Mabur.co– Kabupaten Kulon Progo menyimpan sejumlah bangunan cagar budaya yang belum banyak diketahui publik. Salah satunya adalah bangunan Eks Pengepul Nila Bulurejo.
Terletak di Dusun Ngento, Pengasih, bangunan cagar budaya ini tak hanya unik dari segi arsitektur, namun juga menyimpan sejarah panjang perkembangan wilayah pengasih yang terus berubah dari masa ke masa.
Dari keterangan yang ada, dikutip Rabu (8/7/2026), bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Bupati Kulon Progo sejak tahun 2016. Catatan sejarah menyebut bangunan ini diperkirakan pertama kali dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang berkuasa pada tahun 1877-1921.
Menurut sejumlah warga sekitar, awalnya bangunan ini difungsikan sebagai pesanggrahan atau tempat peristirahatan keluarga Sultan saat berkunjung ke wilayah Pengasih yang merupakan wilayah kekuasaan Keraton Kasultanan Yogyakarta.
Perpaduan Arsitektur Jawa dan Kolonial
Dari sisi arsitektur, bangunan berusia 1,5 abad lebih ini dibangun dengan memadukan corak tradisional Jawa serta kolonial yang unik.
Dari depan, bangunan ini nampak berbentuk persegi panjang. Atapnya berbentuk limasan dengan genteng yang terbuat dari tanah liat.
Fasad bangunan terlihat sederhana dengan deretan jendela kaca yang mengiasi sepanjang dinding atas bangunan. Di tengahnya terdapat satu buah pintu berbentuk kupu tarung yang dibuat dari bahan kayu.
Jika dinding bagian depan didominasi unsur kaca dan kayu, maka dinding bangunan di sisi barat dibuat dengan menggunakan bahan batu bata.
Sementara plafonnya dibuat menggunakan anyaman rotan, sedangkan lantainya tersusun dari batu alam atau biasa disebut tegel.
Salah satu hal yang paling menarik dari cagar budaya Eks Pengepul Nila Bulurejo ini adalah keberadaan sebuah kolam besar berbentuk bulat tepat di depan bangunan.
Kolam itu merupakan bekas tempat penampungan komoditas nila atau indigofera, pewarna alami yang dahulu menjadi salah satu hasil ekspor bernilai tinggi dari Hindia Belanda.

Berdasarkan sejumlah sumber resmi yang ada, setelah sempat menjadi pesanggrahan keluarga Sultan, sekitar tahun 1880-an bangunan ini beralih fungsi menjadi tempat penampungan Nila.
Kala itu, wilayah Pengasih memang menjadi kawasan sentra penghasil nila seiring dengan dibukanya perkebunan nila oleh perusahaan Belanda bekerja sama dengan pihak keraton.
Di kolam penampungan inilah daun nila ditampung dan diproses dengan cara direndam dan difermentasi sebelum akhirnya dikirim ke Semarang untuk diekspor ke Belanda.
Selain menjadi tempat peristirahatan maupun lokasi penampungan Nila, sekitar tahun 1931 bangunan ini juga pernah dimanfaatkan sebagai Kantor Kabupaten Pengasih. Dimana saat itu Kabupaten Kulon Progo masih terbagi atas dua kabupaten yakni Kabupaten Pengasih dan Kabupaten Adikarto.
Rintisan Museum
Di era modern ini, bangunan cagar budaya Eks Pengepul Nila Bulurejo dimanfaatkan sebagai rintisan museum yang menyimpan berbagai benda purbakala yang ditemukan di wilayah Kabupaten Kulon Progo.
Baik itu mulai dari masa prasejarah, masa klasik Hindu Buddha, hingga masa kolonial dan era kemerdekaan.
Sayangnya meski telah diajukan sebagai museum sejak beberapa tahun lalu, namun hingga saat ini harapan tersebut belum juga terwujud seiring belum keluarnya izin resmi pendirian musem dari pemerintah pusat.

