Mengenal Batik Nitik, Batik Tertua di Keraton Yogyakarta 

4 Min Read
Close-up of a hand holding a small needle near brown embroidered floral pattern on white fabric, illustrating sewing detail
Batik nitik (Foto: Dok Pemkab Bantul)

Mabur.co – Menyandang predikat sebagai Kota Batik Dunia, Yogyakarta menyimpan beragam motif batik yang sarat akan nilai sejarah dan filosofi tinggi. 

Salah satunya adalah batik nitik. Batik ini bahkan disebut sebagai motif batik tertua yang berkembang di lingkungan keraton maupun masyarakat di Yogyakarta.

Batik yang memiliki ciri khas berupa susunan titik dan garis menyerupai kain tenun ini masih terus dilestarikan masyarakat di Dusun Trimulyo, Bantul, Yogyakarta. 

Bermula dari Meniru Kain Tenun India

Berdasarkan penelitian Aida Roihana Zuhro dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta berjudul “Tradisi Nitik: Karakteristik, Proses, dan Makna Batik Nitik Yogyakarta”, dikutip mabur.co, Minggu (4/10/2026) disebutkan, batik nitik awalnya dibuat untuk menggantikan kain mewah patola asal Gujarat, India.

Saat itu kain patola atau juga disebut cinde merupakan kain tenun mewah yang banyak digunakan bangsawan keraton untuk berbagai kegiatan upacara adat maupun ritual tertentu. 

Namun kain ini memiliki harga yang mahal dan tidak mudah diperoleh karena harus didatangkan langsung dari India.

Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya kain batik dengan ragam hias yang menyerupai kain cinde. Dari situlah batik nitik muncul. 

Tak heran batik nitik memiliki kedudukan khusus di lingkungan keraton. Batik nitik bahkan menjadi salah satu kain yang disukai raja serta kalangan bangsawan keraton untuk berbagai kegiatan. Termasuk busana penari Bedhaya Ketawang, tarian sakral di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Dibuat agar menyerupai pola kain tenunan, batik nitik didominasi motif berupa titik dan garis yang disusun secara teratur sehingga menghasilkan pola yang sekilas menyerupai persilangan benang pakan dan lungsi.

Salah satu ciri khas batik nitik terletak pada ragam hiasnya yang umumnya dibuat dengan motif gubahan tumbuh-tumbuhan atau flora.

Penelitian Aida menyebut, sekitar 60 motif nitik telah teridentifikasi dan seluruhnya memiliki karakter flora, tanpa ada satu pun motif fauna.

Person in a dark blue hijab sewing a beige-brown patterned fabric by hand, close to the fabric's edge on a sewing frame.
Seorang perajin tengah membuat batik nitik. (Foto: Dok Pemkab Bantul)

Filosofi di Balik Motif Nitik

Dibuat sebagai kain busana para bangsawan keraton, batik nitik menyimpan beragam filosofi dalam setiap motifnya. 

Motif nitik rengganis misalnya yang dikaitkan dengan Dewi Rengganis, tokoh perempuan dalam cerita wayang menak.

Motif ini dimaknai sebagai gambaran kecantikan, keluwesan dan ketangkasan seorang pemimpin perempuan.

Ada pula motif nitik jaya kirana yang memiliki bentuk persegi. Bagian tengahnya menggambarkan pancaran cahaya melalui susunan titik dan baris.

Kata “jaya” bermakna menang, perkasa dan beruntung, sedangkan “kirana” berarti bercahaya. Motif ini dimaknai sebagai gambaran kewenangan yang termasyhur atau kecemerlangan.

Sementara motif nitik kuncup kanthil menggambarkan kuncup bunga kanthil yang disusun mengarah ke empat penjuru dan dikelilingi ceceg.

Bunga kanthil kerap digunakan dalam sesaji maupun kegiatan ritual. Motif tersebut dimaknai sebagai gambaran keindahan bunga kanthil sekaligus harapan agar manusia senantiasa kemantil atau melekat pada sangkan paraning dumadi, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Proses Pembuatan yang Tidak Biasa

Salah satu hal yang juga membuat batik nitik berbeda dari batik tulis lainnya adalah teknik pembuatannya. 

Dalam prosesnya, kain yang akan dibuat menjadi batik nitik tidak diberi pola motif secara langsung. Pembatik biasanya hanya akan membuat garis bantu diagonal sebagai acuan dalam menyusun motif agar hasil akhirnya terlihat rapi dan menyerupai pola tenunan.

Canting yang digunakan dalam proses pembuatan batik nitik juga berbeda dengan canting pada umumnya. Canting ini disebut canting cawang di mana pada bagian ujungnya sengaja dibelah menjadi empat sehingga menghasilkan torehan malam berbentuk titik persegi atau belah ketupat.

Cara menggunakannya pun juga berbeda. Malam tidak digoreskan seperti pada batik tulis biasa, tetapi canting ditekan pada kain untuk menghasilkan titik demi titik.

Karena keunikan dan nilai sejarahnya, batik tulis nitik kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda asal Bantul Yogyakarta. 

Batik nitik juga merupakan satu-satunya batik yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai indikasi geografis Yogyakarta. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar