Arkeolog Forensik Ungkap Praktik Manusia yang Dikorbankan untuk Raja Mesir Kuno Saat Meninggal

3 Min Read
Relief Mesir Kuno (Foto: historyhit.com)

Mabur.co – Sejumlah peneliti mengungkap fakta menarik tentang dugaan adanya praktik pengorbanan pengawal atau pelayan kerajaan ketika seorang raja Mesir Kuno meninggal.

Temuan itu muncul dalam pemeriksaan forensik terhadap tengkorak manusia yang ditemukan di kompleks pemakaman kerajaan di Abydos salah satu kota kuno tertua di Mesir.

Dilansir CNN, Kamis (8/10/2026), sisa-sisa tulang manusia tersebut pertama kali ditemukan dalam penggalian arkeolog Inggris Flinders Petrie pada 1920-an. Situs itu berasal dari sekitar 3000 Sebelum Masehi.

Baru-baru ini peneliti Roselyn A. Campbell dari Purdue University, Amerika Serikat, meneliti kembali 46 tengkorak yang masih tersimpan di Universitas Cambridge tersebut.

18 Tengkorak

Hasil pemeriksaan menunjukkan 18 tengkorak atau sekitar 39 persen memiliki trauma yang berpotensi menyebabkan kematian.

Menurut Campbell, sebagian luka berupa patah tulang pada tengkorak yang kemungkinan terjadi ketika korban masih hidup atau berada di sekitar waktu kematian.

“Luka-luka ini, dikombinasikan dengan konteks arkeologis, sangat menunjukkan bahwa setidaknya beberapa pengawal dibunuh dan kemudian dikuburkan di sekitar makam para penguasa ini,” kata Campbell dikutip CNN.

Pola patah tulang tersebut, menurut penelitian, kemungkinan disebabkan benturan benda datar dan lebar. Dimana cedera semacam ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, pendarahan internal, hingga kematian.

Dalam jurnal Frontiers in Environmental Archaeology yang diterbitkan 6 Oktober 2026, praktik pengorbanan pengikut dalam tradisi masyarakat Mesir kuno sendiri diyakini berkaitan dengan kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian.

Orang yang Dikorbankan Layani Penguasa di Alam Baka

Campbell menjelaskan, orang yang dikorbankan dapat dipercaya akan terus melayani penguasa mereka di alam baka. Meskipun pengorbanan juga dapat menjadi simbol kekuasaan seorang raja.

Melihat jumlah sampel penelitian yang sangat terbatas dan kondisi jenazah telah berubah setelah ribuan tahun, Campbell mengaku belum dapat memastikan apakah seluruh pengawal tersebut menjadi korban pengorbanan manusia.

Ia menduga sebagian mungkin meninggal secara alami. Selain itu ada pula kemungkinan sebagian lainnya meninggal melalui metode yang tidak meninggalkan jejak pada tulang, seperti sesak napas, atau cara lain.

Dugaan mengenai pengorbanan para pengawal sebenarnya sudah muncul sejak penggalian yang dilakukan Flinders Petrie.

Banyaknya makam yang ditemukan di sekitar kompleks pemakaman kerajaan membuat Petrie menduga adanya praktik pengorbanan pengikut. Ia kemudian mendokumentasikan sisa-sisa tersebut melalui foto dan catatan.

Namun, selama puluhan tahun, cara kematian para pengawal masih menjadi pertanyaan.

Bukti Sangat Terbatas

Katherine Slinger, dosen Arkeologi Mesir di University of Manchester yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan praktik tersebut memang telah lama diduga. Akan tetapi, bukti mengenai bagaimana para pengawal itu dibunuh sangat terbatas.

“Ini adalah pertama kalinya bukti forensik mendukung teori pengorbanan manusia ini dan membuktikan cara setidaknya beberapa individu ini dibunuh,” kata Slinger.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan agar temuan tersebut tidak ditafsirkan terlalu jauh.

Arkeolog forensik dari University of Exeter, Karl Harrison, mengatakan ilmu forensik dapat membantu mengidentifikasi pola cedera, tetapi belum tentu dapat menjelaskan secara utuh maksud atau motif masyarakat yang hidup ribuan tahun lalu.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar