangkan WS, Rendra sebagai patung. Rendra adalah manusia biasa yang pernah lapar, pernah takut, pernah jatuh cinta, pernah salah, pernah ditahan, pernah bertani singkong di Depok karena honor pementasan tidak turun. Tetapi manusia biasa itulah yang menjadi tokoh pergerakan sosial paling ditakuti Orde Baru.
Pergerakan Puisi Sebagai Pamflet
Rendra tidak mendirikan partai. Ia mendirikan Bengkel Teater, 1967 di Yogyakarta. Di sana anak-anak muda dilatih bukan hanya akting, tapi cara hidup: menyapu, mengepel, kerja ladang, meditasi, lalu berdiskusi tentang keadilan.
“Selain latihan dengan metode umum, latihan teater pada umumnya hanya sekedar latihan pernapasan, membaca naskah, lalu berlagak di atas panggung. Bengkel Teater menambahkan dengan metode pengajaran dan penghayatan terhadap arti hidup. Setiap harinya anggota Bengkel Teater berlatih dengan membersihkan ruangan, menyapu, mengepel, mengelap kaca, bahkan hingga kerja ladang,” dikutip dari sejumlah sumber Bengkel Teater: Wawancara Ken Zuraida dan Edi Haryono.
Pergerakannya lewat puisi pamflet. Potret Pembangunan dalam Puisi (1993) berisi 27 puisi 1975-1978, masa ia ditahan dan sajaknya dilarang. “Rendra dikenal sebagai penyair pamflet. Sajak-sajaknya, sebagaimana yang terkumpul dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, begitu keras mengkritik Orde Baru,” dikutip dari Espos.id, Kota Penyair Perlawanan, 16 Agustus 2017.
“Rendra membacakan sajak-sajaknya dari kota ke kota, kampus ke kampus. Inilah yang membuat gerah penguasa. Tak mengherankan setelah membacakan sajak-sajaknya di Taman Ismail Marzuki pada 18 April 1978, Rendra ditahan hingga awal Oktober 1979.” Ia ditahan lagi 1994 karena protes pembredelan Tempo.
Ia tidak pernah jadi anggota DPR. Tapi suaranya lebih keras dari DPR. Puisinya yang paling terkenal, Sajak Sebatang Lisong, ia tulis untuk orang miskin:
Orang-orang miskin di jalan, / yang tinggal di dalam selokan, / yang kalah dalam pergulatan, / yang diledek oleh impian, / janganlah mereka ditinggalkan.
Manusia Biasa: Petani di Cipayung
Di Cipayung Jaya, Depok, Rendra hidup seperti petani. Ia menanam pepaya, pisang, mangga, singkong, rambutan di lahan 4 hektar. Jika tidak ada uang, ia jual hasil kebun ke pasar untuk beli beras, garam, tahu, dan bayar koran.
Dikutip dari The Jakarta Post, dalam Rendra sticks to principles in twilight years: “Due to his erratic income, food is sometimes scarce at Rendra’s residence in Cipayung Jaya, West Java, which is also used as a training ground for group members. But God’s helping hands are everywhere. Rendra grows vegetables and fruit on his four-hectare estate.”
Di dapurnya ada tulisan: “Bencana atau keberuntungan, semua sama saja. “Ia punya 11 anak dari tiga istri: Sunarti Suwandi, Sitoresmi Prabuningrat, Ken Zuraida. Ia pernah poligami, pernah bercerai, pernah dicaci. Ia tidak menyembunyikan itu. Ia mengakuinya dalam puisi-puisinya tentang cinta, tentang perempuan, tentang kegagalan. Itulah yang membuatnya tetap jadi manusia biasa, bukan malaikat, bukan setan. Manusia yang bergulat.
Hamba Allah: Dari Katolik ke Islam, dari Panggung ke Sajadah
Lahir Katolik, 7 November 1935, Solo. Dididik di sekolah Katolik sampai SMA. Lalu 12 Agustus 1970, ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hari pernikahannya dengan Sitoresmi Prabuningrat, disaksikan Taufik Ismail dan Ajip Rosidi. Namanya jadi Wahyu Sulaiman Rendra. Banyak yang mencibir: masuk Islam karena perempuan. Rendra menjawab bukan dengan ceramah, tapi dengan karya: Kasidah Barzanji, pementasan syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang ia pentaskan berulang kali.
“Ketertarikan saya pada Islam bermula pada syair-syair Syaraful ‘Anam dan Al-Barzanji yang diterjemahkan Syu’bah. Syair-syair ini adalah kasidah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad. Di situ, Nabi Muhammad digambarkan menambal gamisnya sendiri; jika berjalan dengan sahabat-sahabatnya beliau berjalan paling belakang; beliau juga amat menyukai anak-anak,” begitu pengakuan Rendra saat diwawancarai Majalah Ummat No.1, 1994.
“Rendra converted to Islam in August of 1970, taking the name Wahyu Sulaiman Rendra. At that time, he told Harry Aveling that he had not left the church; it was the church itself that had left the church,” tulis Inside Indonesia, Rendra the Muslim.
Di Bengkel Teater, ia tidak memaksakan syariat. Ruang doanya berisi perabot dari banyak agama. Ia melakukan circle prayer, doa melingkar. Baginya, Tuhan tidak bisa dimonopoli satu agama. Ia pernah dua kali naik haji. Ia menulis Kantata Takwa bersama Iwan Fals, yang dibuka dengan zikir. Ia menulis Perjalanan Bu Aminah tentang perempuan yang mencari Tuhan.
Di akhir hidupnya, di rumah sakit, ia menulis puisi terakhir: masih banyak keinginannya, tapi ia tidak mampu. Sahabatnya Jose Rizal Manua yang menyampaikannya: “Semangat masih ada tapi dia tidak mampu mengatasi situasi dirinya yang semakin lemah.” 6 Agustus 2009, ia wafat.
Dimakamkan di Bengkel Teater, Cipayung, Depok. Ribuan orang datang. Bukan karena ia pejabat. Karena ia manusia biasa yang berani menjadi hamba Allah dengan cara yang paling Rendra: melawan kezaliman dengan puisi, dan bersujud dengan teater. Seperti kata Rendra sendiri dalam Aku Tulis Pamflet Ini: Aku tulis pamflet ini / karena pamflet bukan tabu bagi penyair.
Dan seperti kata Al-Qur’an yang sering ia kutip di akhir-akhir hidupnya, Surah Al-‘Asr: “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” Rendra adalah manusia yang berusaha tidak merugi.
