Mabur.co- Yogyakarta menawarkan berbagai destinasi wisata religi Islam yang kaya akan sejarah dan budaya, salah satunya, keberadaan Masjid Gedhe Kauman yang terletak di Jalan Kampung Kauman, Kemantren, Gondomanan, Kota Yogyakarta.
Masjid tersebut telah lama menjadi cagar budaya dan salah satu destinasi wisata menarik di Yogyakarta.
Masjid ini merupakan bagian dari Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat sehingga keberadaannya menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.
Masjid ini didirikan pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton.
Pembangunan masjid sendiri dipimpin dan dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo.
Sebagai ciri khas dari masjid milik Keraton Yogyakarta, di puncak atap dipasang hiasan mahkota berbentuk bunga yang disebut sebagai mustaka.
Ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman, Azman Latif, mengatakan, Masjid Gedhe Kauman merupakan cagar budaya dan masjid tertua di Yogyakarta, sehingga seringkali dijadikan sebagai tujuan wisata.
Selain itu, masjid ini seringkali digunakan untuk upacara penting keagamaan milik Keraton Yogyakarta.
“Kalau yang menjadi ciri khas Masjid Gedhe Kauman itu, karena masjid ini merupakan bagian dari Keraton Yogyakarta, sehingga upacara keagamaan keraton seringkali diselenggarakan di masjid ini. Masjid ini juga tidak bisa terpisahkan oleh napas perjuangan masyarakat, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke masjid ini,” ujarnya saat ditemui, Jumat (20/2/2026).
Azman mengatakan, Masjid Gedhe Kauman tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya Muhammadiyah.
Dari masjid inilah pembaruan arah kiblat bermula sekaligus awal berkembangnya dakwah Muhammadiyah yang hingga saat ini tersebar di seluruh Indonesia hingga ke jenjang perguruan tinggi.
“Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua di Yogyakarta, sehingga keberadaan masjid ini menjadikan seseorang ingin ikut merasakan bagaimana suasana di dalamnya. Masjid ini dulunya juga kental dengan sentuhan Muhammadiyah, sehingga keberadaannya menjadi daya tarik. Tradisi inilah yang kemudian memberikan kemajuan masjid ini,” katanya.
Azman menuturkan, di sebelah utara pengimaman terdapat mimbar kayu yang diukir dengan warna emas, dihiasi kaligrafi indah yang digunakan sebagai mimbar ketika salat.
Di sebelah selatan terdapat maksura terbuat dari kayu jati yang berukuran 270 x 220 x 210 meter dengan lantai setinggi 20 cm dibandingkan lantai di dalam masjid yang digunakan sri sultan ketika menunaikan salat.
“Terdapat mihrab yang digunakan tempat untuk berdirinya imam saat salat berjemaah. Itulah yang menjadi ciri khas dari Masjid Gedhe Kauman yang hingga sekarang masih dilestarikan,” tuturnya. ***



