Sebelum Merdeka Indonesia Punya Bandara Tercanggih di Asia Tenggara

6 Min Read
Vintage propeller airplanes parked on the tarmac in front of Kemayoran International Airport terminal building.
Bandara Kemayoran difoto pada Juni 1972. (Foto: oldjets.net)

Mabur.co – Sejarah mencatat, lima tahun sebelum merdeka, Indonesia ternyata pernah memiliki bandara yang sangat megah dan canggih di zamannya.

Bandara itu bahkan disebut-sebut menjadi bandara dengan menara ATC pertama di Asia Tenggara. Bandara itu adalah Bandara Kemayoran, yang merupakan bandar udara internasional pertama di Indonesia.

Dikutip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Selasa (7/7/2026), Bandara Kemayoran mulai dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1934 dan resmi dibuka pada 8 Juli 1940.

Lapangan Terbang Internasional Pertama di Hindia Belanda

Sebagai lapangan terbang internasional pertama di Hindia Belanda, pada saat itu bandara Kemayoran merupakan gerbang utama penerbangan internasional menuju wilayah Nusantara.

Bandara yang dikelola oleh Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) itu memiliki fasilitas yang sangat modern untuk ukuran di zamannya. 

Bandara ini memiliki dua landasan pacu, terminal penumpang dengan gedung tingkat dua, hingga menara pengawas lalu lintas udara ATC canggih, serta hanggar perawatan pesawat yang luas.

Exterior view of Kemayoran International Airport terminal in 1976, with people walking on the tarmac and a red-and-white bus in the foreground.
Bandara Kemayoran (Foto: wikipedia.org)

Sementara itu, dikutip dari Pusat Pengelolaan Kompleks Kemayoran (PPK Kemayoran) di bawah Kementerian Sekretariat Negara, pesawat pertama yang mendarat di Bandara Kemayoran adalah Douglas DC-3 milik KNILM.

Pesawat tersebut terbang dari Lapangan Udara Tjililitan —kini Bandara Halim Perdanakusuma— dan mendarat di Kemayoran dua hari sebelum peresmian resmi pada 8 Juli 1940.

Sehari setelahnya, pesawat DC-3 lainnya menjadi penerbangan internasional pertama yang lepas landas dari Kemayoran menuju Australia.

Belum genap dua bulan beroperasi, Bandara Kemayoran langsung menjadi lokasi penyelenggaraan air show pertama di Indonesia.

PPK Kemayoran mencatat pertunjukan udara itu digelar pada 31 Agustus 1940, bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Belanda. Selain pesawat-pesawat KNILM, berbagai pesawat pribadi milik Aeroclub Batavia juga turut meramaikan acara.

Beberapa pesawat legendaris yang tampil saat itu antara lain Buckmeister Bu-131 Jungmann, de Havilland DH-82 Tiger Moth, Piper Cub, hingga Walraven W-2, pesawat yang pernah melakukan penerbangan Batavia-Amsterdam pada 1935.

Garuda Indonesian Airways jet taxiing on the tarmac with a control tower in the background.
Pesawat Douglas DC-9-32 PK-GNO milik Garuda Indonesia Airways terlihat di Bandara Kemayoran, 8 September 1982. (Foto: oldjets.net)

Selain menjadi Bandara Internasional pertama Indonesia, Bandara Kemayoran juga menjadi saksi bisu pergantian kekuasaan di Indonesia.

Saat Perang Asia Pasifik meletus pada 1942, bandara ini menjadi sasaran serangan udara Jepang. Sejumlah pesawat KNILM rusak akibat pengeboman sehingga sebagian armada dievakuasi ke Australia.

Ketika Jepang menguasai Indonesia pada 1942–1945, Bandara Kemayoran kemudian digunakan oleh militer Jepang. Pesawat tempur legendaris Mitsubishi A6M Zero menjadi pesawat pertama yang mendarat di sana pada masa pendudukan Negeri Sakura.

Setelah Jepang menyerah, giliran pasukan Sekutu memanfaatkan bandara tersebut. Di masa itu berbagai pesawat tempur seperti Supermarine Spitfire, P-51 Mustang, hingga B-25 Mitchell kerap kali memenuhi apron Bandara Kemayoran.

Pernah Menjadi Pusat Penerbangan Sipil

Memasuki era kemerdekaan, Bandara Kemayoran juga tercatat pernah menjadi pusat aktivitas penerbangan sipil di Indonesia.

PPK Kemayoran menyebut lahirnya Garuda Indonesian Airways ikut menandai masa kejayaan bandara ini. Berbagai pesawat modern berdatangan, mulai dari DC-4 Skymaster, DC-6, Lockheed Constellation, hingga pesawat buatan dalam negeri seperti NU-200 Sikumbang, Belalang, dan Kunang karya Nurtanio.

Tak hanya itu, Bandara Kemayoran juga pernah menjadi pintu masuk berbagai delegasi kepala negara dunia yang menghadiri Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 di era Presiden Soekarno.

Militer Indonesia pun turut memanfaatkan bandara ini. Pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, berbagai pesawat tempur seperti MiG-15, MiG-17, MiG-19, hingga pembom Ilyushin Il-28 pernah bermarkas di Kemayoran.

Memasuki dekade 1970-an, perkembangan dunia penerbangan membuat Bandara Kemayoran tak lagi mampu menampung pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747, DC-10, maupun Airbus.

Sehingga pada 10 Januari 1974, pemerintah Indonesia membuka Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara internasional pendamping. Setelah Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng mulai beroperasi, seluruh aktivitas penerbangan dipindahkan.

Berhenti Beroperasi

Bandara Kemayoran resmi menghentikan operasinya pada 31 Maret 1985. Pesawat DC-3 Dakota tercatat sebagai pesawat terakhir yang lepas landas dari bandara bersejarah tersebut.

Kini kawasan Bandara Kemayoran telah berubah menjadi Kompleks Kemayoran, Pekan Raya Jakarta (PRJ), kawasan permukiman, pusat bisnis, hingga lapangan golf.

Meski demikian, sejumlah bangunan bersejarah masih berdiri kokoh di kawasan ini. Di antaranya seperti bekas terminal penumpang, ruang tunggu, hingga menara pengawas lalu lintas udara atau ATC yang menjadi saksi bisu kejayaan Bandara Kemayoran di masanya.

Sebagai menara ATC pertama di Asia Tenggara, bangunan Menara ATC Kemayoran bahkan sudah ditetapkan menjadi cagar budaya berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 495 tahun 1993, dengan sebutan “Menara Kemayoran”. 

Sayangnya berdasarkan sejumlah sumber, kondisi menara ATC Kemayoran ini kondisinya saat ini nampak terlihat kurang terawat. Hal ini sangat disayangkan mengingat bangunan ini merupakan bangunan bersejarah bagi dunia penerbangan di Indonesia. 

Abandoned two-story lookout tower with a red-and-white checkerboard exterior in a overgrown, wooded area.
Bangunan bekas menara ATC Bandara Kemayoran (Foto: Republika)

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar