Masjid Agung Giriloyo, Pesona Arsitektur Tradisional Jawa di Perbukitan

3 Min Read
Covered outdoor walkway beside a red-tiled roof building with yellow and black railing, under a metal canopy.
Raja Kasultanan Mataram Sultan Agung memiliki banyak peninggalan masjid, salah satunya Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Raja Kasultanan Mataram Sultan Agung memiliki banyak peninggalan masjid, salah satunya Masjid Agung Giriloyo di Cengkehan, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Masjid tersebut ternyata lebih dulu berdiri ketimbang kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri.

Masjid Agung Giriloyo ini berada di perbukitan. Untuk menuju ke lokasi harus menyusuri puluhan anak tangga terlebih dahulu untuk mencapainya. Sesampainya di masjid tersebut terdapat kolam yang menjadi lokasi wudu jemaah sebelum masuk ke dalam masjid.

Inside a large hall with dark wooden ceiling beams, exposed trusses, and a glossy tiled floor; the space is empty apart from columns at intervals.
Masjid terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu ruang utama, serambi, pawestren, dan kolam. Bagian ruang utama masih utuh seperti semula. Struktur atap tumpang ditopang dengan empat buah sokoguru terbuat dari kayu jati. Sokoguru berdiri di atas umpak batu andesit. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Dilansir dari situs Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) DIY, Selasa (16/6/2026), di bagian dalam Masjid Agung Giriloyo terdiri dari kayu pada bagian atapnya. Selain itu terdapat pula mimbar di bagian pojok serta beduk kuno di bagian belakang ruangan inti.

Stone stairway winding uphill with stone walls and lush trees on both sides, in a rustic outdoor setting.
Masjid Agung Giriloyo ini berada di perbukitan. Untuk menuju ke lokasi harus menyusuri puluhan anak tangga terlebih dahulu untuk mencapainya. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Arsitektur Masjid Giriloyo sama dengan bangunan masjid tua lainnya dengan model limasan beratap tumpang satu (tajug). Di ujung atapnya terdapat mustaka menyerupai mahkota berbentuk bunga kenanga dari tembaga.

Masjid terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu ruang utama, serambi, pawestren, dan kolam. Bagian ruang utama masih utuh seperti semula. Struktur atap tumpang ditopang dengan empat buah sokoguru terbuat dari kayu jati.

Umpak Batu Andesit

Sokoguru berdiri di atas umpak batu andesit. Usuk bagian penanggap disusun bentuk paniyung (ruji payung). Penutup atap menggunakan genteng vlaam. Di bagian tengah/di bawah menara ditutup dengan plafon kayu.

Di dalam ruangan tersebut terdapat mimbar tempat katib menyampaikan khotbah. Juga terdapat beduk, kentongan, dan beberapa keranda yang disimpan di samping masjid.

Di sebelah selatan ruang utama terdapat bangunan limasan yang ditopang dengan saka dari kayu, bagian usuk dipasang model ri gereh (duri ikan).

Bangunan ini terbagi menjadi dua ruangan, yaitu ruang pawestren di bagian barat yang dulu biasa digunakan untuk jemaah perempuan dan serambi di sebelah timur.

Interior view of a large wooden hall with a peaked ceiling and exposed beams, illuminated by a chandelier in the center. A circular drum sits in the foreground on the right, with tiled flooring and several pillars supporting the roof.
Di bagian dalam Masjid Agung Giriloyo terdiri dari kayu pada bagian atapnya. Selain itu terdapat pula mimbar di bagian pojok serta beduk kuno di bagian belakang ruangan inti. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Serambi masih berbentuk seperti aslinya, belum mengalami perubahan. Konstruksi atap ditopang oleh delapan saka dari kayu yang berdiri di atas umpak batu andesit.

Usuk dipasang model ri gereh dengan penutup atap berupa genteng vlaam. Serambi dibatasi dengan pagar kayu. Lantai serambi berupa tegel abu-abu polos.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment