Mabur.co – Sebanyak 1000 peserta tampil dalam pertunjukan kolosal kesenian tari tradisional tayub di pelataran Goa Terawang, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, akhir pekan kemarin.
Mengenakan kostum warna-warni mereka tampak menari bersama-sama dengan diiringi musik tayub khas Blora. Tak hanya seniman, pertunjukan ini juga diikuti berbagai kalangan termasuk para pejabat hingga masyarakat umum.
Hal itu mewarnai puncak acara Blora Culture Festival (BCF) III tahun 2026 yang digelar rutin setiap tahun dengan memadukan unsur kesenian tradisional serta promosi wisata daerah.
Tarian Khas Blora
Tayub sendiri merupakan kesenian tradisional yang telah lama berkembang di Jawa dan menjadi tarian khas Blora.
Meski awalnya tari ini hanya dipentaskan sebagai ungkapan kegembiraan serta menyambut tamu, dalam perkembangannya, tayub telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di pedesaan.
Biasa dimainkan oleh beberapa penari wanita, tayub hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat di wilayah pedesaan saat mereka sedang memiliki hajatan, seperti pernikahan, khitanan hingga upacara adat.
Salah satu ciri khas yang tak bisa dilepaskan dari tayub adalah keterlibatan penonton dalam setiap pertunjukan.
Para penari biasanya akan mengajak sejumlah penonton untuk ikut menari bersama dengan memberikan sampur atau selendang.
Semangat kebersamaan itulah yang ingin ditampilkan dalam Blora Culture Festival (BCF) tahun ini yang mengangkat tema “Gatra Cacana Jaya Kerta Bhumi”. Tayub dipilih sebagai sajian utama festival ini karena telah begitu melekat dengan masyarakat Blora.
Bupati Blora, Arief Rohman, mengatakan, sebagai salah satu kesenian tradisional yang telah lama ada, tayub harus terus dilestarikan, dijaga dan dikembangkan sebagai salah satu aset penting daerah sehingga mampu memberikan banyak manfaat.
Bisa Menggerakkan Sektor UMKM
“Festival ini menunjukkan budaya kita, pariwisata kita bisa berjalan beriringan, dan sekaligus kita bisa menggerakkan juga sektor UMKM dan sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Blora,” kata Arief dilansir situs resmi Pemkab Blora, Senin (12/10/2026).
Melihat tingginya antusiasme generasi muda dalam festival ini, Arief pun berharap ke depan, jumlah penari pada penyelenggaraan festival tahun berikutnya, bisa terus ditingkatkan. Sehingga mampu menjadi daya tarik yang dapat mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Blora, Yeti Romdonah, mengatakan, konsep kolaborasi sengaja dipilih agar berbagai komunitas seni di Blora bisa mendapat ruang untuk tampil bersama.
Selain dapat melestarikan kesenian tradisional yang ada, festival ini juga diharapkan mampu menjadi magnet wisatawan untuk datang ke Blora.
Salah satunya ke Goa Terawang Ecopark yang memang dikonsep sebagai ruang bagi masyarakat untuk menikmati pertunjukan seni di lingkungan alam terbuka.
