Candi Banyunibo, Permata Kesepian di Dataran Siwa Prambanan 

3 Min Read
Front view of a dark stone temple with a central doorway, a broad staircase, and sculpted sides set in a park under a cloudy sky.
Candi Banyunibo (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Sebagai pusat kerajaan Mataram Kuno atau Medang, kawasan Prambanan, Sleman, menyimpan begitu banyak situs bersejarah peninggalan abad ke-7 hingga 9. 

Saking banyaknya candi megah yang dibangun di kawasan ini, arkeolog Belanda, Nicolaas Johannes Krom, pada 1900-an menyebut kawasan ini sebagai Dataran Siwa atau Siwa Plateau.

Penyebutan itu tak lepas karena di daerah ini banyak terdapat candi berlatar belakang agama Hindu Siwaisti seperti Candi Prambanan, Kompleks Ratu Boko, Candi Sojiwan, Candi Barong, Dawangsari, hingga Candi Banyunibo.

Dari sekian banyak tinggalan tersebut, salah satu candi yang cukup menarik adalah Candi Banyunibo yang terletak di Dusun Cepit, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman. 

Si Sebatang Kara

Lokasi yang terpencil di tengah persawahan dan perkebunan, serta jauh terpisah dari gugusan candi besar lainnya di kawasan Prambanan, membuat Candi Banyunibo kerap dijuluki sebagai “Si Sebatang Kara”, 

“Pemerintah Kolonial Belanda juga menjuluki Candi Banyunibo sebagai ‘The Lonely Jewel Siwa Plateau’ atau Permata Kesepian di Dataran Siwa,” ujar Konservator Balai Pelestarian DIY, R. Wikanto Harimurti.

Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, Candi Banyunibo merupakan situs Candi Buddha yang terdiri atas satu bangunan induk dikelilingi enam candi perwara berbentuk stupa. 

Enam bangunan pendamping tersebut tersusun dalam dua kelompok, masing-masing tiga stupa di sisi selatan. Sementara 3 stupa lainnya di sisi timur candi induk.

Corak agama Buddha candi ini terlihat dari keberadaan stupa di puncak bangunan utama, maupun stupa pendamping.

Bangunan induk Candi Banyunibo sendiri menghadap ke barat, berbentuk persegi panjang berukuran cukup kecil hanya sekitar 15 x 14 meter dan tinggi sekitar 14 meter. 

Atap Limasan

Salah satu ciri khas arsitektur candi ini adalah bentuk atapnya yang menyerupai limasan, tetapi memiliki sudut lengkung menyerupai sisi genta atau lonceng. Atap tersebut tidak memiliki ornamen, sementara sebuah stupa ditempatkan tepat di bagian puncaknya.

Di sebelah utara bangunan induk candi ini terdapat tembok batu sepanjang sekitar 65 meter yang membujur dari barat ke timur. Struktur ini diperkirakan merupakan sisa pagar keliling kompleks candi.

Keunikan Candi Banyunibo juga terlihat pada relief yang menghiasi bagian tubuh bangunan. Salah satu relief paling menarik menggambarkan Dewi Hariti, sosok dalam tradisi Buddha yang dikenal sebagai pelindung anak-anak, dewi ibu, dan simbol kesuburan.

Relief Hariti berada di sisi selatan bagian penampil candi. Sosok perempuan tersebut digambarkan tengah bersama anak-anak yang mengelilinginya.

Konservator Balai Pelestarian DIY, R. Wikanto Harimurti, juga menyebut relief sosok Dewi Hariti ini sangat menarik karena menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran. 

Ia menilai, kemungkinan penciptaan atau pembangunan Candi Banyunibo ini memiliki keterikatan harapan masyarakat kala itu yang menginginkan adanya kesejahteraan kesuburan di area atau kawasan tersebut. *** 

TAGGED:
Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar