Mabur.co – Selain dimeriahkan pertunjukan tari kolosal megah yang melibatkan ratusan penari, peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo juga ditandai dengan keluarnya pusaka berupa dua tombak.
Dua tombak pusaka itu adalah Kanjeng Kyai Bantar Angin, yang merupakan pemberian dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Serta tombak Kanjeng Kyai Amiluhur, yang merupakan pemberian dari Kadipaten Pakualaman.
Makna Tombak
Tombak pusaka Kanjeng Kyai Amiluhur dan Kyai Bantar Angin sendiri diserahkan pada 2000 lalu saat peringatan Hari Jadi ke-49 Kabupaten Kulon Progo. Kedua pusaka tersebut menjadi simbol perpaduan budaya dan agama yang melekat dalam perjalanan sejarah Kulon Progo.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang hadir langsung dalam puncak peringatan Hari Jadi ke-75 Kabupaten Kulon Progo, mengingatkan pentingnya memahami nilai luhur pusaka agung Kabupaten Kulon Progo tersebut.
Sultan mengatakan, tombak pusaka Kanjeng Kyai Amiluhur dan Kyai Bantar Angin bukan sekadar benda bersejarah, melainkan simbol nilai budaya yang menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan.
Sri Sultan menjelaskan, pusaka tersebut memiliki makna mendalam karena mengandung nilai yang dapat membentuk sikap dan perilaku masyarakat.
Nilai tersebut tercermin dalam watak sepuh, utuh, dan tangguh, yang diharapkan melahirkan sikap asah, asih, dan asuh dalam kehidupan bersama.
Baca Juga: Tari Kolosal “Nyawiji Anjayeng Bawana” Meriahkan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo
“Pusaka mengandung makna yang sangat dalam, sebab ia mengemban watak sepuh, utuh, dan tangguh, yang dapat melahirkan sikap asah, asih, dan asuh bagi seluruh warga Kulon Progo,” tutur Sri Sultan.
Dalam kebudayaan Jawa, pusaka tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Keberadaannya juga menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang perlu dijaga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Simbol Manunggaling Kawula-Gusti
Sri Sultan juga memaknai kedua pusaka tersebut sebagai simbol Dwi Tunggal dan Manunggaling Kawula-Gusti, yang mencerminkan pentingnya kesatuan antara pemimpin dan rakyat.
Nilai tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan untuk membangun Kulon Progo yang makmur, damai, dan tenteram, tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. Khususnya di momen peringatan Hari Jadi ke-75 ini.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan mengatakan, perjalanan 75 tahun Kabupaten Kulon Progo merupakan hasil kerja keras, pengabdian, dan pengorbanan banyak pihak.
Menurutnya, Kulon Progo yang dahulu kerap dipandang sebagai wilayah pinggiran kini telah berkembang menjadi salah satu gerbang penting Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Indonesia.
Keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA), embarkasi dan debarkasi haji, serta potensi pertanian, perkebunan, pesisir, dan Pegunungan Menoreh menjadi kekuatan yang mendukung perkembangan daerah.
Pembangunan Berpegang pada Nilai Budaya
Mengusung tema “Satu Jiwa, Satu Rasa, dari Kulon Progo untuk Indonesia”, Agung menegaskan bahwa pembangunan harus dilaksanakan dengan semangat gotong royong dan tetap berpegang pada nilai budaya.
“Satu jiwa, satu rasa artinya kita berjalan bersama dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan Kulon Progo yang lebih maju dan sejahtera dengan tetap memegang teguh budaya. Karena pembangunan bukan hanya tentang angka-angka, tetapi bagaimana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan,” ungkapnya.
Agung mengakui, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama. Di antaranya peningkatan kesejahteraan masyarakat, perbaikan infrastruktur, perluasan kesempatan kerja bagi generasi muda, serta peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan.
Ia juga mengingatkan agar keterbatasan anggaran tidak mengurangi semangat pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kerukunan serta bekerja bersama membangun daerah.
Melalui peringatan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo ini ia pun berharap agar semua pihak dapat saling bahu membahu membangun Kulon Progo menjadi lebih baik, semakin maju, sejahtera, dan berbudaya. ***
