Mabur.co – Jamu dikenal sebagai minuman khas Nusantara yang memiliki rasa pahit. Beberapa jenis jamu yang memiliki rasa pahit di antaranya brotowali, sambiloto, dan meniran.
Rasa pahit ini seringkali berasal dari senyawa aktif alami yang terkandung dalam bahan baku di dalamnya, seperti jahe, kunyit, temulawak, kencur, daun sirih, dan seterusnya. Meski pahit, justru bahan-bahan inilah yang memberi khasiat utama bagi kesehatan tubuh.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih seperti sekarang, rasa jamu tidak melulu harus selalu pahit seperti itu.
Karena pengolahan jamu telah dikembangkan sedemikian rupa, agar bisa cocok dengan lidah semua kalangan dan usia, sekaligus mengikuti kemajuan teknologi yang ada, tanpa perlu menghilangkan khasiat utama dari jamu itu sendiri.
Ketua Jogja Husada, Nina Rahayu Purnomo, mengatakan bahwa jamu tidak akan pahit jika diberi gula khusus, seperti gula batu, gula aren, dan seterusnya.
“Jadi jamu yang pahit pun harus diberi gula khusus, tapi tidak bisa asal gula dimasukkan ke dalam jamu,” kata Nina kepada mabur.co saat ditemui dalam Festival Nitilaku Jamu di Bale Gadeng, Rabu (11/2/2026).
Kabar gembiranya adalah, jamu “manis” ini sekarang sudah menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing usia.
Dengan kata lain, jamu yang diperuntukkan bagi orang tua atau lansia, tidak akan sama dengan jamu yang diperuntukkan bagi anak-anak atau balita, yang sedang dalam masa pertumbuhan.
“Jamu untuk anak-anak itu misalnya jamu khusus bagi yang susah gemuk, stunting, bahkan ada juga yang disajikan dalam bentuk es krim (es krim jamu),” ucap Nina.
Selain itu, anak-anak muda juga telah berinisiatif mendirikan kafe jamu, yang telah hadir di beberapa daerah di Indonesia.
Sebagai jamu kekinian, tentu saja kafe-kafe jamu tersebut menjajakan jamu yang bersifat “modern”, dengan rasa yang lebih variatif dari sebelumnya, tanpa menghilangkan karakter jamu yang sesungguhnya. (*)



