Berusia 140 Tahun, Istana Kayu Kesultanan Sumbawa Simpan Rahasia Nilai Islam 

4 Min Read
Traditional multi-tiered wooden house on stilts in a sunny garden, with a raised walkway and a lighthouse visible in the background.
Istana Dalam Loka peninggalan Kesultanan Sumbawa (Foto: Instagram)

Mabur.co – Tak banyak yang tahu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), ternyata menyimpan jejak sejarah Islam yang diwariskan Kesultanan Sumbawa sejak abad 17. 

Meski secara politik dan pemerintahan Kesultanan Sumbawa telah berakhir, jejak peradaban dan peninggalannya masih bisa disaksikan hingga saat ini.

Salah satu yang paling menarik adalah Istana Dalam Loka yang memiliki desain arsitektur unik serta dipenuhi simbol nilai-nilai Islam. 

Dibangun pada 1885 atau sekitar 140 tahun silam, Istana Dalam Loka hampir sepenuhnya dibangun dengan menggunakan struktur kayu.  

Rumah Panggung

Berbentuk rumah panggung, bangunan istana ini dahulu menjadi tempat tinggal raja Kesultanan Sumbawa sekaligus tempat bertakhta Sultan Muhammad Djaluddin III.

Dilansir dari situs kesultanansumbawa.id, Minggu (4/10/2026), keunikan istana ini adalah jumlah tiang-tiang dan anak tangganya yang dibuat dengan makna tertentu. 

Istana Dalam Loka memiliki 99 tiang kayu jati yang melambangkan Asmaul Husna, yakni 99 nama Allah SWT. Sementara 17 anak tangga yang menghubungkan bagian-bagian istana menyimbolkan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam.

Keunikan istana ini juga tercatat saat proses pembangunannya yang berlangsung selama sembilan bulan dan 10 hari. Durasi tersebut dimaknai menyerupai masa kehamilan seorang ibu hingga melahirkan anak.

Pada masa Kesultanan Sumbawa, Istana Dalam Loka menjadi bangunan utama dalam kompleks istana yang dikenal dengan nama Bala Rea.

Kompleks tersebut tidak hanya terdiri dari bangunan tempat Sultan tinggal. Berbagai bangunan pendukung juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga kesultanan, abdi dalem hingga kegiatan sehari-hari.

Di antaranya terdapat Bala Bulo yang menjadi tempat pertemuan putra mahkota dan koleganya. Ada pula Lawang Rare, gerbang agung yang mengharuskan setiap tamu menundukkan kepala ketika melewatinya sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan.

Kandang Kuda dan Lumbung Padi

Kompleks istana juga dilengkapi Pakatik Kemutar sebagai kandang kuda, Alang Aji sebagai lumbung penyimpan padi dari Uma Pamangan Sultan atau sawah bengkok, serta Alang Kemutar yang digunakan menyimpan hasil sawah kesultanan untuk kebutuhan pangan dan berbagai hajatan adat.

Untuk kebutuhan rumah tangga, terdapat Jambang Sasir sebagai tempat mencuci pakaian, piring dan perlengkapan lainnya. Sementara Bale Pamaning digunakan sebagai tempat mandi dan Sarumung Belo sebagai tempat buang hajat.

Kompleks istana ini juga dilengkapi Bala Datu Raja Muda yang merupakan istana putra mahkota serta Bale Bawa yang terdiri dari 17 ruangan untuk tempat beristirahat para abdi.

Jejak kompleks Kesultanan Sumbawa tersebut masih menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Tana Samawa hingga saat ini.

Cagar Budaya

Dengan keunikan arsitektur maupun sejarah yang dimiliki, Istana Dalam Loka secara resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Bupati Sumbawa Nomor 1316 Tahun 2022.

Guna melestarikan bangunan bersejarah ini, Pemerintah Kabupaten Sumbawa saat ini juga tengah menyiapkan rencana revitalisasi Istana Dalam Loka. 

Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari penguatan pelestarian cagar budaya sekaligus persiapan menuju pelaksanaan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2028.

Dilansir Antara, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot, menegaskan proses revitalisasi tidak hanya diarahkan sekadar untuk memperbaiki kondisi fisik bangunan. 

Namun juga tetap mempertahankan karakter, nilai sejarah dan keaslian Istana Dalam Loka sesuai prinsip pelestarian cagar budaya.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap seluruh tahapan revitalisasi dapat berjalan sesuai rencana guna menjaga warisan sejarah Islam Kesultanan Sumbawa bagi generasi mendatang.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar