Festival Asmat Pokman 2026, Lelang Seni Ukir dan Anyaman Hasilkan Rp3,4 Miliar

4 Min Read
Suasana Festival Asmat Pokman 2026. (Foto: RRI)

Mabur.co – Festival Asmat Pokman (FAP) yang merupakan festival budaya Suku Asmat Papua resmi ditutup akhir pekan ini. 

Yang menarik, selama 3 hari penyelenggaraan, festival ini mampu menghasilkan transaksi karya seni hingga mencapai Rp3,405 miliar lebih.

Nilai itu didapat dari hasil lelang sebanyak 213 karya seni ukir dan 83 karya seni anyaman yang dipamerkan dalam festival tahunan edisi ke-38 ini. 

Dilansir dari Seputar Papua, Senin (12/10/2026), Festival Asmat Pokman 2026 berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 bertempat di Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Tahun ini, festival mengusung tema “Mengukir Warisan Asmat, Merajut Ekonomi Kreatif” yang menitikberatkan pada pelestarian seni ukir sebagai identitas masyarakat Asmat.

Lestarikan Warisan Seni Ukir Tradisional Asmat

Digelar pemerintah setempat untuk melestarikan warisan seni ukir tradisional Asmat, festival ini diisi berbagai kegiatan.  

Mulai dari pameran, eksibisi mengukir, kegiatan edukasi, pariwisata, serta stan usaha UMKM hingga lelang produk seni ukir maupun anyaman. 

Sebelum festival digelar, panitia sendiri telah mengadakan seleksi karya ukir dan anyaman di sembilan titik di Kabupaten Asmat pada Agustus 2026. Hasilnya, sebanyak 219 pengukir dan 86 penganyam dinyatakan lolos seleksi.

Salah satu transaksi yang mencuri perhatian dalam festival ini adalah penjualan ukiran karya Rahel Yuwutakaim seharga Rp38 juta. Rahel merupakan seniman asal Kampung Yasiuw, Distrik Atsj, Kabupaten Asmat.

Karya tersebut dibeli anggota DPD RI dari Papua Selatan, Rudy Tirtayana. Ia mengaku tertarik dengan teknik pengerjaan ukiran yang memiliki detail pada kedua sisinya.

“Saya senang, kebetulan ukiran tadi luar biasa karena memiliki dua sisi. Artinya, seorang pengukir memiliki keahlian luar biasa hingga mampu mengukir secara bolak-balik. Itu sesuatu yang istimewa,” ujar Rudy.

Menurutnya, seni ukir merupakan kekayaan budaya masyarakat Asmat yang perlu diperkenalkan lebih luas, termasuk ke tingkat internasional.

“Ini yang perlu kita sampaikan ke dunia luar, bahwa Asmat memiliki salah satu aset paling penting, yaitu budayanya,” katanya.

Selain lelang, salah satu kegiatan yang juga menarik perhatian adalah peragaan pembuatan ukiran Pohon Kehidupan oleh para wowipits atau pengukir Asmat.

Kurator Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, John Ohoiwirin, mengatakan jumlah karya Pohon Kehidupan yang ditampilkan pada FAP 2026 ada sebanyak enam karya.

“Ini adalah pohon kehidupan, simbol akan terus hidupnya seni mengukir Suku Asmat,” ujar John.

Selain menjadi ruang pelestarian seni ukir, festival ini juga menjadi tempat bagi perempuan Asmat untuk menampilkan keterampilan menganyam mereka.

Potensi Ekonomi

Pasalnya seperti halnya seni ukir, seni anyaman tradisional juga menjadi bagian dari warisan budaya Suku Asmat yang memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan sebagai kerajinan lokal khas Papua.

Bupati Asmat, Thomas Eppe, sendiri menyambut baik festival ini. Ia menilai, kegiatan ini dapat membantu menggerakkan perekonomian daerah di tengah kondisi efisiensi anggaran maupun bencana kekeringan dan kebakaran hutan. 

“Seni ukir tidak boleh hilang. Ini adalah identitas budaya kita, jati diri kita. Karena itu semua pihak harus bersungguh-sungguh untuk menjaga, merawat, dan mewariskan kebudayaan Asmat ini kepada dunia,” ungkapnya. 

Selain menjadi upaya pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan dapat memperluas pasar bagi karya para pengukir dan penganyam Suku Asmat.

Dengan begitu pelestarian budaya tidak sekadar menjaga identitas masyarakat Asmat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para pelaku seni dan masyarakat adat. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar