Dari Hajatan Kampung ke Panggung Dunia, Dangdut Goes to Unesco

3 Min Read
Nine-member band posing on a stage in matching white outfits with black trim; banner above reads 'Soneta Group' and subtitle 'The Sound of ...' as they sit and stand in a row.
Grup Dangdut Legendaris Indonesia: Soneta Group. (Foto Istimewa)

Mabur.co – Malam puncak Hari Kebudayaan Nasional pertama, 17 Oktober 2026, Taman Mini Indonesia Indah tidak diisi gamelan halus-halus. Panggung Berdaya digetarkan dentum gendang koplo.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, naik dengan kemeja safari, lalu mengumumkan: dangdut akan diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2027.

Musik dangdut bersiap melangkah ke panggung dunia.

Kementerian Kebudayaan resmi meluncurkan kampanye Dangdut Goes to UNESCO untuk mendorong musik khas Indonesia itu diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia pada 2027, tulis pagipaginews.com, dikutip mabur.co (18/10/2026).

Fadli Zon Ingin Dangdut Jadi Warisan Budaya Takbenda Dunia

Kampanye tersebut diluncurkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam malam puncak Panggung Berdaya, yang menutup rangkaian peringatan Hari Kebudayaan 2026 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu 17/10/2026, sambung media yang sama.

Fadli bilang: “Musik dangdut merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang perlu kita jaga dan kembangkan. Kita ingin dangdut menjadi Warisan Budaya Takbenda dunia yang diakui oleh UNESCO,” ujarnya dikutip pagipaginews.com dan juga harian mahkotanusantara.my.id.

Kenapa dangdut? Karena ia bukan impor murni. Sejak 1968, Rhoma Irama mencampur Melayu Deli, orkes India ala Ellya Khadam, rock, dan qasidah.

Nama dangdut sendiri dari bunyi gendang: dang-dut. Dulu dihina sebagai musik kampungan, kelas bawah, musik hajatan.

Tahun 1990-an, ormas pernah haramkan goyang. Tapi justru di hajatan itulah dangdut hidup. Hari ini, dangdut adalah industri.

Koplo dari Pantura, diskoplo dari Banyuwangi, dangdut elektro di TikTok dengan 3,5 miliar tagar #dangdut. Yang klasik pakai suling dan mandolin, yang koplo pakai kendang dobel kenceng.

Dari Panggung Hajatan Kampung ke Ruang Sidang di Paris

Netizen langsung pro kontra semalam. Kubu setuju: akhirnya musik rakyat diakui, setelah wayang (2003), keris (2005), batik (2009), dan gamelan (2021).

Kubu debat: dangdut mana yang diajukan? Dangdut Orkes Melayu asli atau dangdut koplo yang sudah campur Electronic Dance Music (EDM)? Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMDI) ikut mendampingi pemerintah menyusun dossier.

Sejarahnya panjang. Dangdut pernah jadi alat politik. Haji Rhoma membawanya ke dunia dakwah. Meggy Z nyanyi Jatuh Bangun.

Inul Daratista di 2003 digoyang ngebor sampai diboikot. Semua itu jejak hidup. Pemerintah juga barengan meluncurkan BUDAYA GO! 2026, kompetisi inovasi budaya dengan tema Inventing the Future from Indonesian Culture, untuk produk digital dan purwarupa berbasis budaya.

Seperti kata Pramoedya dalam novel Bumi Manusia: “Setidaknya kita sudah melawan!” Dangdut telah melawan selama 50 tahun dari pinggiran.

Jika lolos UNESCO 2027, ia tidak lagi musik pinggiran. Ia jadi jati diri urang kampung yang mendunia, dari panggung hajatan di Tegal, sampai ruang sidang di Paris.

TAGGED:
Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar